Oleh: Noura (Pemerhati Sosial dan Generasi)
Lebaran selalu punya magnetnya sendiri. Ia menarik manusia pulang, berkumpul, dan—di era modern—berwisata. Namun ketika ratusan ribu orang justru memadati kawasan yang sejatinya bukan destinasi wisata.
Sebanyak 143.126 orang mengunjungi Ibu Kota Nusantara (IKN) selama libur Idulfitri. Fasilitas ibadah, restoran, kafe, hingga tenda UMKM disiapkan rapi. Aktivitas pun dirancang agar “menyenangkan dan informatif”. Sekilas ini tampak seperti keberhasilan. Tapi jika ditelisik lebih dalam, justru memunculkan keganjilan arah.
Antara Fungsi dan Pencitraan
IKN sejak awal digagas sebagai pusat pemerintahan. Ia bukan taman rekreasi, bukan pula ruang pelarian dari penatnya rutinitas. Namun realitas di lapangan menunjukkan pergeseran fungsi: dari simbol kekuasaan administratif menjadi panggung publik yang dipoles agar tampak hidup.
Fenomena ini sulit dilepaskan dari kebutuhan legitimasi. Ketika proyek besar membutuhkan dukungan publik, maka cara paling cepat adalah menghadirkan “keramaian”. Keramaian sering kali diterjemahkan sebagai tanda keberhasilan, meski substansi belum tentu kuat.
Di titik ini, pembangunan kehilangan ruhnya. Ia tak lagi berorientasi pada fungsi strategis jangka panjang, melainkan pada impresi sesaat. Dari kota politik menjadi objek wisata—sebuah transformasi yang bukan direncanakan, tetapi dipaksakan oleh kebutuhan citra.
Di sisi lain, antusiasme masyarakat juga tidak bisa diabaikan. Ini bukan sekadar soal penasaran melihat ibu kota baru. Lebih dalam dari itu, ada kelelahan kolektif yang mencari pelarian.
Dalam sistem kehidupan hari ini, tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan ketimpangan sosial menjadi latar yang terus menggerus ketenangan. Hiburan lalu menjadi semacam “pelampiasan”—meski sifatnya sementara.
Kapitalisme memahami ini dengan sangat baik. Ia tidak menyelesaikan akar masalah, tetapi menyediakan pelarian. Bahkan proyek negara pun bisa dikemas menjadi komoditas hiburan.
Padahal, ketika hiburan menjadi kebutuhan primer, itu justru tanda ada yang tidak beres dalam sistem kehidupan.
Masalah yang Tersisa di Balik Ramainya Kunjungan
Di balik keramaian tersebut, persoalan mendasar IKN belum selesai. Isu lingkungan, seperti deforestasi dan perubahan ekosistem, masih menjadi kekhawatiran. Persoalan sosial—dari relokasi masyarakat hingga dampak ekonomi lokal—juga belum sepenuhnya terjawab.
Namun hal-hal ini tenggelam oleh narasi “ramai pengunjung”. Seolah-olah angka kunjungan bisa menggantikan kualitas pembangunan.
Di sinilah problem mendasar itu tampak: ukuran keberhasilan dipindahkan dari manfaat riil menjadi persepsi publik.
Islam: Wisata, Hiburan, dan Tujuan Kehidupan
Islam tidak menolak hiburan. Ia mengakui bahwa manusia membutuhkan kesenangan. Namun Islam memberikan batas sekaligus arah: hiburan bukan tujuan, melainkan sarana.
Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf: 32)
Ayat ini menegaskan bahwa menikmati keindahan dan kesenangan adalah fitrah yang dibolehkan. Namun Islam juga mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam kehidupan yang hanya berorientasi pada kesenangan: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau...” (QS. Al-Hadid: 20)
Artinya, hiburan dalam Islam bersifat proporsional. Ia tidak boleh mengalihkan manusia dari tujuan utama kehidupan: beribadah kepada Allah dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.
Dalam konteks ini, menjadikan proyek strategis negara sebagai objek hiburan massal justru menunjukkan kaburnya orientasi. Negara seharusnya hadir untuk mengurus urusan rakyat, bukan menyediakan distraksi.
Teladan Khilafah: Serius dalam Pembangunan, Jelas dalam Arah
Sejarah Islam memberikan gambaran yang kontras. Ketika kekhilafahan memindahkan atau membangun pusat pemerintahan, orientasinya sangat jelas: efektivitas pengelolaan negara dan kemaslahatan umat.
Kota Baghdad pada masa Kekhilafahan Abbasiyah dibangun bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk menjadi pusat administrasi, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Begitu pula ketika Salahuddin Al-Ayyubi mengokohkan Kairo sebagai pusat kekuasaan—fokusnya adalah stabilitas politik dan kekuatan umat, bukan daya tarik wisata.
Tidak ada upaya “mempromosikan” ibu kota agar terlihat ramai. Karena legitimasi kekuasaan dalam Islam tidak dibangun dari keramaian, tetapi dari keadilan dan pelayanan.
Rasulullah ï·º bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi fondasi bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan proyek pencitraan.
Jadi, Ini Soal Arah
Fenomena IKN saat Lebaran ini sebenarnya bukan cuma soal liburan. Ini tentang arah—arah pembangunan, dan juga arah cara kita memandang hidup.
Kalau ibu kota saja bisa bergeser jadi tempat hiburan, dan kita pun ikut larut tanpa banyak bertanya, mungkin memang ada yang perlu kita luruskan.
Wallahu'alam bishawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar