Oleh : Radimatulsuma.S.Pd (Aktivis Muslimah)
Belakangan ini, hati kita dibuat perih oleh rentetan berita kriminal yang melibatkan anak muda. Bukan lagi sekadar tawuran, tapi sudah masuk ke lingkaran hitam narkoba. Di Bima, NTB, seorang pemuda (SH) dan seorang pelajar (KF) tertangkap polisi karena hendak mengedarkan sabu yang dikubur di samping rumah. Tak berselang lama, di Kendari, seorang pelajar berinisial HS (19) juga diringkus dengan puluhan paket sabu di tangannya.
Parahnya hal ini juga terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia dari kota besar hingga ke pelosok terpencil. Baik pelajar putra ataupun putri, sudah masuk dalam jeratan narkoba. Bukan hanya sebagai pemakai tetapi juga menjadi pengedarnya. Bak lingkaran setan, kejahatan yang akan mengakibatkan kejahatan yang baru. Tak sedikit perkara narkoba yang terjerumus pada kehidupan pergaulan bebas.
Melihat fakta ini, tentunya menjadi pertanyaan. Ada apa dengan sebagian generasi muda saat ini. Mengapa masa yang harusnya diisi dengan hal positif untuk mencapai cita-cita harus diisi dengan hal yang negatif ?
Jawabannya hanya satu, karena saat ini kita hidup dalam sistem Sekularisme, yaitu sebuah prinsip yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan sehari-hari. Dalam sistem ini, agama hanya diletakkan di ruang sempit. Termasuk dalam kurikulum pendidikan, agama sebatas materi pelajaran di sekolah. Ilmu yang hanya ditransfer sebagai pelajaran bukan sebagai bekal dalam menalani kehidupan ini.
Ketika agama tidak lagi menjadi standar dalam berbuat (halal-haram), nilai-nilai spiritual kehilangan taringnya. Agama hanya dianggap sebagai formalitas di kelas yang tidak menyentuh hati. Akibatnya pelajar kehilangan jati diri mereka yang sebenarnya adalah seorang hamba dimana kelak semua perbuatan mereka akan dimintai pertanggung jawaban. Menyedihkan bahwa lingkungan di luar sekolah pun sama, agama lepas dari kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan sekularisme, sistem Kapitalisme turut membentuk pola pikir generasi kita. Dalam kacamata kapitalisme, kesuksesan diukur dari materi, kekayaan, dan kesenangan fisik semata (hedonisme). Anak muda hari ini terus digempur oleh gaya hidup mewah di media sosial. Ketika mereka tidak memiliki akses ekonomi yang memadai namun tuntutan gaya hidup terus meningkat, muncul dorongan untuk mencari "jalan pintas".
Menjadi pengedar sabu akhirnya dianggap sebagai solusi instan untuk mendapatkan uang banyak dan pengakuan sosial, tanpa memedulikan kerusakan akal dan masa depan. Oleh karena itu keterlibatan pelajar dalam peredaran narkoba bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari kebobrokan sistem yang di terapkan saat ini.
Maka dari itu, kita butuh solusi yang tidak hanya menyentuh permukaan, tapi masuk hingga ke akarnya. Dalam pandangan Islam, menjaga generasi memerlukan sinergi dari berbagai pihak.
Pertama, Sistem Pendidikan yang berlandaskan Akidah: Pendidikan Islam bukan sekadar hafalan, tapi membentuk pribadi yang sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah. Tujuannya jelas: mencetak generasi yang shaleh (baik secara pribadi), muslih (mampu memperbaiki lingkungan), dan memiliki kepribadian Islam yang kuat.
Kedua, Benteng utama di Keluarga: Orang tua adalah guru pertama. Pendampingan yang tulus dan penanaman dasar-dasar keislaman sejak dini adalah kunci. Bukan hanya melarang, tapi memberikan teladan nyata agar anak memiliki figur yang bisa dicontoh.
Ketiga, Lingkungan Masyarakat yang Peduli: Kita tidak bisa egois. Masyarakat punya peran besar untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. Budaya amar makruf nahi munkar (saling menasihati dalam kebaikan) harus dihidupkan kembali agar pergaulan bebas dan barang haram tidak punya ruang untuk tumbuh.
Keempat, Tindakan Tegas Negara: Terakhir, negara harus hadir dengan sanksi hukum yang tegas. Hukum dalam Islam bersifat jawabir (penebus dosa) dan zawajir (pencegah). Sanksi yang berat bagi pembuat dan pengedar akan memberikan efek jera yang nyata, sehingga orang lain akan berpikir seribu kali untuk melakukan hal serupa.
Semua itu dapat terwujud hanya ketika menjadikan Islam sebagai dasar dalam bernegara. Melaksanakan Islam secara kaffah, bukan hanya kaum muslim tersemalatkan tetapi juga seluruh umat manusia. Islam akan menjadi rahmatan lil’alamin. Mari kita selamatkan generasi bangsa ini dengan kembali kepada sistem yang benar-benar memuliakan akal dan menjaga kemanusiaan. Wallahu alam bisshawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar