Oleh : Sylvi Raini
Kasus penyalahgunaan narkoba kembali melibatkan anak muda dan bahkan pelajar di beberapa daerah di Indonesia. Dikutip oleh Detikcom dan SuaraSultra, aparat kepolisian berhasil mengungkap peredaran sabu yang melibatkan remaja dan pengangguran.
Di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, polisi menangkap dua orang berinisial SH (26) dan KF. SH diketahui tidak memiliki pekerjaan, sedangkan KF masih berstatus sebagai pelajar. Keduanya diduga hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan dengan cara dikubur di dalam tanah di samping rumah. Polisi menemukan barang bukti tersebut saat melakukan penangkapan, sementara pemasok atau bandar utama masih dalam pengejaran.
Sementara itu, kasus serupa juga terjadi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Seorang pelajar berinisial HS (19) ditangkap oleh tim Satresnarkoba Polresta Kendari. Dari hasil penangkapan, polisi menemukan puluhan paket sabu yang disimpan di beberapa lokasi berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku sudah melakukan upaya penyebaran barang secara terstruktur meskipun masih berusia muda.
Dari dua kasus tersebut, terlihat bahwa peredaran narkoba tidak hanya melibatkan orang dewasa, tetapi juga sudah menyasar kalangan pelajar. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan adanya kerentanan generasi muda terhadap pengaruh lingkungan dan jaringan peredaran narkoba. Selain itu, faktor seperti tidak memiliki pekerjaan dan kurangnya pengawasan juga dapat menjadi pemicu keterlibatan dalam aktivitas ilegal tersebut.
Sistem Kapitalisme : Membuka Peluang Bisnis Haram
Kasus pelajar yang menjadi pengedar sabu tidak bisa lagi dilihat sebagai sekadar kenakalan remaja atau kesalahan individu. Ini adalah gejala dari sistem yang lebih besar yang sedang bermasalah. Dalam sistem kapitalisme yang cenderung liberal, ukuran utama keberhasilan adalah keuntungan. Apa pun yang menghasilkan uang akan selalu punya tempat, bahkan ketika itu merusak manusia.
Di titik ini, narkoba bukan sekadar barang terlarang, tetapi sudah menjadi komoditas dalam pasar gelap yang sangat menguntungkan. Laporan dari United Nations Office on Drugs and Crime menegaskan bahwa perdagangan narkoba adalah salah satu bisnis ilegal terbesar di dunia. Ini berarti peredaran narkoba bukan sesuatu yang kecil atau kebetulan, tetapi bagian dari mekanisme ekonomi yang terus bergerak karena ada permintaan dan keuntungan besar di dalamnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, sistem seperti ini secara tidak langsung menciptakan ruang yang “membiarkan” praktik tersebut terus hidup. Selama keuntungan menjadi pusat, nilai moral sering kali terdorong ke pinggir. Pelajar tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan bahwa uang adalah ukuran utama, tetapi tidak semua diberi jalan yang adil untuk mencapainya. Akibatnya, jalan pintas menjadi pilihan yang terlihat masuk akal, meskipun sebenarnya menghancurkan.
Di sinilah letak kerasnya kritik terhadap sistem yang terterapkan saat ini, Sistem tidak secara terang-terangan melegalkan narkoba, tetapi menciptakan kondisi yang membuatnya terus berkembang. Ada permintaan, ada keuntungan, ada celah dan sistem tidak cukup kuat untuk menutupnya. Bahkan, dalam beberapa kasus, yang terjadi justru sebaliknya pelaku kecil seperti pelajar yang ditangkap, sementara jaringan besar tetap berjalan di belakang.
Data dari Badan Narkotika Nasional menunjukkan bahwa remaja terlibat narkoba karena faktor ekonomi dan lingkungan. Tapi pertanyaannya lebih dalam, mengapa tekanan ekonomi itu ada sejak usia pelajar? Mengapa lingkungan bisa sedemikian mudah mendorong ke arah yang salah? Di sini terlihat bahwa masalahnya bukan hanya di individu, tetapi pada struktur yang membentuk cara hidup itu sendiri.
Akhirnya, pelajar menjadi korban sekaligus pelaku dalam sistem yang menempatkan keuntungan di atas segalanya. Mereka yang belum kuat secara mental dan moral menjadi titik paling lemah yang mudah dimasuki. Selama sistem masih membiarkan logika keuntungan tanpa batas ini berjalan, maka narkoba akan selalu menemukan pasar, dan pelajar akan terus menjadi target yang paling mudah.
Perlindungan Generasi dalam Islam
Sebagai jalan keluar dari masalah ini, tidak cukup hanya menyalahkan pelajar atau lingkungan saja. Harus ada perbaikan dari dasar: pendidikan, keluarga, masyarakat, dan juga negara.
Pertama, dari sisi pendidikan. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar nilai, tapi harus membentuk pribadi yang kuat. Dalam Islam, tujuan hidup manusia sudah jelas, yaitu beribadah kepada Allah. Allah berfirman: 'Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat: 56). Artinya, sejak awal pelajar harus dibentuk dengan kesadaran ini, supaya tidak mudah tergoda hal-hal yang merusak seperti narkoba.
Kedua, peran keluarga. Orang tua punya tanggung jawab besar dalam mendidik anak. Bukan hanya memberi makan dan sekolah, tapi juga menanamkan nilai agama dan memberi contoh yang baik. Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6). Ini menunjukkan bahwa orang tua tidak boleh lepas tangan. Kalau anak salah jalan, sering kali karena kurangnya pendampingan dari rumah.
Ketiga, peran masyarakat. Lingkungan sangat berpengaruh. Kalau lingkungan membiarkan keburukan, maka keburukan itu akan dianggap biasa. Dalam Islam ada perintah untuk saling mengingatkan: "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar" (QS. Ali Imran: 110). Artinya, masyarakat tidak boleh diam. Harus ada kepedulian untuk menjaga generasi.
Keempat, peran negara. Negara wajib hadir dan tidak boleh lemah. Hukum harus ditegakkan dengan tegas, bukan hanya kepada pelaku kecil, tapi juga sampai ke jaringan besar. Rasulullah bersabda "Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya" (HR. Bukhari dan Muslim). Ini berarti negara punya kewajiban menjaga masyarakat, termasuk melindungi generasi muda dari narkoba.
Jadi, solusi dari masalah ini tidak bisa setengah-setengah. Harus ada pendidikan yang benar, keluarga yang kuat, masyarakat yang peduli, dan negara yang tegas. Dan keempat elemen tersebut mustahil jika diterapkan menggunakan sistem kapitalisme/Liberalisme. Islam sebagai mabda (ideologi) dimana memiliki seperangkat aturan sistem, mampu untuk menyatukan keempa elemen tersebut dalam bingkai daulah (negara) islam.
Wallahu’alam bishowab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar