Oleh: Wulan Safariyah (Aktifis Dakwah)
Kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial, serta setiap masyarakat dapat hidup layak, aman, dan makmur. Namun kebanyakan masyarakat saat ini jauh dari kata sejahtera.
Data terbaru menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah Kaltim, seperti di kabupaten Paser mengalami penurunan angka kemiskinan, terlihat dari angka statistik yang ada. Rata-rata pengeluaran masyarakat Paser tercatat terendah di Kalimantan Timur.
Dari data BPS tahun 2025 yang dirilis Maret 2026 mencatat bahwa rata-rata pengeluaran perkapita masyarakat Kabupaten Paser berada di angka terendah se-Kalimantan Timur, yaitu sekitar Rp1,7 juta perbulan. Angka ini jauh di bawah rata-rata provinsi yang mencapai Rp2,1 juta per bulan, bahkan terpaut cukup jauh dengan Kota Bontang yang mencapai Rp2,6 juta perbulan. (www.instagram.com)
Yang menjadi pertanyaan ditengah masyarakat, benarkah kesejahteraan itu sudah dirasakan masyarakat? Apakah cukup mengukur masyarakat sejahtera hanya dengan perubahan angka statistik?
Realita di Balik Angka Rendah
Pada realitanya, angka statistik ini seringkali disalah artikan. Banyak yang beranggapan bahwa pengeluaran yang rendah menandakan masyarakat hidup hemat dan sederhana. Padahal, realitanya sangat berbeda. Pengeluaran yang rendah justru menjadi indikator nyata bahwa daya beli masyarakat masih sangat terbatas. Hal ini terjadi lantaran tingkat pendapatan yang rendah dan minimnya peluang ekonomi yang terbuka lebar bagi masyarakat.
Selain itu, sering kali dijumpai persoalan ketidaktepatan data, warga miskin tidak terdata, sementara yang kondisi ekonominya membaik justru tercatat sebagai penerima bantuan.
Disisi lain, pembangunan yang belum merata turut menjadi penyebab utama. Akses ekonomi yang sulit, ketersediaan lapangan kerja yang terbatas, serta infrastruktur transportasi yang belum optimal membuat masyarakat memiliki pilihan belanja yang sedikit dan daya konsumsi yang menurun.
Paradigma Sistem Kapitalisme Sekuler
Fenomena ini adalah cerminan bahwa ketidaksejahteraan, keterbatasan, dan kemiskinan masih menjadi masalah yang terus berulang. Ironisnya, kondisi ini adalah "penyakit" yang melekat pada sistem ekonomi kapitalisme sekuler yang dianut saat ini.
Perbedaan paradigma dalam memandang kemiskinan juga berpengaruh. Sistem ekonomi kapitalisme mengukur kemiskinan berbasis rata-rata pendapatan per kapita, bukan pada pemenuhan kebutuhan individu secara riil. Akibatnya, angka terlihat menurun, tetapi daya beli masyarakat justru melemah karena harga-harga kebutuhan pokok meningkat dan lapangan pekerjaan berkurang.
Kaltim, terkenal kaya akan sumber daya alam dan energinya, serta menjadi kawasan industri strategis. Namun, dalam sistem kapitalisme sekuler, kekayaan tersebut tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan merata bagi masyarakat.
Dalam sistem kapitalisme sekuler, kekayaan cenderung hanya terakumulasi dan terdistribusi pada kalangan elite tertentu. Akibatnya, kesenjangan sosial yang lebar antara yang kaya dan miskin menjadi hal yang tak terelakkan dan sulit diberantas, karena memang demikianlah karakteristik sistem tersebut.
Oleh karena itu selama sistem kapitalisme masih diterapkan, maka kesejahteraan bagi masyarakat hanyalah ilusi. Yang kaya justru semakin sejahtera, sementara yang miskin semakin jauh dari kata sejahtera. Agar kehidupan masyarakat dapat benar-benar sejahtera, maka butuh sistem lain untuk menggantikan sistem kapitalisme. Sistem yang memiliki perangkat dan mekanisme tertentu untuk bisa mewujudkan kesejahteraan secara nyata, bukan sekedar perubahan angka statistik.
Islam Mewujudkan Kesejahteraan
Lantas, bagaimana kesejahteraan setiap individu dapat terwujud? Islam hadir memberikan solusi yang jauh berbeda. Dalam Islam, tingkat kesejahteraan tidak diukur semata-mata dari rata-rata pengeluaran atau angka statistik semata. Islam memastikan bahwa setiap individu bukan hanya secara kolektif mendapatkan pemenuhan hajat hidup yang layak dan terjamin.
Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu. Seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara layak. Negara juga memastikan rakyatnya dapat mengakses kegiatan ekonomi dengan mudah, mulai dari ketersediaan lapangan pekerjaan hingga infrastruktur yang memadai.
Lebih dari itu, Islam menerapkan sistem ekonomi di mana sumber pemasukan negara didapat dan didistribusikan secara adil. Sistem ini dirancang khusus agar kekayaan tidak berputar hanya di kalangan tertentu, melainkan benar-benar dirasakan manfaatnya untuk kesejahteraan seluruh rakyat.
Sejarah peradaban Islam mencatat masa-masa ketika kesejahteraan merata hingga sulit menemukan penerima zakat. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah keniscayaan, melainkan persoalan sistem dan tata kelola.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, maka dibutuhkan perubahan paradigma mendasar, dari sekadar melihat pertumbuhan angka menuju pada sistem yang memastikan kebutuhan setiap individu terpenuhi. Islam menawarkan solusi komprehensif untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan yang hakiki.
Wallahu 'alam bishawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar