Oleh : Sri Setyowati (Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)
Hari raya Idul Fitri adalah momen yang ditunggu-tunggu setiap Muslim dengan penuh sukacita. Namun, tidak demikian dengan warga Gaza. Setiap tahun Idul Fitri dirayakan dengan suasana yang memprihatinkan di antara reruntuhan gedung maupun infrastruktur lainnya. Kekurangan pangan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar sejenisnya. Yang lebih menyakitkan, tahun ini warga Gaza dilarang salat Idul Fitri di masjid Al-Aqsa dengan alasan pembatasan keamanan karena perang Iran.
Kantor Media Pemerintah Gaza melansir sejak Oktober 2025 pasukan Zionis Yahudi telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Penembakan, serbuan darat, dan serangan udara telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 lainnya yang sebagian besar adalah warga sipil. (minanews.net)
Penutupan masjid Al-Aqsa adalah upaya untuk membatasi kaum muslim beribadah di tempat peribadatannya sendiri. Warga Gaza pun terpaksa melaksanakan ibadah di jalan-jalan sekitar masjid. Penutupan masjid dengan alasan keamanan terkait konflik Zionis Yahudi dan Iran adalah alasan yang tidak berdasar. Ini adalah upaya sistematis menguasai masjid Al-Aqsa untuk diubah simbol keislamannya.
Saat ini semua mata dunia hanya tertuju pada perang Amerika Serikat -Zionis Yahudi yang menyerang Iran. Tidak ada media yang melewatkan berita perang negara tersebut hingga berita Gaza seolah tenggelam. Padahal rakyat Gaza masih menderita dan terus dibombardir oleh Zionis Yahudi meskipun sudah disepakati perjanjian gencatan senjata. Lebih ironis, negara-negara Arab yang kebanyakan berpenduduk muslim tidak mempedulikan saudaranya di Gaza yang mengalami genosida. Seharusnya umat Islam bagaikan satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh juga akan merasakan sakit. Demikian juga jika satu muslim tersakiti, maka muslim yang lain akan merasakan juga.
Ironisnya, negara-negara Arab justru bergabung dengan negara kafir penjajah dan membiarkan kezaliman pada saudara seiman terjadi di depan mata seperti yang dialami rakyat Gaza dan lainnya. Konsep negara telah memisahkan Muslim yang satu dengan lainnya. Urusan Muslim suatu negara bukan menjadi urusan Muslim lainnya.
Penyerangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran membuktikan bahwa AS adalah negara agresor. Board of Peace bentukan Trump hanyalah akal-akalan untuk menguasai negara lain termasuk Gaza. Bagaimana mungkin negara agresor menciptakan perdamaian, yang ada hanya untuk menguatkan hegemoninya atas negara lain.
Gaza dan negeri-negeri yang terjajah lainnya hanya bisa merayakan Idul Fitri tanpa duka jika telah terbebas penjajahan. Penjajah hanya bisa diusir ketika kepemimpinan Islam ditegakkan dalam negara Khilafah. Khalifah sebagai pemimpin tertinggi akan menjadi perisai bagi kaum muslim.
Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh imam (khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya." (HR Muslim).
Solidaritas kemanusiaan saja tidak cukup untuk membebaskan Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya dari penjajahan. Umat harus disadarkan bahwa persatuan hakiki adalah dibawah naungan Khilafah yang harus segera diwujudkan. Khalifah akan memberi komando jihad fi sabilillah untuk membebaskan Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya dari penjajahan. Dengan begitu, tidak ada duka lagi dalam merayakan Idul Fitri di Palestina dan negeri-negeri lainnnya yang terjajah.
Seluruh syariat Islam juga akan bisa diterapkan jika Khilafah tegak hingga keadilan akan terwujud dan tidak ada lagi penjajahan atas seluruh umat muslim.
Wallahu a'lam bishshawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar