KHUTBAH JUM'AT : CARA ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUAL



KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ۝٣٢ (اَلْإِسْرَاءُ) 
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Subhanahu wataala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kerusakan besar tidak muncul tiba-tiba, tetapi berawal dari hal kecil yang diabaikan hingga batas benar dan salah kabur, rasa malu memudar, dan amanah ditinggalkan. Dampaknya kini nyata: kejahatan seksual marak di lingkungan pendidikan, dari kampus hingga sekolah dan pesantren, dengan pelaku mulai dari mahasiswa hingga guru, kepala sekolah, bahkan guru besar dan pengelola pondok, menunjukkan tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Data 2025 mencatat 6.767 kasus dengan 5.832 korban perempuan; di ranah digital meningkat dari 940 kasus (2020) menjadi 1.846 kasus (2025). Di satuan pendidikan, kekerasan seksual mendominasi 57,65%, melampaui perundungan (22,31%) dan kekerasan fisik (18,89%). Lebih memilukan, pelaku sering orang terdekat, termasuk keluarga sendiri, hingga menyebabkan korban hamilperingatan serius bahwa kerusakan moral telah meluas dan menuntut perbaikan bersama.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Selama akar persoalan tidak disentuh, upaya yang ada hanya menjadi solusi semu. Hal ini terlihat pada maraknya kekerasan seksual di tanah air; negara dinilai belum mampu melindungi warga meski telah ada UU No. 12 Tahun 2022 (UU TPKS). Faktanya, kasus terus terjadi, sanksi masih diperdebatkandari kebiri hingga alasan HAMdan hukuman penjara dinilai ringan, rata-rata sekitar 87 bulan (7 tahun 3 bulan) untuk pemerkosaan, menunjukkan pendekatan yang masih kuratif dan belum memberi efek jera. 
Akar masalahnya adalah cara pandang yang merendahkan perempuan sebagai objek pemuas nafsu dalam ideologi kapitalisme-sekuler, yang diperkuat media dan tingginya akses pornografi, bahkan mendorong sebagian perempuan mengeksploitasi diri dengan narasi my body is my right, sehingga kekerasan seksual terus meningkat dan korban pun semakin banyak.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Solusi yang tuntas tidak hanya menghukum akibat, tetapi juga menutup seluruh pintu yang mengarah kepada kerusakan sejak dari akarnya. 
Pertama, Islam sebagai sebuah ideologi memberikan solusi yang menyeluruh terhadap kejahatan seksual, mulai dari aspek preventif hingga kuratif, dengan menjadikan iman dan takwa sebagai fondasi utama dalam interaksi pria dan wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
”Kaum Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar” (QS. at-Taubah [9]: 71).
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
اِتَّقُوا اللهَ فِـي النِّسَـاءِ
”Bertakwalah pada Allah dalam urusan kaum perempuan...” (HR Muslim). Serta sabdanya :
إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ
”Perempuan itu saudara kandung laki-laki” (HR Abu Dawud).
Dengan landasan ini, pria dan wanita menjaga kehormatan diri, dan tidak ada ruang bagi pornografi karena diharamkan serta merusak interaksi.
Kedua, Islam juga menetapkan aturan preventif yang jelas dalam menjaga interaksi, yaitu kewajiban menutup aurat dan menjaga pandangan bagi laki-laki dan perempuan. Allah Subhanahu wataala berfirman:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ
”Katakanlah kepada kaum Mukmin, ”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa saja yang mereka perbuat. (QS. an-Nûr [24]: 30).
Aturan ini bukan untuk mendiskreditkan perempuan, tetapi untuk menjaga kemuliaan dan mencegah timbulnya kejahatan. 
Ketiga, Islam melarang segala bentuk interaksi yang membuka peluang maksiat seperti khalwat (berdua-duaan pria-wanita tanpa mahram), pergaulan bebas, serta aktivitas yang merusak seperti pesta dan klub malam. 
Keempat, Islam mengharamkan perbuatan mendekati zina dan perzinaan sekalipun dilakukan dengan consent (mau sama mau), sebagaimana firman Allah:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا
”Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS. al-Isrâ [17]: 32), sekaligus menghalalkan pernikahan sebagai jalan yang sah.
Kelima, Dari sisi kuratif, Islam menetapkan sanksi tegas untuk memberi efek jera. Pelaku pelecehan dikenai sanksi tazir seperti penjara, cambuk, atau pengasingan. 
Pelaku pemerkosaan dikenai hukuman cambuk 100 kali jika belum menikah atau rajam hingga mati jika sudah menikah, dengan tambahan sanksi bila disertai kekerasan. Korban wajib dilindungi dan direhabilitasi oleh negara. Hukum ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Sementara itu, hukuman kebiri tidak dibenarkan dalam Islam, sebagaimana Nabi Shallallâhu alaihi wasallam menolak praktik tersebut dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari. Dengan sistem ini, Islam tidak hanya menghukum pelaku, tetapi juga menutup seluruh celah terjadinya kejahatan sejak awal.
Tentu saja pemberantasan tindak kejahatan seksual tidak mungkin bisa dilakukan dalam sistem liberalisme-sekulerisme seperti hari ini. Semua hanya bisa dilakukan dengan pemberlakuan syariah Islam secara kaaffah dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Keberadaan Khalifah dalam sistem Khilafah akan menjadi junnah (perisai) yang melindungi rakyatnya. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ





KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.





Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar