Oleh: Nurmalasari (Aktivis Muslimah Purwakarta)
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Iran telah membuktikan bahwa kekuatan iman dan kemandirian mampu mengalahkan kekuatan materialistik. Hari ini, dunia melihat Iran bukan hanya sebagai negara yang bertahan, tetapi sebagai mercusuar inspirasi bagi mereka yang mencari keadilan. (Media Indonesia, 10/04/2026)
Dilansir dari (Media Indonesia, 12/04/2026) Iran berhasil memaksakan supaya Amerika menerima 10 persyaratan yang diminta. Iran menunjukkan kepada dunia bahwa AS, dengan terpaksa, menerima syarat-syarat tersebut. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran dan kantor berita Anadolu, beberapa poin krusial dalam 10 syarat tersebut meliputi:
1. Pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium.
2. Pencabutan seluruh sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
3. Penarikan pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah.
4. Penghentian permusuhan di semua lini, termasuk di Libanon.
Larangan gencatan senjata digunakan sebagai dalih untuk mempersenjatai kembali pihak lawan.
Kesombongan Amerika telah menjerumuskan dirinya sendiri kedalam permainan yang tidak bisa mereka selesaikan. Senjata yang diledakkan ternyata tidak bisa menahan kekuatan Iran, sehingga Amerika kalang kabut untuk menghentikan peperangan ini.
Mundur teratur adalah cara jitu Amerika atas segala serangan balik dari Iran, membuktikan bahwa Amerika tidak sekuat dan setangguh yang digadang-gadangkan sebagai negara adikuasa.
Keterlibatan negara lain dalam geopolitik untuk mendukung Amerika, tidak sepenuhnya membantu untuk meraih kemenangan Amerika, dikarenakan para pendukung tidak begitu saja memberikan apa yang mereka miliki, mereka tidak lepas memiliki kepentingan pribadi, karena tidak ada negara sekutu yang permanen kecuali ada kepentingan di dalamnya.
Kemunduran Amerika dalam peperangan membuktikan bahwa kaum muslim bisa bangkit dan berjuang untuk mencapai kemenangan yang hakiki. Sayangnya, dukungan para penguasa negeri-negeri muslim tidak punya keberanian serta nyali yang besar untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel.
Perang Iran dan AS telah membuktikan bahwa satu negara muslim saja sudah bisa memberikan pelajaran kepada AS untuk mudur dalam peperangan. Apalagi kalau negara-negara teluk bersatu niscaya AS kalah, begitupun dengan palestina.
Memerdekakan Palestina memerlukan bersatunya negara-negara teluk untuk melawan hegemoni penjajah kafir dengan cara kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan untuk mewujudkannya pembentukan gerakan islam sohih. Sebab umat Islam ibarat satu tubuh, saat salah satu anggota tubuh umat (Palestina) sedang meradang sudah saatnya anggota tubuh yang lain (negeri-negeri muslim) berperan membantu menyembuhkannya.
Akan tetapi negeri-negeri muslim saat ini masih bercokol kuat kepada nasionalisme, untuk menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin meluas. Bahkan, negara-negara muslim rela menjatuhkan dirinya ke jurang yang curam dengan dalih untuk melindungi padahal mereka sedang di khianati. Mereka rela bergabung dalam perangkap yang bernama BoP, meski harus memberikan mahar dengan jumlah yang fantastis.
Negeri-negeri Muslim dengan polosnya percaya dengan janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Padahal bukti kedholiman terhadap Palestina sudah terpampang nyata di depan mata. Dimana justru yang terjadi Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian, gencatan Senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS-Israel untuk melancarkan serangan penjajahan mereka di Palestina.
Negeri-negeri muslim harusnya bersikap tegas dan bersatu, tidak boleh berkompromi dengan penjajah Barat apalagi tunduk terhadap aturan yang mereka sebut sebagai hukum Internasional. Karena AS telah banyak membuat kerusakan di bumi, mengacaukan tatanan kehidupan dengan ide sekuler kapitalisnya, mengeksploitasi negeri-negeri muslim dan masih banyak lagi kedholiman yang mereka perbuat.
Cara untuk menghentikan Israel-AS butuh negara adidaya. Negara dengan posisi dominan yang memiliki kemampuan luas untuk memproyeksikan kekuatan militer, ekonomi, politik, teknologi, dan budaya secara global. Tidak bisa dengan hanya perjanjian, gencatan senjata dan perdamaian.
Mekanisme dan strateginya dapat dioptimalkan melalui pembentukan gerakan Islam yang menyatukan pemikiran, perasaan dan menumbuhkan persatuan, yakni jihad fii Sabilillah. Dengan satu komando di bawah pemimpin Islam akan mampu mengusir pasukan Israel-AS dari tanah Palestina, merontokkan hegemoni mereka di dunia dan membungkam kebusukan mulut kotor mereka.
Dengan mengambil pelajaran penting atas perang AS dan Iran. Sudah saatnya Umat Islam berpikiran cemerlang dan mendalam, ketika satu negara muslim saja bisa memberikan kemunduran, apalagi kalau negara muslim bersatu di naungan sistem Islam, maka umat akan terjaga dan kezaliman akan binasa.
Wallahu’alam bisshowwab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar