KETAKWAAN PARIPURNA PASCA RAMADHAN


Oleh: Inge Oktavia Nordiani 

Bulan Ramadan telah meninggalkan kita. Bagi yang memahaminya maka akan terasa berat hati ditinggal oleh ramadhan. Sebab Ramadhan adalah prime time di dalam kehidupan. Di dalamnya Allah hamparkan berbagai kenikmatan dan keutamaan. Ramadhan ibarat bengkel mampu memperbaiki dan memperbagus perilaku manusia. Bagi yang tidak memahaminya sungguh disayangkan ramadhan akan berlalu seperti hari-hari biasa. Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk mengilmu pada ramadhan.

Dalam Quran surat Al-Baqarah:183 telah disampaikan,
ÙŠٰٓاَÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِÙŠْÙ†َ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُÙˆْÙ†َۙ ۝١٨٣
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Jadi yang diharapkan dalam output Ramadhan adalah pribadi-pribadi yang bertakwa. Sebagaimana kita ketahui sebuah perumpamaan dari sahabat Ubay bin Ka'ab kepada Umar bin Khattab, yang mendefinisikan takwa sebagai kewaspadaan tinggi (hati-hati) dalam menjalani hidup untuk menghindari dosa dan maksiat—baik kecil maupun besar—sebagaimana seseorang berhati-hati melangkah di jalan berduri agar tidak terluka. Ketakwaan akan mengantarkan pada keridhaan Allah. Tidak ada kehidupan yang terindah melainkan kehidupan dalam buaian ridhonya Allah. Ketika Allah Ridha tentu rahmat Allah akan senantiasa menghiasi kita.

Ramadhan juga mengajarkan kita untuk fastabiqul khairat tidak hanya amalan yang wajib yang sunnahpun dilakukan ibarat orang yang sedang kehausan tidak cukup meminum seteguk saja karena orang Islam meyakini bahwa pintu surga dibuka lebar-lebar. Lebih-lebih apa yang disampaikan dalam hadis Rasulullah Saw dalam sebuah hadist qudsi riwayat Bukhari "...Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia bukan gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan...". Ini sebuah motivasi besar yang menggugah kesadaran kita akan berlomba-lomba di dalam ketaatan. 

Apabila seorang hamba telah dapat merasakan nikmatnya fastabiqul Khoirot, amalan yang dilakukan selama bulan Ramadhan menjadi sebuah kebiasaan di 11 bulan berikutnya, maka ini bisa menjadi tanda diterimanya amalan di bulan Ramadhan. Oleh karena itu dibutuhkan upaya agar bisa menjadikan ketakwaan menjadi paripurna pasca Ramadhan. Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain. Pertama, menjadikan ridho Allah hal utama dalam kehidupan. Hidup berkesadaran dengan idraksillahbillah yaitu senantiasa meyakini bahwa Allah maha melihat dan maha mengetahui. Kedua, Menuntut ilmu sepanjang hayat sehingga memahami kesempurnaan dan keluasan agama Islam sebagai pedoman satu-satunya kehidupan. Ketiga, bersegera di dalam menjalankan amal Sholih. Termasuk juga memperjuangkan kembalinya tajul Al -Furuj atau mahkota kemuliaan terbesar umat Islam yaitu khilafah islamiyah yang dengannya ketakwaan Paripurna yang hakiki dapat terwujud.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar