Oleh : Rifdah Reza Ramadhan
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mendorong program sekolah tanpa kendaraan bermotor, beliau menegaskan bahwa siswa sekolah tidak lagi disarankan untuk membawa kendaraan bermotor, dan dianjurkan untuk berjalan kaki.
Sekilas program ini seperti mengajarkan hal baik pada siswa, juga mendukung gaya hidup _sustainability_. Banyak sekali kebermanfaatan jalan kaki di pagi hari, salah satunya adalah melakukan aktifitas fisik yang sekarang sudah jarang dilakukan oleh kalangan masyarakat, selain itu jika berjalan kaki, siswa juga bertemu dengan teman-temannya di jalan dan melakukan interaksi sebelum aktifitas belajar dimulai. Semua hal terasa sangat berarti, nilai positif dari berjalan kaki di pagi hari juga tidak bisa ditolak, namun apakah benar semua nilai positif ini akan hadir jika kebijakan ini benar-benar dilakukan?
Fasilitas pejalan kaki yang belum memadai dan beberapa kasus kekerasan seksual yang menimpa siswa sekolah beberapa waktu lalu masih menjadi momok menakutkan dan pantas untuk dikritisi lebih lanjut. Fasilitas pejalan kaki yang ada di Purwakarta jauh dari kata layak, terlebih daerah yang jauh dari pusat kota. Ketidaklayakan ini dapat menyebabkan kecelakaan dan hal buruk kepada siswa, terlebih siswa sekolah dasar yang kerap kali bercanda dan tidak perhatian pada lingkungan sekitar. Selain itu, banyaknya siswa yang melakukan aktifitas jalan kaki di pagi hari dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas yang cukup panjang. Pasalnya, lingkungan sekitar dan arah menuju sekolah akan sangat ramai dan tak beraturan, hal ini menyebabkan pengguna jalan yang menggunakan kendaraan memiliki kendala dalam perjalanannya.
Selain fasilitas pejalan kaki yang belum memadai, kekerasan seksual yang menimpa pelajar sekolah dasar beberapa waktu lalu juga masih menjadi momok menakutkan yang masih membekas dalam benak masyarakat. Kejadian kekerasan seksual terjadi tepat di depan kampus UPI Purwakarta, lingkungan yang ramai, petugas berjaga, dan lalu lintas yang cukup padat. Dalam kondisi di tengah kota, ramai, dan terang pelaku melakukan kejahatan seksual tersebut, lantas bagaimana dengan daerah yang dinilai lebih beresiko dibanding tempat itu?
Pada akhirnya, pemerintah tidak bisa melakukan perbaikan dan kebijakan baru sebelum semuanya siap untuk melaksanakannya, perubahan fundamental dan menyeluruh, SDM yang berkualitas dari pendidik dan pengelola sekolah, serta pembaruan dan pengadaan infrastruktur memadai amat dibutuhkan saat ini untuk menunjang kebutuhan dan perubahan kebijakan pada siswa.
Dalam Islam pendidikan merupakan pilar bangsa, maka bicara soal perubahan sama sekali tidak cukup pada beberapa aspek saja. Islam mengajarkan bahwa pengambilan keputusan untuk kebutuhan masyarakat harus dibersamai dengan kesiapan dari pemerintah juga soal perjalannya program yang diberikan, selain itu tentu saja menjadikan masyarakatnya berpendidikan juga merupakan kewajiban bagi negara, sehingga dengan itu tidak akan ada lagi kasus anak di bawah umur yang tersakiti karena pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang tak berpendidikan.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar