BBM, Komoditas atau Fasilitas?


Oleh : Ni’mah Fadeli

Bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat, apalagi di daerah perkotaan. Berbeda dengan di desa yang masyarakatnya mungkin masih gemar jalan kaki atau bersepeda ketika melakukan aktivitas, di kota hal ini jarang ditemui. Tuntutan hidup yang serba cepat dan instan ditambah jarak yang tidak dekat membuat pilihan berjalan atau bersepeda tidak dilakukan. Masyarakat kota cenderung memakai motor dan mobil dalam beraktivitas sehari-hari. Hal ini membuat ketergantungan akan BBM menjadi sangat tinggi.

Sayangnya, meski memiliki sumber daya minyak yang tinggi, tetapi negara memilih menjadi pengimbor minyak. BBM yang beredar di masyarakat pun harus mengikuti pasokan dari luar negeri. Ketika ada konflik antar negara yang menyebabkan macetnya distribusi, maka imbasnya langsung dirasakan.

Masyarakat pun antri membeli BBM di sejumlah kota karena takut tidak kebagian. Hal ini juga dipicu desas-desus naiknya harga BBM dan pernyataan para pejabat negara untuk menghemat, seperti diadakannya Work From Home (WFH), pembatasan pembelian untuk kendaraan roda empat, dan pengurangan hari untuk Makan Bergizi Gratis (MBG).


Semua Menjadi Komoditas

Negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat kaya, tetapi sayangnya masih tergantung dengan berbagai impor. Padahal Allah Swt. telah menyediakan segala kebutuhan di alam kita. Mulai dari minyak bumi, batu bara, nikel, emas, tembaga, hingga beribu jenis pohon dan ikan di laut yang luar biasa luas.

Namun, negara tidak pandai mengelola sehingga menyerahkan kepada swasta dan asing yang tentu saja mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Negara menjadikan kebutuhan masyarakat sebagai komoditas. Alhasil berlaku hukum ada uang ada barang di masyarakat, bahkan untuk kebutuhan pokok yang seharusnya disediakan negara sebagai fasilitas.

Ketergantungan negara pada asing juga menjadi problem ketika terjadi sentimen global seperti saat ini. Jika BBM dinaikkan maka akan terjadi inflasi dan konflik sosial dalam masyarakat. Namun, jika tidak dinaikkan maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan makin defisit. Hal ini pun terus berulang sejalan dengan sistem kapitalisme yang tetap dipertahankan. 


Islam Memberi Fasilitas

Manusia itu memiliki hak bersama (bersekutu) dalam tiga hal yaitu air, rumput liar dan api.” (HR. Ibnu Majah).

Api yang dimaksud dalam tersebut adalah SDA atau energi yang berasal dari perut bumi. Setiap manusia yang hidup di atas bumi memiliki hak yang sama atas energi yang telah Allah Swt. anugerahkan, tidak boleh seseorang pribadi atau golongan menguasainya untuk diambil keuntungan.

Maka dalam Islam, penyediaan BBM akan dikelola negara yang hasilnya dikembalikan kepada masyarakat. Negara tidak diperbolehkan memperjualbelikan SDA kepada swasta atau asing. 

Negara yang mandiri tidak akan terpengaruh dengan gonjang ganjing ekonomi dan politik global. Kebutuhan masyarakat terpenuhi karena negara mampu berdiri dengan kaki sendiri. Meski demikian, penghematan tetap dilakukan karena Rasulullah saw. selalu mengajarkan hal yang demikian. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan keberlangsungan hidup generasi mendatang. Dalam sistem Islam, rakyat sepenuhnya akan dipenuhi dengan fasilitas dan tidak pernah dijadikan komoditas. 

Wallahu a'lam bishawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar