Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd (Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin)
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit campak, terutama di tengah tingginya aktivitas silaturahmi selama momentum Idul Fitri 1447 Hijriah. Mobilitas warga yang meningkat menjelang lebaran memperbesar risiko penularan.
Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kasus campak memang terus bertambah dan kini menembus angka 200 kasus di Balikpapan. Di Kota Samarinda Dinkes mencatat kasus campak mencapai sekitar 120 kasus hingga pertengahan Maret 2026.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sejak awal tahun hingga pekan ke-8 tahun 2026 atau akhir Februari lalu, Dinas Kesehatan Kukar mencatat sebanyak 105 kasus yang dilaporkan. Tidak hanya Kaltim, secara nasional memang kasus campak pada awal 2026 ini mulai menimbulkan kekhawatiran. Situasi ini semakin menjadi sorotan setelah meninggalnya seorang dokter internship di Cianjur, Jawa Barat, yang diketahui positif campak.
Negara Lalai Lindungi Keselamatan
Campak bukan penyakit ringan. Virus ini sangat mudah menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius. Selain gejala umum seperti demam, batuk, dan ruam merah, campak juga berisiko menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia, radang otak, hingga gangguan neurologis jangka panjang.
Penyakit campak selama ini identik dengan anak-anak kini mengancam berbagai kelompok usia, termasuk orang dewasa. Oleh sebab itu, pasien yang terinfeksi perlu diisolasi untuk mencegah penyebaran lebih luas, sekaligus mendapatkan penanganan yang tepat.
Seharusnya penyakit menular salah satunya campak dicegah sebelum lebaran yang notabene mobilisasi terjadi. Faktanya pencegahan pemerintah disanksikan karena hanya satu elemen yang bergerak yakni bidang kesehatan, itu pun hanya sosialisasi. Padahal pemerintah bisa mengerahkan semua elemen mulai dari media hingga semua instansi, tidak cukup personality atau layanan kesehatan yang bergerak.
Dunia dan negeri ini pernah dilanda wabah covid, artinya sudah ada pengalaman agar tidak mewabah lagi. Campak dengan pencegahan imunisasi masih belum optimal bahkan ada yang takut. Sistem kehidupan Kapitalisme Sekuler saat ini membuat masyarakat phobia sehingga tingkat kepercayaan sudah lemah kepada penguasa.
Kasus campak yang kembali merebak di berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga merenggut nyawa, merupakan kelalaian negara dalam menjaga keselamatan. Tidak bisa dimungkiri, kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, dan rendahnya literasi hidup sehat berpengaruh terhadap pemahaman masyarakat terhadap kesehatan. Faktor tersebut juga berdampak pada rendahnya status gizi yang jelas akan memengaruhi daya tahan tubuh dalam menghadapi serangan virus campak.
Berbagai faktor tersebut juga berkaitan dengan kebijakan negara dalam menyediakan sarana dan prasarana untuk mewujudkan kondisi bebas campak. Inilah buah tata kelola berdasarkan sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, kesehatan dianggap sebagai komoditas ibarat barang dagangan. Sementara itu, peran negara sangat diminimalkan, hanya sebatas regulator.
Negara lalai dalam menyiapkan aspek-aspek mendasar demi terwujudnya daya tahan yang kuat melawan campak, seperti kesejahteraan, status gizi baik, dan lingkungan sehat. Sebaliknya sistem kapitalisme justru menyebabkan tingginya kemiskinan, rendahnya pendidikan dan literasi kesehatan, serta ketimpangan layanan kesehatan. Akibat paradigma negara dalam sistem kapitalisme, maka berbagai faktor determinan sosial kesehatan memberikan pengaruh buruk terhadap upaya menyelamatkan generasi dari resiko penyakit campak.
Islam Menjaga dari Penyakit
Terjadinya wabah merupakan bentuk qadha Allah yang harus diterima oleh manusia, namun bukan berarti mengabaikan ikhtiar dalam menanganinya. Dalam tata kelola kesehatan menurut Islam, negara sebagai raa’in, pengurus kemaslahatan rakyat sebagaimana perintah Rasulullah saw. riwayat Bukhari dan Muslim, ‘Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.’
Oleh karena itu, negara mengerahkan berbagai upaya demi mewujudkan generasi sehat dan mencegah adanya bahaya yang mengancam kesehatan generasi. Agar tidak terjadi KLB campak, negara akan melakukan upaya pencegahan dan pengobatan penyakit campak secara menyeluruh. Selain mengadakan imunisasi, negara juga berkewajiban mewujudkan faktor determinan sosial kesehatan yang menguatkan terbentuknya daya tahan tubuh yang kuat.
Negara pun aktif meningkatkan literasi masyarakat tentang campak dan hidup sehat. Negara menerapkan sistem ekonomi Islam sehingga rakyat terjamin kesejahteraannya, semua mudah mengakses pendidikan, tinggi literasi tentang penyakit campak, baik pencegahan maupun pengobatannya.
Negara juga menyediakan layanan kesehatan berkualitas gratis yang merata dan mudah diakses. Negara akan melindungi keselamatan generasi karena menjaga nyawa adalah salah satu maqashid syariah. Negara tidak boleh membiarkan anak-anak dan masyarakat dalam ancaman bahaya dan tidak boleh membiarkannya dalam kondisi yang lemah, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS An-Nisa: 9, ‘Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.'
Jadi, untuk mewujudkan perlindungan generasi dari berbagai bahaya, termasuk ancaman virus campak, negara harus meninggalkan tata kelola berdasarkan kapitalisme dan menerapkan tata kelola berdasarkan Islam. Penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatan, akan menjamin faktor determinan sosial yang mewujudkan daya tahan tubuh yang kuat, sehingga keselamatan generasi dan bebas campak akan terwujud nyata. Lebaran dengan ajang silaturrahmi pun akan diselimuti kesenangan dan keberkahan tanpa takut dengan penyebaran penyakit menular. Wallahu’alam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar