Oleh: Ayunin Maslacha
Kebiasaan overthinking ternyata tidak selalu berdampak negatif. Jika diarahkan ke arah proses analitis, si overthinker (orang dengan kebiasaan overthinking) ini justru bisa menjadi problem solver. Hanya saja, saat overthinking ini dilakukan tanpa memiliki tujuan dan prinsip, itu memberi sedikit kesulitan dalam membedakan mana hal-hal prioritas dan mendesak, sehingga semua hal dipikirkan tanpa saringan. Kepala terasa penuh seperti akan meledak. Lalu waktu terasa tiba-tiba habis padahal hal produktif belum dihasilkan.
Karena memiliki kepekaan pada lingkungan sekitarnya, si overthinker akan lebih mudah dan lebih baik dalam mencerap fakta-fakta, terutama fakta-fakta yang berhubungan dengan eksistensi dirinya. Baik itu berupa ancaman maupun perlindungan, berupa punishment ataupun reward. Di lingkungan yang toxic di mana banyak perkataan dan perlakuan membentuk trauma, justru overthinking adalah mekanisme pertahanan diri di tengah kondisi yang tidak stabil. Ini bukan kelemahan, tapi ini justru potensi kehidupan.
Sayangnya, ingatan traumatis itu jelas meninggalkan jejak luka. Otak manusia dalam merespon sakit hati (luka batin) dengan sakit fisik (luka biologis) tidak memiliki perbedaan yang tajam. Saat kejadian traumatis itu berlangsung terus menerus, secara otomatis otak akan memerintahkan tubuh untuk melepaskan hormon stress (kortisol). Dan jika kadar kortisol ini tinggi bisa merusak struktur otak terutama di bagian hipokampus yang bertugas menyimpan ingatan. Di mana ingatan yang harusnya dilabeli waktu "masa lalu" menjadi kacau, seolah terasa baru terjadi sekarang yang membuat bagian otak lainnya (amigdala) meresponnya dengan kecemasan atau waspada, dan memerintah pusat kendali (hipotalamus) untuk mempertimbangkan lawan atau lari.
Dalam studi ilmiah, pengobatan traumatis itu bisa dengan memulihkan fungsi hipokampus agar data yang ditransfer ke bagian otak yang lain "benar". Menurut Dr. Bessel van der Kolk, seorang psikiater ternama menyimpulkan pemulihannya dengan metode Buttom up (dari tubuh ke otak), seperti olahraga, terapi EMDR, pola hidup sehat seperti mengatur jam tidur dan nutrisi, serta terapi kognitif behaviour untuk memperkuat korteks prefrontal sebagai pusat logika.
Suatu waktu, penulis pernah membaca komentar dari netizen dalam sebuah postingan yang membahas mental issues seperti ini, "aku simpan kenangan luka itu dengan ikhlas". Setelah dipikir-pikir, benar juga. Secara ilmiah terbukti bahwa ingatan manusia tidak dapat dihapus total seperti menghapus file digital. Teknologi medis mutakhir pun, hanya mampu di level melemahkan ingatan bukan menghilangkannya.
Menurut Dr. Eric Kandel (penerima Nobel dalam bidang penelitian memori), ingatan manusia itu tersebar di berbagai bagian otak, bukan di satu titik seperti hard disk. Sehingga jika ingin menghilangkan ingatan, artinya harus menghancurkan protein dalam struktur saraf, di mana saraf itu saling terhubung sehingga mustahil kecuali akan berdampak pada kerusakan otak keseluruhan dan pada bagian tubuh yang lain. Sehingga ingatan hanya bisa "dirapikan" bukan "dilupakan".
Konsep "keikhlasan" itu berakar kuat dari tradisi Islam. Kata asalnya dari bahasa Arab "khalaá¹£a (Ø®َÙ„َصَ)" yang berarti murni atau selamat. Kata ini berkali-kali disebut dalam Al Qur'an seperti QS. Az Zumar ayat 2 dengan frasa "mukhlisan (Ù…ُØ®ْÙ„ِصًا)" yang bisa dimaknai sebagai kemurnian kita dalam menyembah Allah dengan ketaatan yang jernih, tanpa ada tendensi apapun. Maknanya ialah pengakuan dan penerimaan bulat kita bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang patut diibadahi, berikut dengan segala keputusan-Nya.
Bahkan bagaimana cara "merapikan" ingatan luka oleh Allah juga dijelaskan dalam Al Qur'an, seperti QS Al Hadid ayat 22-23, Allah memberitahu kita bahwa apapun yang sudah terjadi dalam kehidupan ini adalah bagian dari skenario Allah, telah ditulis dalam lauhul mahfudz, agar kita tidak perlu terlalu sedih atas apa yang luput dan tidak terlalu bahagia atas apa yang diberikan pada kita.
Ada konsep pemahaman tentang takdir dalam menuntun korteks prefrontal di otak kita, agar bisa memetakan mana hal yang bisa kita kuasai dan mana yang tidak. Dilahirkan dengan privilage tertentu adalah bagian dari takdir yang tidak bisa dikuasai manusia, tapi bagaimana merespon kehidupan dengan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki adalah pilihan yang bisa kita ubah.
Sehingga, perlu untuk terus belajar dan mencari tau agar bisa memberi informasi positif dan benar dalam diri kita, supaya hipokampus di otak kita hanya menyimpan informasi yang benar sesuai fakta dan fitrah. Bukan angan-angan, tapi dengan tujuan dan prinsip. Tujuan dan prinsip hiduplah yang jadi titik balik ketika kita menghadapi musibah. Sebagai muslim, jelas tujuan hidup kita untuk beribadah kepada Allah yang membuat kita berprinsip agar tiap laku dan ucapan sesuai aqidah dan syari'at Islam.
Terkait luka batin pun, Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk melupakan, tapi justru Allah nemvalidasinya dalam QS. Al Hijr ayat 97; "Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit (sesak) disebabkan apa yang mereka ucapkan". Di ayat selanjutnya, Allah memberi kita solusi, yakni obat penenang hati, dengan bertasbih memuji Allah, bersujud dalam shalat yang mana dapat membantu sistem saraf lebih relaks, serta kita diperintahkan untuk menyembah Allah sampai datangnya kematian.
Itulah perlunya menuntun korteks prefrontal kita untuk bersahabat dengan Al Qur'an, mempelajari Islam secara kaffah (menyeluruh) sebagai terapi kognitif behaviour. Supaya ingatan-ingatan luka itu cukup tersimpan dengan keikhlasan paling dalam, sebagai bukti ketaatan kita pada Allah. Lalu kita kembali bangkit, fokus pada tujuan dan prinsip hidup agar sesuai dengan aqidah dan syari'ah Allah sebab hidup terus berjalan sampai Allah yang meminta kita kembali pulang.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar