Oleh: Vani Nurlita Santi
Per April 2026 ini para pengusaha UMKM, pedagang kecil sampai industri rumahan mengeluhkan harga plastik yang melonjak naik. Lonjakan harga plastik yang mencapai 40% hingga 100% ini dipicu oleh beberapa faktor, terganggunya pasokan bahan baku pembuatan plastik, Nafta dari Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah (14/02/2026 idnfinancials.com).
Namun jika kita cermati lebih dalam, persoalan kenaikan harga plastik ini tidak berdiri sendiri, hanya merupakan puncak gunung es dari masalah yang lebih dalam-yaitu rapuhnya ketahanan ekonomi Indonesia yang masih bergantung dengan dinamika global.
Sejarah menunjukkan, fenomena Indonesia di ujung tanduk karena bergantung dengan dinamika global bukanlah hal baru. Sejak krisis moneter 1998 kenaikan harga di berbagai komoditas sering terjadi, dan ironisnya ketika harga naik jarang sekali ada yang benar-benar kembali turun. Bisa dibilang jika setiap krisis selalu meninggalkan beban permanen bagi masyarakat (14/02/2026 cnnindonesia.com)
Ketergantungan Sumber Kerentanan
Nafta adalah turunan dari minyak bumi, bahan baku utama pembuatan plastik. Ketika pasokan nafta terganggu akibat gejolak politik di Timur Tengah, Indonesia yang tidak memiliki daya tawar apapun tidak memiliki pilihan selain menerima dampaknya. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih belum mandiri dalam sektor bahan baku strategis.
Ketergantungan inilah yang membuat ekonomi Indonesia rentan ketika terjadi dinamika global. Negara juga tidak memiliki kontrol atas harga, pasokan maupun stabilitas bahan baku strategis.
Kebijakan politik luar negeri menjadi hal yang sangat penting dalam situasi saat ini. Namun masihkah kita bisa berharap dengan pemerintah yang menggunakan sistem ekonomi kapitalisme untuk bersikap tegas dalam memberikan perlindungan kepentingan nasional?-khususnya dalam hal energi dan industri-saat ini Indonesia cenderung berada pada posisi yang pasif: menanggung dampak dari dinamika global tanpa memiliki daya tawar yang menjanjikan.
Gangguan pasokan dalam negeri akan semakin kuat jika konflik global terus berlanjut dan meluas. Dampak yang kita rasakan tidak hanya berhenti dalam kenaikan harga plastik, tapi akan merembet ke kelangkaan BBM, kenaikan biaya distribusi, lonjakan harga barang dan puncaknya adalah perlambatan ekonomi secara luas. Kenaikan harga plastik ini hanyalah awal dari masalah yang lebih besar.
Perspektif Islam dalam Kenaikan Harga Plastik
Dalam pandangan Islam, permasalahan ini bukanlah hanya permasalahan teknis semata, tetapi sebagai akibat dari penggunaan sistem yang tidak berpihak kepada kemaslahatan rakyat.
Rasulullah SAW bersabda: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)
Islam memandang bahwa sumber daya alam strategis seperti energi, adalah milik umum yang tidak boleh dikuasai oleh segelintir pihak atau diserahkan pada mekanisme pasar global semata. Para ulama menjelaskan bahwa “api” dalam hadis ini mencakup sumber energi. Seperti nafta bahan baku pembuatan plastik yang merupakan turunan dari minyak bumi. Artinya, negara wajib mengelola sumber daya energi untuk kepentingan rakyat, bukan bergantung pada pihak luar.
Solusi Islam
Berdasarkan prinsip tersebut, berikut solusi islam yang akan menyelesaikan kenaikan harga plastik dari akarnya:
Pertama, kemandirian pengelolaan sumber daya. Negara harus memastikan bahwa sumber daya strategis harus dikelola secara mandiri agar tidak bergantung dengan impor.
Kedua, kebijakan luar negeri harus tegas dan berpihak pada kepentingan masyarakat.Sikap politik luar negeri harus diarahkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan keamanan ekonomi, tidak hanya bersikap netral tanpa arah.
Ketiga, memenuhi peran negara sebagai pelindung masyarakat. Negara tidak boleh membiarkan masyarakat menanggung dampak dari krisis sendirian. Negara harus hadir dengan untuk menjamin ditribusi dan melindungi kelompok rentan seperti UMKM.
Keempat, melepaskan ketergantungan sistemik. Selama ekonomi bergantung pada sistem global yang fluktuatif, krisis akan terus berulang. Islam mendorong terbentuknya sistem ekonomi yang mandiri, stabil, dan berbasis pada keadilan distribusi.
Semua solusi ini hanya mungkin bisa dijalankan dalam sebuah institusi pemerintahan islam. Hal ini jelas pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dengan mendirikan Daulah Islam (Negara Islam) di Madinah al-Munawwarah.
Negara Islam ini kemudian dilanjutkan dengan Khulafaur Rasyidin dan terus dipertahankan hingga era Umayah, 'Abbasiyah dan Utsmaniyah yang telah terbukti bisa menjadi negara mandiri tidak bergangtung pada dinamika global, sehingga bisa menjadi perisai terbaik bagi masyarakatnya. Wallahu a'lam bishawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar