Oleh: Ayunin Maslacha, S.H. (Aktivis Muslimah dan Pengamat Politik)
Pada 10 April lalu untuk pertama kalinya setelah satu dekade, pertemuan tingkat tinggi antara Iran dan Amerika Serikat terjadi di Islamabad sebagai upaya negosiasi perdamaian perang di antara mereka. Negosiasi yang berujung buntu dan hanya menyisakan gencatan senjata selama dua minggu ini masih jadi sorotan dunia. Masing-masing pihak mengklaim kemenangan. Namun yang pasti kita tahu, ada beberapa hal yang tidak lagi bisa dikendalikan penuh oleh Amerika Serikat dalam Operasi Epic Fury-nya ke Iran kali ini.
Fakta pertama, bahwa Iran tak lagi mudah dikalahkan oleh AS baik dari segi ketahanan militer, ketahanan narasi global, hak pengayaan uranium untuk produksi senjata nuklir, serta kontrol jalur logistik dan ekonomi di Selat Hormuz. AS dalam perang ini juga tak lagi mampu memaksa negara-negara sekutunya di kawasan untuk turut andil dalam serangan melawan Iran sebab mereka tak ingin perang berdampak pada stabilitas pertahanan dan ekonomi negaranya. Terlebih penguasaan Houthi pada selat Bab al-Mandeb sebagai peralihan jalur dagang negara teluk saat perang ini berlangsung. Yang mana sampai detik ini, Houthi adalah sekutu Iran yang setia. Bahkan tak hanya itu, Trump menerima rencana 10 poin Iran sebagai syarat diberlakukan gencatan senjata sebelum terjadinya negosiasi di Islamabad berlangsung (cnnindonesia, 8/4/2026).
Ini menunjukkan bahwa tujuan awal dari Operasi Epic Fury AS terhadap Iran tidak tercapai keseluruhan. AS hanya berhasil menghancurkan fisik Teheran dan sekitarnya, tanpa mampu mengambil alih kendali atas kebijakan strategis Iran ke depan. Meski beberapa pemimpin Iran gugur, AS tetap tak berhasil menggulingkan kekuasaan seperti niat awalnya ingin merubah sistem pemerintahan Iran menuju sekuler demokrasi. Beberapa pengamat bahkan menyangkal narasi Trump yang mengklaim kemenangan mutlak sejak awal perang sampai akhir, tapi justru menganggapnya sebagai clear failure, kegagalan yang nyata karena tujuan awal perang ini tak sebanding dengan hasil akhir di meja negosiasi (usnews.com, 12/4/2026).
Perang AS - Iran kali ini juga memperlihatkan penghianatan penguasa negeri muslim. Di mana mereka memilih untuk tetap bersekutu dengan AS daripada memihak dan mendukung Iran sebagai negeri sesama muslim. Beberapa di antaranya seperti Saudi dan UEA menunjukkan sikap diplomatik yang tegas dengan menutup kedutaannya di Teheran, maupun keberatan Turki yang menyinggung dampak perang saudara di Suriah yang menaikkan krisis pengungsi, sehingga Turki tidak ingin hal sama terulang (stimson.com, 13/4/2026). Dalam arti lain, semua sikap tersebut menunjukkan penguasa muslim hanya memikirkan dirinya sendiri dalam batas nasionalisme tanpa sedikitpun menyinggung kekuatan Aqidah Islam sebagai pemersatu, serta bukti kecilnya nyali mereka melawan AS. Padahal serangan AS terhadap Iran ini telah menyebarkan penderitaan ekonomi ke seluruh dunia.
Jika ditarik dalam sudut pandang kita sebagai muslim, ini jelas menunjukkan pergeseran AS sebagai negara adidaya. AS hanya mampu menyisakan sikap arogansi, kredibilitas militernya dalam menjaga negara-negara konflik, terutama yang terjadi di kawasan Timur Tengah saat ini jelas terlihat lemah. Bahkan ide Trump membentuk Board of Peace yang diprakarsai AS sebagai agen perdamaian, justru ia ludahi sendiri. Satu waktu dia berkata ingin menegakkan perdamaian, tapi yang terjadi justru peran AS selalu ada dibalik peperangan. Inilah ciri-ciri kemunafikan sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar tidak bersekutu dengan kaum munafik.
Keberanian Iran dalam melawan AS ini membuka mata kita bahwa negeri muslim tidaklah lemah. Allah SWT. menakdirkan kekayaan alam berlimpah di setiap wilayahnya, hanya saja keberadaan penguasa yang menghianati Allah dan Rasul-Nya menjadi penghambat persatuan umat muslim seluruh dunia. Tanpa persatuan, sampai akhir nanti Iran akan terus berjuang sendiri melawan keangkuhan militer kafir harbiy. Tanpa bermaksud mengkerdilkan kemampuan Iran yang berhasil membuka mata dunia bahwa AS tidak sekuat itu, kita tetap perlu memperhatikan masih banyak kedzaliman yang dibuat AS dan Israel terhadap negeri muslim lain yang lemah, baik itu berupa penjajahan fisik maupun kebijakan politik.
Untuk itulah sebagai bagian dari umat yang satu, kita tidak bisa membiarkan Iran berjuang sendiri. Negeri-negeri muslim butuh bersatu dari Maroko hingga Merauke di bawah satu kekuasaan, yakni Khilafah Islam. Karena tanpa persatuan dan jihad, AS dan Israel akan terus melakukan agresi militer di kawasan Timur Tengah sebagai upaya menguatkan hegemoni serta tidak akan membiarkan syari'at Islam diterapkan dengan sempurna, agar dunia terus tunduk pada kedzaliman mereka. Persatuan ini merupakan perintah Allah SWT, "Orang-orang yang kufur, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (untuk saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar" (TQS. Al Anfal:73).
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar