Membedah Film; "Tunggu Aku Sukses Nanti", Realita Masyarakat Kapitalis Dalam Perspektif Islam


Oleh: Ayunin Maslacha

Rumah adalah unit terkecil atau ruang pertama sumber kebahagiaan yang didapat manusia. Ini fitrah dan valid. Di mana di dalamnya terdapat keluarga yang memiliki peran sebagai tempat untuk bertumpu, berlindung, beristirahat, menjadi diri sendiri entah saat lelah atau bahagia.

Sementara kondisi sekarang ini, peran keluarga seringkali bergeser dari fitrahnya. Rumah yang seharusnya jadi tempat ternyaman untuk pulang, justru dipenuhi dengan harapan-harapan di luar batas kemampuan. Kegagalan dianggap kekalahan, kesuksesan dianggap perlombaan. Ini bentuk crab mentality yang terbentuk oleh lingkungan yang menjadikan pencapaian materi sebagai tonggak ukuran.

Padahal, manusia lahir tidak dengan privilage yang sama sehingga garis start usaha dan keberhasilan antar manusia tidak selalu di waktu yang sama. Ini manusiawi, tidak salah. Tapi kebanyakan manusia memilih tidak mengerti. Sehingga yang dilakukan adalah sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain, padahal itu adalah sikap mental ketidaksiapan menghadapi hidup. 

Di tengah kondisi ini, Kapitalisme memainkan gengsi manusia (gharizah baqa') untuk terus mengejar validasi. Jebakannya adalah standar pride, yang mana seseorang dianggap "membanggakan" dan "layak" hanya dari seberapa besar pencapaian materi yang didapat.

Saat gengsi kita dipermainkan, itulah yang membuat kita tidak memiliki sikap, tidak mengerti harus bersikap bagaimana, ini yang membuat kita egosentris. Hanya tau sudut pandang diri kita sendiri dan sulit memahami sudut pandang serta perasaan orang lain. 

Yang relevan adalah keluarga muslim tidak boleh menjadikan materi sebagai achievement.  "Membandingkan diri" dalam konteks keimanan itu tidak diperbolehkan. Sebagai muslim, our bigger vision adalah ibadah ke Allah, bukan standar manusia. Kita melakukan apapun itu dengan tujuan ibadah ke Allah, bukan validasi manusia.

Kalau kita fokus pada diri sendiri (fokus pada "keakuan"), kita tidak bisa memetakan mana musuh kita yang sebenarnya, dan sibuk pada hal-hal receh seperti mudah menduga kesalahan orang lain, menilai orang lain hanya dari permukaan dan standar materi baik dari segi fisik, kekayaan, pendidikan maupun karir, akibatnya kita hanya akan hancur sendiri, berkali-kali. Sebab rasa iri dan tidak pernah merasa cukup.

Padahal yang salah dan yang seharusnya jadi musuh bersama adalah cara pandang kapitalisme yang materialistik, yang menjadikan pencapaian materi sebagai tolak ukur sukses dan bahagia. Cara pandang ini yang menciptakan kondisi tidak sehat antara manusia dengan lingkungannya. 

"Ukuran sukses dalam islam adalah taqwa. Kita posisikan manners jauh lebih berharga daripada materi, seperti hubungan kekeluargaan, hubungan dengan manusia. Lebih hargai manusia, bukan material achievement. Pembangunan manusia itulah yang jadi tujuan pembangunan peradaban Islam (Khilafah Islamiyah), bukan sekedar materi", - ustadzah Fika komara.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar