Harga Plastik Naik, UMKM Menjerit: Bukti Buruknya Politik Ekonomi Global


Oleh : Haura (Pegiat Literasi)

Harga Plastik Naik

Sejak perang di kawasan Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran akhir Februari 2026, kondisi dunia makin tidak menentu. Konflik ini berdampak pada penutupan Selat Hormuz, memicu kenaikan harga energi global dan harga minyak.

Situasi ini mengganggu rantai pasok energi global dan mengancam stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, salah satunya adalah naiknya harga plastik. Kenaikan harga plastik hingga 30 sampai dengan 70 persen disebabkan bahan baku utama plastik berasal dari hasil olahan minyak bumi dan gas alam.

Kenaikan harga plastik dikeluhkan para pelaku UMKM di Ciamis. Dilansir harapanrakyat.com (04/04/2026) Harga kantong plastik berbagai jenis dan ukuran dalam tiga hari terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan dan berdampak langsung pada biaya produksi.


Ketergantungan pada Plastik

Selain akibat geopolitik global, kenaikan harga plastik juga disebabkan ketergantungan impor bahan baku plastik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Februari 2026, impor plastik dan barang dari plastik nilainya mencapai USD873,2 juta dari China, Korea Selatan dan Thailand. Sementara bahan baku plastik berupa nafta banyak diimpor dari Timur Tengah. 

Plastik bukan sekedar barang pelengkap dalam kehidupan saat ini sebab hampir seluruh rantai produksi dan konsumsi masyarakat berbahan dasar plastik dari mulai kebutuhan, rumah tangga, logistik, bidang kedokteran maupun transportasi sehingga plastik menjadi penting dalam aktivitas ekonomi.

Namun di sisi lain, plastik menyisakan sejumlah problem kehidupan, sampah plastik yang sulit terurai dan didaur ulang menjadi penyebab kerusakan besar pada lingkungan. Sebuah forum Ekonomi Dunia di Swis tahun 2016 memperkirakan bahwa ada lebih 150 juta ton plastik di lautan dengan tambahan 8 juta ton setiap tahunnya.


Bisnisnya Elite Global Kapitalis

Bahan bakar fosil dan plastik diproduksi oleh perusahan yang sama. Sebut saja, Dowdupont, Exxonmobil, Shell, Chevron, BP, Sinopec merupakan perusahan-perusahan yang terintegrasi sebagai pemain besar dalam bahan bakar fosil yang mendorong produksi plastik.

Plastik dianggap sebagai komoditas dagang yang wajib mengikuti hukum permintaan, penawaran serta memperhitungkan untung rugi bagi kapitalisme. Persoalan plastik mengungkap kenyataan bahwa kebutuhan hidup masyarakat modern saat ini tunduk pada mekanisme pasar global yang cenderung spekulatif, berorientasi pada keuntungan.
 
Ekonomi global yang dibangun atas dasar kapitalisme gagal menciptakan kedamaian dan kesejahteraan umat di dunia pasalnya negara-negara yang struktur ekonominya lemah sangat bergantung pada bahan-bahan impor yang dikirim negara pemasok sehingga sulit memenuhi kebutuhan dalam negeri ketika situasi politik global memanas seperti sekarang ini.


Butuh Negara yang Mandiri   

Dalam pandangan Islam, negara harus memiliki kemandirian secara ekonomi tidak tergantung pada pihak lain sehingga mampu maksimal dalam mengurus urusan umat untuk mencapai kekuatan spiritual, ekonomi, dan politik yang bermartabat. Kemandirian iini bukan berarti menutup diri dari dunia luar melainkan membangun kemandirian diri dan kemampuan untuk mengelola sumber daya dalam negeri supaya terhindar dari ketergantungan.

Negara Islam memiliki mekanisme pengaturan komprehensif mengintegrasikan ideologi (akidah), hukum (syariah) dan etika (akhlak) dalam mengelola Sumber Daya Alam termasuk minyak bumi demi kemaslahatan umat dan ramah lingkungan. 

Dengan berpegang pada prinsip bahwa Sumber Daya Alam adalah amanah Allah SWT Negara wajib mengelola Sumber Daya Alam secara optimal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan menjaga keseimbangan alam dan dilarang membuat kerusakan. 

Politik ekonomi Islam memastikan distribusi barang dan jasa sampai kepada umat melalui mekanisme berbasis keadilan, moralitas dan larangan praktik eksploitasi seperti penimbunan atau pencegahan barang dan jasa supaya kekayaan tidak bertumpuk pada segelintir orang.

Saatnya umat sadar bahwa politik ekonomi kapitalisme tidak mampu menyelesaikan problematika global, menciptakan keadilan serta kemaslahatan dunia. Karenanya kebutuhan terhadap sistem yang mampu mewujudkan ekonomi yang adil menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dunia menjadi kebutuhan yang mendesak.

Upaya penyadaran umat harus terus dilakukan melalui dakwah sehingga umat mampu mengalihkan pandangan kepada Islam karena satu-satunya yang mampu menyelesaikan problem global dunia harus beralih kepada sistem Islam dalam naungan khilafah. Wallahu a'lam.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar