Guru Tak Dihargai, Sistem Sekulerisme Demokrasi Wajib Disudahi


Oleh : Fitra Asril (Aktivis Muslimah Tamansari, Bogor)

Aksi tak terpuji dilakukan sejumlah siswa di SMA Negeri di Purwakarta, Jawa Barat. Mereka ramai-ramai mengacungkan jari tengah kepada seorang guru. Pihak sekolah sudah memanggil orangtua dan memberi sanksi. Siswa yang mengejek guru juga sudah mengunggah video permintaan maaf. Dengan hati yang besar, sang guru yang diolok-olok sudah memaafkan para siswa, bahkan sebelum mereka meminta maaf. (KompasTV.com, 20 April 2026) 

Praktisi pendidikan Agus Muharam mengaku prihatin sekaligus kecewa atas perilaku para siswa. Menurutnya, tindakan ini bertentangan dengan program pendidikan karakter yang digagas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. "Ini sebagai dampak karena perlindungan guru kurang diperhatikan, maka guru bersalah sedikit dilaporkan kepada kepolisian, sekarang bukan murid yang (takut) guru, tetapi guru yang (takut) oleh murid," kata Agus di Purwakarta. (MetroTVNews.com, 19 April 2026) 

Jelas perilaku seperti ini tidak dapat dibiarkan. Guru yang seharusnya dihormati, tetapi kini harkat martabatnya diinjak-injak oleh siswanya sendiri hanya demi konten atau pengakuan di media sosial. 

"Viral duluan, minta maaf belakangan". Mungkin kalimat ini yang banyak berseliweran akhir-akhir ini. Alhasil siswa era sekarang mengalami krisis moral akibat sistem pendidikan sekuler liberal yang mengabaikan adab kepada guru. 

Sikap siswa yang berani mengolok-olok guru menjadi bukti lemahnya wibawa guru. Tidak berdayanya guru untuk menegur siswa, seolah dihantui tuntutan hukum kedepannya. Padahal pemerintah sendiri sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila", kasus ini menjadi tamparan keras bahwa program-program tersebut baru sebatas formalitas administratif di atas kertas. Pada akhirnya, guru sekedar mengajar, bukan mendidik karena sudah dirundung keputusasaan. 

Masih banyak yang perlu dibenahi oleh pemangku kebijakan di negeri ini, agar output pendidikan bisa lebih berkualitas dan bermartabat. 

Seyogianya, kurikulum harus dibangun berlandaskan akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam, yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai syari'at. 

Pendidikan dalam Islam memadukan antara keimanan dengan ilmu kehidupan sehingga berpengaruh besar dalam setiap amal perbuatan. Pendidikan semacam ini pernah ditorehkan pada masa peradaban Islan selama 14 abad lamanya. Semisal Al Khawarizmi, seorang ahli matematika, dikenal Barat dengan Algebra atau Aljabar. Dengan kecerdasannya beliau merumuskan hitungan matematika jauh lebih mudah dengan angka nol ketika kala itu peradaban Romawi masih menggunakan angka Romawi yang susah dipelajari. Luar biasa bukan? 

Peradaban hari ini yang memisahkan agama dari kehidupan, sangat sulit mencetak generasi multitalenta, bukan hanya perkara dunia, akhirat pun menjadi orientasi mereka. Generasi yang kuat imannya, tinggi akhlaknya, serta cerdas akalnya hanya akan lahir ketika Islam yang menjadi rujukan mereka. Insyaallah generasi tangguh nan beradab akan tercetak. 

Yang tidak kalah penting, Negara harus menyaring konten digital yang merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan. Penerapan sistem sanksi Islam yang berfungsi sebagai penebus (Jawabir) dosa bagi pelaku, dan pencegah (Zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi ini memberikan efek jera yang nyata, namun tetap adil sesuai syari'at. 

Tidak akan dijumpai lagi kesewenang-wenangan siswa terhadap guru. Mereka akan berfikir berulang kali untuk melakukan hal tersebut. 

Oleh karena itu, tidak lagi bisa berharap sistem demokrasi sekuler akan mampu menyelesaikan problem ini. Sudah saatnya menyudahi sistem buatan manusia yang serba cacat ini, menjadi kembali kepada aturan yang paripurna dari Sang Maha Pengatur Segala, yakni Allah SWT. 

Wallahua'lam bi showab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar