Potret Buram Dan Memprihatinkan Dunia Pendidikan


Oleh : Ummu Aulia (Muslimah Pejuang Peradaban)

Setiap tanggal 2 Mei, kita rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Namun dibalik kemeriahan seremoni dan pidato formal, fakta di lapangan menunjukkan potret buram dan memprihatinkan dunia pendidikan. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk menimba ilmu, kini kerap menjadi saksi bisu maraknya kekerasan seksual. Tidak ada jaminan rasa aman bagi pelajar dan mahasiswa yang ada hanya rasa was-was serta ancaman.

Beberapa kasus terjadi di sejumlah daerah yang melibatkan anak usia remaja bahkan pelajar.

Kasus terbaru terjadi di jogja dimana Polisi menangkap dua dari lima pelaku pengeroyokan terhadap seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) di jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, kabupaten Bantul. Dwi sempat dirawat lalu dinyatakan meninggal di rumah sakit akibat luka yang dideritanya. (Kumparan.com).

Kedua remaja yang telah ditetapkan sebagai tersangka masih muda usia 18 serta 21 tahun.

Selain di Jogja di Bandung kasus pengeroyokan oleh remaja yang masih berstatus pelajar SMA hingga menyebabkan hilangnya nyawa juga kembali terjadi. Enam tersangka juga berstatus pelajar SMA dengan sekolah yang berbeda.

Di Bogor dua pelajar SMA di Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat di siram air keras oleh orang tak dikenal dalam perjalanan pulang menuju rumah. 

Bukan hanya melakukan pengeroyokan hingga mengakibatkan korban nyawa. Remaja dengan segala problemnya banyak melakukan kecurangan dalam ujian, maraknya joki UTK, dan budaya plagiat terjadi merata hampir disemua lembaga pendidikan.

Mengutip dari kompas.com. kecurangan berupa perjokian dalam Ujian Tulis Berbasis komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) terungkap di surabaya, Jawa Timur. Perjokian untuk meloloskan calon mahasiwa program study kedokteran itu terungkap dalam UTBK-SNBT di tiga Perguruan tinggi.

Dua pelaku berhasil di tangkap, mereka mengaku dibayar 100 juta jika berhasil lolos.

Pelaku dan pengedar narkoba di kalangan anak sekolah dan mahasiswa bertambah banyak.

Data dari Badan Narkotika Nasional mencatat. Hingga tahun 2023 diperkirakan terdapat 312.000 remaja/ pelajar yang menjadi penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

Di beberapa wilayah, seperti di Jawa Barat, tercatat kenaikan kasus narkoba hingga 57% pada tahun 2025, di mana 50% pelakunya berasa di usia remaja.

Perilaku pelajar yang menghina guru, meremehkan atau bahkan memenjarakan guru yang menegur mereka juga sudah banyak terjadi, siswa makin berani serta hilang adab terhadap guru.


Akibat Sistem Sekuler

Peringatan Hardiknas menjadi alarm keras bagi sistem pemangku kebijakan. Kondisi generasi yang makin buruk pengeroyokan, narkoba serta penyiraman air keras, hingga hilangnya adab terhadap guru yang dilakukan oleh remaja merupakan cermin buruk implementasi peta jalan pendidikan yang ada.

Sistem pendidikan sekuler yang dianut saat ini yakni pemisahan agama dari kehidupan melahirkan generasi yang krisis kepribadian. Keberhasilan dalam sistem ini hanya diukur dari angka dan mencetak generasi yang siap kerja, sementara penanaman akhlaq dikesampingkan. Akibatnya, banyak remaja kehilangan jati diri bahkan krisis adab.

Pendidikan dalam sistem ini menganggap materi adalah segalanya, puncak kebahagiaan diukur dari seberapa banyak materi yang diperoleh. Tontonan yang menyajikan kemewahan mengisi timeline mereka, akibatnya banyak remaja menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar secara instant. 

Longgarnya sanksi bagi para pelaku kejahatan yang kebanyakan masih dibawah umur memperparah keadaan. Sanksi yang diberikan tidak memberi efek jera, bahkan hanya dianggap sebagai kenakalan remaja padahal sudah menghilangkan nyawa. Hal ini cenderung membuat orang lain melakukan hal yang sama.

Minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar semakin memperlebar kebebasan bagi kaum remaja, sehingga remaja cenderung bersikap semaunya bahkan sampai jadi pembunuh dan melakukan berbagai kejahatan serta kemaksiatan.

Kejahatan ibarat api dia akan menyebar kalau tidak secara dipadamkan. Selama sistem sekuler kapitalisme masih dipakai niscaya kejahatan seperti ini akan terus berulang. 


Solusi Islam

Berbeda dengan sistem islam yang lahir dari pencipta manusia, yakni Allah Subhanahu wataala. Dalam sistem islam, pendidikan bukan sekedar transfer informasi, melainkan hak dasar dan wajib diberikan negara bagi seluruh rakyatnya.

Pendidikan dalam sistem ini berlandaskan aqidah islam, sehingga mencetak individu yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kokoh secara spiritual. Dengan berlandaskan keimanan pendidikan bertujuan melahirkan pribadi yang tidak tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakhlaq. Ilmu pengetahuan dan akhlaq berjalan secara beriringan sehingga dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, terhormat dan bermartabat bagi semua.

Fokus pendidikan adalah pembentukan karakter (syaksiyah islamiyah) pelajar harus dapat menyeimbangkan antara pola fikir dan pola sikap secara islamiyah. Hal ini didukung dengan tontonan yang dilihat oleh remaja, tontonan yang berpotensi memicu kejahatan seperti kekerasan, narkoba, pornografi serta kejahatan lainnya yang berpotensi merusak akal akan diblokir. Hanya tontonan yang sesuai syara yang ditayangkan di media sosial maupun media lainnya.

Islam akan menerapkan sanksi tegas sesuai syara bagi pelaku kejahatan termasuk pelajar. Hukuman dalam islam bersifat jawazir yakni hukuman yang bertujuan untuk mencegah pelaku melakukan perbuatannya lagi serta mencegah orang lain melakukan perbuatan yang sama. Serta jawabir yakni sanksi atau hukum yang berfungsi sebagai penebus dosa pelaku kriminal di akhirat.

Negara akan membangun suasana hidup yang penuh ketaqwaan dan mendorong setiap orang berlomba-komba dalam kebaikan.

Negara juga akan membangun sinergi positif dalam lingkungan keluarga, yakni dengan cara memberikan pekerjaan dengan upah yang layak kepada setiap ayah sehingga mereka bisa membersamai keluarga dalam ketaqwaan. Keluarga dalam rumah bertugas membangun ketaqwaan di dalam keluarga. Di luar masyarakat akan menciptakan lingkungan yang positif serta mengingatkan kebaikan serta tidak ragu untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar.

Sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara harus berpijak pada aqidah dan syariat islam.

Semua hanya bisa terwujud kalau syariat islam ditegakkan dalam bingkai khilafah islamiyah. Hanya khilafah yang dapat memberi rasa aman serta menghapus ketakutan akan tindak kejahatan yang makin mengerikan di akhir zaman.

Mari bersinergi dalam terwujudnya khilafah dengan ikut jamaah dakwah ideologis yang mengajak kita kembali kepada kehidupan islam. Sekecil apapun kontribusi setidaknya Allah tau posisi kita. Karena hanya ada dua golongan penentang dan pejuang.

Wallahu alam bissawab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar