Up Date Palestina: Hari Tahanan — Luka yang Tak Boleh Dilupakan


Oleh: Widya Rahayu S.Ikom

Tanggal 17 April 2026 kembali diperingati sebagai Hari Tahanan Palestina. Di berbagai penjuru dunia, gelombang aksi solidaritas terus menggema, menuntut pembebasan ribuan tahanan Palestina yang hingga kini masih berada di balik jeruji. Lebih dari 9.600 warga Palestina masih ditahan, sementara Undang-Undang hukuman mati yang disahkan Israel semakin mempertegas kerasnya penindasan. Kecaman pun datang dari berbagai pihak, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun lagi-lagi belum mampu menghentikan kezaliman yang terus berlangsung.

Setiap tanggal 17 April, umat seharusnya tidak sekadar mengingat, tetapi merasakan. Bukan sekadar mengetahui, tetapi tersentak. Karena Hari Tahanan Palestina bukan hanya tentang angka ribuan orang yang dipenjara. Hal ini adalah potret luka panjang yang terus menganga—luka yang menimpa saudara-saudara kita di tanah yang diberkahi, namun kini terbelenggu.

Sejak 1967, sekitar satu juta warga Palestina pernah merasakan pahitnya penjara penjajah. Bayangkan, satu dari lima rakyat Palestina pernah diseret ke balik jeruji. Ini bukan peristiwa insidental. Ini bukan sekadar “penegakan hukum”. Ini adalah sistem. Sistem yang menjadikan penjara sebagai alat menundukkan sebuah bangsa.

Namun yang lebih menyayat bukan hanya penahanannya, melainkan apa yang terjadi di dalamnya. Penjara-penjara itu bukan sekadar ruang isolasi, tetapi menjadi ruang penyiksaan. Tubuh dipukuli, kehormatan diinjak, makanan dibatasi, bahkan nyawa melayang tanpa keadilan. Di sana, kemanusiaan seolah dilucuti. Di sana, hukum berubah menjadi alat penindasan.

Lalu kita bertanya: di mana dunia?

Dunia ada. Dunia melihat. Dunia tahu.
Namun dunia memilih diam.

Ketika kezaliman begitu terang, tetapi tidak dihentikan, maka yang bermasalah bukan hanya pelaku kejahatan, tetapi juga sistem yang membiarkannya. Ketika hukum internasional hanya berhenti pada kecaman, maka jelas bahwa ia tidak cukup kuat—atau tidak cukup mau—untuk menegakkan keadilan.

Di sinilah tampak wajah nyata tatanan global hari ini. Sebuah tatanan yang dibangun di atas kepentingan, bukan keadilan. Sebuah sistem yang lantang berbicara tentang HAM, tetapi bisu ketika Palestina berdarah. Standar ganda bukan lagi dugaan, melainkan kenyataan yang telanjang.

Wahai kaum Muslimin,

Sampai kapan kita akan memandang Palestina sebagai berita biasa?
Sampai kapan kita hanya menjadi penonton penderitaan saudara kita?

Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan. Ia bukan sekadar konflik wilayah. Ia adalah qodhiyyah islamiyyah—perkara umat, perkara iman. Tanah itu adalah tanah kaum Muslimin. Masjid Al-Aqsa adalah bagian dari akidah kita. Maka setiap jeritan dari penjara-penjara itu sejatinya adalah panggilan bagi kita semua.

Namun realitasnya, banyak di antara kita yang masih terjebak dalam kepedulian sesaat. Hati tergerak ketika melihat gambar, air mata menetes saat mendengar kisah, tetapi semua itu hilang ketika perhatian beralih. Padahal Islam tidak mengajarkan empati yang musiman. Islam menuntut keterikatan yang lahir dari akidah—yang tidak padam oleh waktu dan tidak luntur oleh kesibukan dunia.

Rasulullah ﷺ telah menggambarkan umat ini seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan. Maka jika hari ini saudara kita disiksa di penjara, apakah kita benar-benar merasakan sakit itu? Ataukah hati kita telah menjadi kebal?

Lebih dari itu, umat ini juga harus jujur: apakah solusi yang selama ini ditempuh benar-benar membawa perubahan?

Berapa banyak resolusi dikeluarkan?
Berapa banyak kecaman disuarakan?
Namun apakah Palestina bebas?

Jawabannya belum.

Artinya, ada yang keliru dalam cara pandang dan cara bertindak. Mengandalkan lembaga internasional semata, tanpa kekuatan nyata, hanya akan berujung pada harapan kosong. Diplomasi tanpa daya hanyalah ilusi. Dan diam adalah bentuk lain dari pembiaran.

Karena itu, umat Islam harus bangkit dengan kesadaran yang benar. Kesadaran bahwa Palestina bukan beban orang lain, tetapi tanggung jawab kita bersama. Kesadaran bahwa pembebasan tidak lahir dari simpati, tetapi dari kekuatan. Kesadaran bahwa Islam memiliki konsep perjuangan yang jelas dan tidak kompromi terhadap penjajahan.

Dalam sejarahnya, umat ini tidak pernah membiarkan tanahnya dijajah tanpa perlawanan. Ada kepemimpinan yang melindungi, ada kekuatan yang menjaga, dan ada keberanian yang menggerakkan. Ketika semua itu ada, kehormatan umat terjaga. Ketika semua itu hilang, penderitaan pun berkepanjangan.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa akar persoalan Palestina hari ini adalah ketiadaan pelindung sejati bagi umat. Ketiadaan kekuatan yang mampu menghentikan kezaliman dan mengembalikan hak-hak yang dirampas.

Wahai kaum Muslimin,

Hari Tahanan Palestina adalah alarm keras bagi kita.
Alarm bahwa saudara kita masih menderita.
Alarm bahwa dunia tidak akan menyelamatkan mereka.
Dan alarm bahwa kitalah yang harus bergerak.

Jangan biarkan Palestina hanya hidup dalam doa tanpa usaha.
Jangan biarkan penderitaan mereka hanya menjadi cerita yang berlalu.

Bangun kesadaran. Teguhkan persatuan. Suarakan kebenaran tanpa takut. Dan yakini bahwa pertolongan Allah akan datang bagi mereka yang benar-benar berjuang di jalan-Nya.

Karena Palestina bukan hanya tentang tanah yang dirampas.
Tetapi tentang kehormatan umat yang harus dibebaskan.

Wallahu a'lam bish-shawab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar