Zionisme Dan Proyek Imperialisme Barat


Oleh : Lisa Ariani (Aktivis Dakwah)

Ribuan warga Palestina berkumpul di Ramallah pada hari kamis tanggal 17 April 2026 untuk memperingati Hari Tahanan Palestina. Peringatan tahun ini semakin dan lebih memilukan dari tahun-tahun sebelumnya mengingat peringatan dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat menyusul Knesset Israel yang mengesahkan Undang-Undang yang membolehkan untuk mengeksekusi mati tawanan Palestina. 

Komisi Urusan Tahanan dan mantan tahanan Palestina melaporkan bahwa jumlah tahanan Palestina dan negara-negara Arab di penjara Israel mencapai 9.600 orang hingga awal April 2026 (antaranews.com). Adapun sejak tahun 1967, diperkirakan sekitar 1 juta warga Palestina telah ditangkap oleh pasukan Israel, setara dengan 20% dari total populasi. Belum lagi kondisi tahanan Palestina yang ada di dalam penjara begitu mengenaskan. Zionis tidak henti-hentinya menimpakan penderitaan kepada tahanan Palestina. Sejumlah lembaga kemanusiaan pun mengungkap fakta tentang berbagai bentuk penyiksaan fisik, psikologis, pelecehan seksual, dan berbagai perlakuan kejam lainnya yang dilakukan oleh zionis. Mirisnya, sampai saat ini fakta tersebut dan tragedi kemanusian di Palestina masih terus berlangsung. Dan dunia seolah diam, tidak mampu berbuat apapun ketika melihat nyawa demi nyawa warga palestina melayang. 

Penjajahan dan kekejaman zionis terhadap warga palestina yang terus berlangsung sejatinya adalah proyek imperialisme global yang ditopang penuh oleh negara-negara kapitalisme Barat. Palestina dengan posisi strategisnya dikenal sebagai jantung dunia Arab dan Islam secara umum yang menjadi representasi keadaan baik dan buruknya umat. Posisinya berada di tengah-tengah sehingga menjadi penghubung Asia, Eropa, dan Afrika. Serta menjadi penghubung berbagai peradaban sejak zaman dahulu kala sehingga sering menjadi incaran para penguasa. Dan hal inilah yang semula mendorong negara-negara Imperialis Eropa dahulunya tergerak untuk menguasai Palestina karena posisi strategisnya sebagai rute atau jalur perdagangan untuk ekspansi kolonial mereka yang akan menjadi jembatan mereka ke Asia. Seiring berjalannya waktu Eropa juga menyadari bahwa wilayah jazirah Arab menyimpan kekayaan alam terutama minyak dan gas yang cukup besar. Inggris yang pada saat itu menjadi penguasa dunia menyadari bahwa jika negara-negara Arab bersatu maka Inggris tidak akan bisa menguasai Palestina. Sehingga Inggris memandang bahwa mereka butuh keberadaan entitas asing yang dominan di Palestina yang bisa memutus ketergantungan hubungan antar negara-negara Arab sebagai kesatuan politik. Dan pada akhirnya kebutuhan ini bertemu dengan ide zionisme Theodor Herzl yang menginginkan pendirian negara khusus Yahudi sehingga terjadilah simbiosis mutualisme. Jadi tidak heran jika negara-negara barat utamanya Amerika hari ini yang menggantikan Inggris sebagai penguasa global selalu mendukung apa yang dilakukan zionis.

Zionis seolah kebal dan tidak tersentuh hukum. Semua kebrutalannya diamini oleh Amerika. Sistem hukum Internasional dan lembaga-lembaga seperti Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) hanyalah instrumen dan tidak mau melindungi umat Islam yang terjajah. Karena ketika kepemimpinan global beralih kepada Amerika, Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang pada saat itu diketuai oleh Inggris, diubah oleh Amerika menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selanjutnya PBB melalui UN Partion Plan (Resolution 181) tahun 1947 mengusulkan untuk membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian yaitu 45% untuk Penduduk Arab Palestina, sedangkan 55% untuk zionis Israel dan pada akhirnya negera zionis Israel mendeklarasikan negaranya. Jadi, siapa bapaknya negara zionis Israel adalah Inggris. Ibunya adalah Amerika. Dan bidan yang membantu kelahiran negara zionis Israel adalah PBB. Dengan semua fakta sejarah tersebut, maka mustahil Inggris, Amerika dan PBB akan mau membantu Palestina atau menguntungkan orang-orang yang terjajah di Palestina. Mereka pasti kan menguntungkan anak yang dilahirkannya yaitu negara zionis Israel.

Adapun Hak Asasi Manusia (HAM) yang selalu digaungkan punya standar ganda alias tidak berlaku bagi Palestina. Fakta tersebut seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa akar masalah Palestina bukan hanya tentang pelanggaran HAM melainkan karena ketiadaan junnah (pelindung) yakni khilafah Islamiyah. Sejarah memperlihatkan bahwa Palestina bisa di kuasai oleh zionis ketika khilafah Turki Utsmani runtuh. Selama berabad-abad palestina selalu dijaga oleh khilafah Islamiyah dan hanya dalam naungan Islam Palestina bisa hidup aman dan damai. Namun ketika khilafah Turki Utsmani runtuh, tiada lagi pelindung kaum muslim. Kaum muslim layaknya anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu kemana harus mencari perlindungan. Tanah-tanah kaum muslim dirampas dan dibagi-bagi layaknya potongan kue sebagaimana sabda Rasulullah. Kaum muslim menjadi objek penjajahan bahkan menjadi umat yang paling menderita sampai dengan hari ini. Oleh karena itu, Islam wajib membangun kesadaran ideologis bahwa persoalan palestina adalah qodiyyah islamiyyah bukan sekedar masalah kemanusiaan atau nasionalisme. Sehingga kepedulian kepada Palestina harus didasari oleh aqidah bukan sekedar perasaan empati sesaat. 

Umat Islam tidak boleh berdiam diri, berdiplomasi ataupaun menyerahkan urusan Palestina kepada PBB. Karena selama ini PBB hanya dijadikan alat oleh Amerika untuk memuluskan kepentingan zionis dengan hak veto yang dimilikinya di PBB. Umat Islam harus menyuarakan solusi jihad dan khilafah. Karena jihad tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya persatuan kaum muslim dalam institusi yang satu yaitu khilafah Islamiyyah. Khalifah akan memobilisasi kaum muslim untuk melakukan jihad membela Palestina. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa umat Islam memiliki kekuatan besar yang mampu menjadikan khilafah menjadi negara adidaya. Menaungi dunia dengan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan. Khilafah satu-satunya institusi yang memiliki kewenangan, kekuatan, dan kewajiban syar'i untuk mengerahkan pasukan jihad membebaskan Palestina, memerangi zionis Yahudi. Sebagaimana di dalam sirah Nabi di ceritakan tentang bagaimana pembelaan Rasulullah dan kaum muslim terhadap seorang wanita yang dilecehkan oleh lelaki Yahudi Bani Qainuqa di Pasar Bani Qainuqa. Mendengar hal tersebut Rasululah pun memobilisasi pasukan kaum muslim untuk pergi menuju Yahudi Bani Qainuqa. Rasulullah mengepung mereka selama lima belas hari sejak hari peratama bulan Dzulqadah. Kemuadian Allah menancapkan dalam hati orang-orang Yahudi tersebut rasa takut sehingga akhirnya mereka tunduk terhadap kekuasaan Rasulullah. begitulah seharusnya pemimpin kaum muslimin bersikap tegas dalam membela kehormatan kaum muslimin. Bukan malah sibuk berdiplomasi, karena yahudi dari dulu tidak bisa mengenal bahasa lain selain bahasa perang (jihad). Wallohualam
 




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar