Seminar Parenting Sumut Cerdas Tebing Tinggi: Pemberdayaan atau Sekadar Seremoni?


Oleh: Winda Raya, S.Pd., Gr

Bunga melati tumbuh di taman,
Harumnya sampai ke pinggir kali,
Program digelar penuh seremoni dan pujian,
Namun rakyat kecil masih jarang dihampiri.

Pantun tersebut menggambarkan bahwa banyak program pemberdayaan terlihat megah dan penuh pencitraan, tetapi manfaatnya belum benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil yang paling membutuhkan bantuan dan perhatian.

Website resmi Kota Tebing Tinggi pada tanggal 13 Mei 2026 mengabarkan bahwa Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Tebing Tinggi mengikuti seminar parenting bertema “Sumut Cerdas yang Inovatif” yang diselenggarakan secara virtual oleh DWP Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah dinas Sekretaris Daerah Kota Tebing Tinggi, Jalan Perintis Kemerdekaan, pada Rabu (06/05/2026).

Ketua DWP Kota Tebing Tinggi, Ny. Afrida Erwin Suheri Damanik, turut hadir dan memimpin kegiatan bersama para pengurus serta anggota lainnya. Seminar ini menyoroti pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam membentuk generasi yang cerdas sekaligus memiliki karakter yang baik.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh berbagai materi terkait pola pengasuhan anak, cara membangun komunikasi yang efektif di lingkungan keluarga, serta langkah menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah. Materi yang diberikan diharapkan mampu mendorong anggota DWP menjadi pelopor perubahan positif dimulai dari lingkungan keluarga.

Melalui seminar parenting ini, para orang tua diharapkan semakin memahami metode mendidik anak yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan DWP terhadap program pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul.

Pada seminar tersebut dijelaskan bahwa keluarga memiliki peranan penting sebagai dasar utama pendidikan anak. Rumah tangga merupakan tempat pertama anak belajar, sehingga pendidikan yang baik di lingkungan keluarga akan membantu mencetak generasi yang siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Seminar parenting ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para peserta, baik yang mengikuti secara langsung maupun melalui daring. Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan ini juga mempertegas komitmen DWP Kota Tebing Tinggi dalam mendukung terwujudnya sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.

Dengan terlaksananya seminar tersebut, DWP Kota Tebing Tinggi berharap peran keluarga dalam mendukung visi Sumut Cerdas dan Inovatif yang diusung Dharma Wanita Persatuan tingkat provinsi dapat semakin diperkuat.

Program pemberdayaan kerap terlihat lebih menyerupai simbol politik yang dibungkus dengan kegiatan formal. Kelompok seperti istri ASN pada dasarnya telah memiliki akses, relasi sosial, dan kondisi ekonomi yang relatif stabil. Sementara itu, perempuan di wilayah pinggiran, pekerja sektor informal, hingga keluarga terdampak stunting di Tebing Tinggi justru masih minim perhatian dan pendampingan nyata.

Gagasan Sumut Cerdas tidak cukup dibangun melalui seminar di hotel atau kegiatan seremonial semata. Masyarakat yang benar-benar maju lahir dari pembangunan kualitas sumber daya manusia yang sadar, berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, serta mampu memahami persoalan di lingkungannya secara lebih mendalam.

Masih banyak ibu rumah tangga di kawasan pinggiran, pekerja informal, keluarga miskin perkotaan, hingga masyarakat dengan masalah stunting yang justru minim tersentuh oleh program-program seremonial seperti seminar daring dan pelatihan formal. Ketimpangan sasaran inilah yang sering kali membuat program pemberdayaan hanya berputar di kalangan tertentu tanpa menghasilkan dampak sosial yang luas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana program seperti ini benar-benar menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan?

Narasi Sumut Cerdas seharusnya tidak berhenti pada slogan dan ruang seminar. Konsep masyarakat cerdas membutuhkan pembangunan yang lebih konkret dan menyentuh kebutuhan dasar warga. Namun, sering kali terlihat kegiatan seperti ini memperlihatkan pola pembangunan yang terlalu berorientasi pada sistem kapitalisme yang berlandaskan pada kepemilikan modal, persaingan pasar, dan keuntungan pribadi.

Sementara di sisi lain, masyarakat membutuhkan sistem pendukung yang nyata, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, pendidikan berkualitas, ruang publik yang aman, serta kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan.

Dalam sistem Islam, pemberdayaan masyarakat dibangun dari bawah dengan memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi terlebih dahulu, seperti pangan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan lapangan pekerjaan. Negara tidak hanya menjadi fasilitator seminar, tetapi hadir langsung mengurus rakyat.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau sering turun langsung memeriksa kondisi rakyat di malam hari. Ketika menemukan keluarga miskin yang kelaparan, Umar memikul sendiri gandum dari baitul mal untuk diberikan kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa pemimpin dalam Islam tidak cukup membuat program simbolik, tetapi wajib memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Selain itu, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan masyarakat meningkat karena distribusi zakat, baitul mal, dan kebijakan ekonomi dilakukan secara adil. Bahkan disebutkan sulit menemukan penerima zakat karena tingkat kemiskinan menurun drastis. Fokus pemerintah saat itu bukan membangun citra, tetapi membangun kesejahteraan rakyat secara nyata.

Islam juga mengajarkan pembangunan sumber daya manusia yang sadar, kritis, dan berakhlak. Pendidikan dalam Islam tidak hanya melahirkan tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Dengan demikian, masyarakat cerdas dalam pandangan Islam dibangun melalui keadilan, kepedulian nyata, dan tanggung jawab negara terhadap seluruh rakyat, terutama mereka yang selama ini terpinggirkan.

Wallahua’lam bisshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar