Pengaruh Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik Terhadap Wibawa Guru


Oleh : Iva Nur

Banyak peristiwa memprihatinkan di dunia pendidikan khususnya di Indonesia yang menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang dimiliki bukanlah sistem yang bisa mengatur bagaimana pendidikan seharusnya berjalan. Dapat dilihat baru-baru ini terdapat sejumlah siswa yang memperlihatkan sikap tidak pantas terhadap guru di ruang kelas, dimana para siswa mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang hal itu dinilai melecehkan guru, sosok yang seharusnya dihormati para siswanya atas ilmu yang telah diberikan untuk generasi bangsa. Mirisnya, tindakan merendahkan guru tersebut seringkali dilakukan dengan sengaja demi konten dan mendapatkan pengakuan di media sosial. Fenomena ini menjadi bukti bahwa wibawa dan martabat guru telah diabaikan. Dengan tindakan tidak pantas tersebut pihak sekolah memberikan skorsing selama 19 hari, namun hal ini dinilai belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa oleh Dedi M, ia megusulkan bahwa bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku siswa tersebut.

Pelecehan guru yang terjadi di Purwakarta tersebut terjadi karena sistem pendidikan saat ini yang berlandaskan sistem sekuler kapitalistik, dimana norma agama dipisahkan dari kehidupan. Tidak dapat dipungkiri sistem sekuler kapitalistik ini memicu krisis moral yang serius pada generasi muda seperti perundungan serta pudarnya adab siswa. Hal ini bisa dikatakan sebagai kegagalan sistemik, dimana pendidikan hanya difokuskan pada nilai akademik dan mengabaikan pembentukan karakter serta mereduksi peran guru sehingga guru seringkali tidak berdaya dalam menegakkan kedisiplinan karena berbenturan dengan aturan yang mengekang. Kurangnya adab siswa yang terjadi ini tidak berbanding lurus dengan adanya program profil pelajar pancasila yang sering digaungkan pemerintah, program ini berjalan seperti sekedar formalitas semata, dimana program ini justru memberikan beban administratif kepada guru dengan pembuatan laporan serta modul yang rumit, yang mana program ini membuat esensi pembelajaran berkurang dan hanya fokus pada hasil akhirnya saja. 

Dengan banyaknya permasalahan yang terjadi diatas, maka hal yang harus diperbaiki adalah kurikulum pendidikan itu sendiri. Kurikulum memiliki peran penting sebagai sebuah perangkat yang akan mengarahkan peserta didik pada tujuan pendidikan. Kurikulum pendidikan harus dibangun dengan berlandaskan akidah islam sebagai pondasi utama untuk membentuk generasi muda yang bertakwa, berakhlak mulia serta berpengetahuan, sehingga peserta didik mampu memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syari’at. Selain itu, menjadi kewajiban negara dalam menyaring dan membatasi konten yang dikonsumsi oleh siswa, dimana pada usia anak-anak dan remaja berada pada fase perkembangan yang rentan terkena pengaruh negatif. Penyaringan konten yang dilakukan ini bertujuan untuk melindungi siswa dari resiko ruang digital seperti pornografi, kekerasan, bullying, dan perbuatan menyimpang lainnya. Untuk mencegah orang lain melakukan peniruan terhadap tidakan yang tidak pantas harus diterapkan sistem sanksi islam agar kemaslahatan tetap terjaga melalui dua fungsi yang utama yaitu zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). Sanksi islam sendiri sengaja dirancang untuk memberikan efek jera kepada pelaku dengan hukuman yang tegas dan nyata, yang mana hukuman ini akan menimbulkan rasa takut untuk berbuat keji. Sanksi ini juga memiliki tujuan untuk penebus dosa bagi pelaku, sehingga dengan hukuman tersebut pelaku tidak disiksa lagi dengan dosa itu di akhirat, tentu sanksi ini harus dilaksanakan sesuai dengan syari’at.

Dalam islam guru memiliki posisi sebagai sosok yang sangat mulia dan memiliki kedudukan tinggi, dimana guru mempunyai peran yang penting dan krusial dalam hal menyebarkan ilmu, membimbing karakter, serta mencerdaskan generasi bangsa. Guru bukanlah hanya sekedar profesi pengajar, melainkan sosok yang sangat penting untuk membimbing manusia menuju kebaikan, sehingga kita harus menjaga wibawa guru dengan menjadi siswa yang beradab dan beretika. Dengan ini, guru harus mendapatkan penghidupan yang layak, guru yang sejahtera merupakan pondasi utama dalam menciptakan generasi emas yang berkualitas.



Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar