Tuntutan Perempuan Pekerja: Wujudkan Sistem Memuliakan (Islam)


Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd (Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin)

Organisasi Perempuan Mahardhika Samarinda menyampaikan pernyataan sikap terkait kondisi perempuan pekerja yang dinilai masih jauh dari kata layak. Melalui juru bicara Disya Halid, mereka menyoroti maraknya diskriminasi, kekerasan, hingga ketidakpastian kerja yang dialami perempuan di Indonesia. Disya menyebut perempuan pekerja saat ini masih hidup dalam tekanan situasi kerja yang tidak aman, dengan upah rendah, status kerja tidak pasti, serta minim perlindungan sosial. Kondisi ini dinilai semakin berat di tengah tingginya angka kemiskinan dan terbatasnya lapangan kerja formal.

Perempuan Mahardhika Samarinda menyampaikan sejumlah tuntutan. Di antaranya mendesak pemerintah menghadirkan lapangan kerja yang layak bagi perempuan, memastikan lapangan kerja yang aman dan bebas diskriminasi, serta memberikan jaminan sosial dan perlindungan maternitas.

Peringatan Hari Buruh 1 Mei biasanya disuarakan oleh para laki-laki yang notabene bekerja. Kali ini perempuan secara khusus pun menuntut akan statusnya sebagai pekerja namun masih tak layak dalam dunia kerja. Melalui Perempuan Mahardhika Samarinda yang menuntut adanya diskriminasi, kekerasan, hingga ketidakpastian kerja di Indonesia. Inilah potret kehidupan perempuan yang hidup tak layak sebagaimana mestinya.

Momentum hari buruh perempuan menyuarakan tuntutan-tuntutannya. Sebelumnya juga sudah sering para buruh demo terkait upah, kerja layak, hingga ancaman PHK. Namun tetap saja kesejahteraan buruh tak diraih. Jika sekarang perempuan terjun ikut menyuarakan, akankah tuntutan tersebut dipenuhi negara? Benarkah sudah tuntutan perempuan jika terus bekerja dalam sistem ini akan wujudkan kemuliaan bagi mereka?


Perempuan Terjebak Sistem

Ketika perempuan terjun ke dunia kerja, sungguh merupakan bukti gagalnya negara memuliakan perempuan yang seharusnya mereka fokus di rumah. Negara justru mendorong dan memanfaatkan potensi yang dimiliki perempuan untuk meraup keuntungan. Seperti melibatkan mereka dalam peran-peran yang tak seharusnya dilakoni, salah satu di antaranya meniti karier, menjadi tulang punggung keluarga alias bekerja. Akibatnya menimbulkan berbagai persoalan yang tidak pernah terselesaikan, bahkan perempuan itu sendiri menjadi korban.

Sungguh, perempuan hari ini terjerat dalam sistem Kapitalisme, mereka dituntut beban ganda di dalam dan di luar rumah. Padahal tak ada jaminan ketika di tempat kerja mereka aman.

Penghormatan dan dukungan kepada perempuan bukan dengan memenuhi tuntutan mereka aman bekerja dsb tetapi bagaimana mereka dipenuhi nafkahnya oleh suaminya. Artinya wajib bekerja adalah laki-laki, negara harus menyediakan lapangan kerja sehingga perempuan bisa fokus akan perannya.

Tuntutan perempuan saat hari buruh kemarin justru menandakan mereka terjebak dalam seruan gender feminisme/ emansipasi. Tuntutan hidup layak tidak akan diraih selama sistem ini justru memanfaatkan bahkan menghinakan mereka. Perlu perubahan sistem yang memuliakan perempuan, itulah yang seharusnya diperjuangkan.


Islam Memuliakan Perempuan

Perempuan bekerja dalam Islam hukumnya adalah boleh. Artinya tidak ada larangan, apalagi jika mengharuskan perannya untuk sesama perempuan. Misalnya bidan, dokter kandungan, mengajar sesama perempuan, dan sejenisnya. Andai bekerja pun ada ketentuan yang seharusnya dipenuhi, yaitu tidak melanggar hukum Syara’. Misalnya menutup aurat, tidak khalwat/ berduaan, ikhtilat/ campur baur, tidak tabarruj berhias berlebihan dan tidak mengabaikan kewajiban sebagai isteri dan ibu.

Sebaliknya laki-laki bekerja hukumnya wajib. Laki-laki diberikan kodrat kekuatan karena ia bertugas sebagai pemimpin, baik memimpin keluarga maupun masyarakat. Sementara perempuan fitrahnya kelembutan dan kasih sayang dengan tugas besarnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Dalam Islam perempuan akan berdaya, berkarya dan mulia. Perempuan dengan sistem pemerintahan Islam akan mencetak generasi emas peradaban mulia. Tak sedikit perempuan akan jadi ilmuwan dan andil dalam pemerintahan Islam.

Perempuan dalam Islam boleh menjadi anggota partai politik dan melakukan muhasabah lil hukkam (menasehati penguasa), serta memilih pemimpin. Perempuan juga diperkenankan menjadi anggota Majelis Umat yang merupakan lembaga perwakilan umat. Namun Islam tegas melarang perempuan menjadi pemimpin dalam urusan kekuasaan dan pemerintahan.

Hanya dengan Islam perempuan mulia dan fokus mengurus rumah tangga. Peran perempuan dalam Islam akan sesuai dengan fitrahnya yakni sebagai isteri dan ibu. Andai perempuan bekerja dan berdaya maka itu karena keahlian dan manfaatnya bagi masyarakat.

Tidak salah perempuan kreatif, berdaya dan bekerja hanya saja dalam pandangan Islam bukan kapitalisme sekuler yang menumbalkan peran isteri dan ibu. Dalam Islam negara tidak akan cuci tangan dengan mengandalkan perempuan, perempuan akan dilindungi dan dimuliakan. Oleh karena itu mari kita perjuangkan Islam, sistem yang memuliakan perempuan dan seluruh alam.

Wallahu’alam...




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar