Oleh : Lia Ummu Thoriq (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Kasus kekerasan makin banyak dilakukan oleh pelajar, ruang aman di sekolah tak terjamin (Kumparannews, 21/04/2026). Selain kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa, dunia pendidikan tercoreng dengan kasus kecurangan dalam ujian, maraknya joki UTBK, dan budaya plagiat terjadi merata di semua lembaga pendidikan (Tempo.co, 21/04/2026). Bagaimana nasib bangsa kita jika mahasiswa sebagai penerus perjuangan bangsa dengan bangga melakukan kecurangan?
Tak berhenti sampai disini, lagi-lagi menorehkan pelajar tinta hitam pada dunia pendidikan. Pelaku dan pengedar narkoba di kalangan anak sekolah dan mahasiswa juga bertambah banyak (Antaranews.com, 06/05/2026). Selain kejadian diatas, adab pelajar juga sangat memprihatikan. Prilaku pelajar menghina guru, atau memenjarakan guru karena memarahi atau menghukum siswa juga makin berani (Suara.co, 22/04/2026)
Inilah kondisi out put pendidikan hari ini. Namun faktanya tiap tahun Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dirayakan, nyatanya dunia pendidikan makin buram dan kondisinya makin memprihatinkan. Peringatan Hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini. Mengapa hal ini bisa terjadi di negeri ini?
Pertama, Kegagalan peta jalan pendidikan. Peta adalah sesuatu yang urgent, ketika salah mementukan peta maka kita tidak sampai pada tujuan kita. Begitu pula dengan peta jalan pendidikan hari ini, jika salah menentukan maka out put tidak dapat dihasilkan dengan baik. Peta jalan pendidikan hari ini adalah Sekularisme, yaitu pemisahan agama dengan kehidupan. Agama "haram" turut campur dalam masalah kehidupan. Out put yang dihasilkan dari peta jalan pendidikan hari ini adalah pelajar atau mahasiswa yang krisis kepribadian, pragmatis, tidak beradab dan tidak tau aturan.
Kedua, Minimnya nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama adalah kompas bagi kita sebagai orang yang beramal. Nilai-nilai agama yang akan menuntun kita kepada jalan kebenaran. Namun faktanya hal ini tidak terjadi pada sistem pendidikan kita hari ini. Nilai-nilai agama yang diajarkan sekolah atau kampus "menguap" begitu saja. Pelajaran agama sejajar dengan mata pelajaran yang lain, hanya diambil nilai akademik semata. Wajar jika hari ini dunia pendidikan tercoreng dengan ulah bejat pelajar dan mahasiswa.
Ketiga, Sanksi yang tidak tegas. Salah satu penyebab menggunungnya kasus yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa karena sanksi yang ditegakkan di negeri ini tidak tegas. Pelaku yang dikategorikan sebagai anak membuat pelaku bebas dari hukuman. Akibatnya pelaku yang bebas dapat melakukan kenakalan remaja kedua kalinya. Seharusnya negara memberikan sanksi yang tegas agar kasus kenakalan remaja ini segera tuntas.
Keempat, Sistem pendidikan sekuler kapitalistik menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar. Inilah kondisi pendidikan kita saat ini, makin buram dan memprihatikan. Harus ada upaya serius dari semua pihak agar kasus ini tidak terus berulang. Pelajar dan mahasiswa adalah penerus perjuangan bangsa.
Sistem Pendidikan Islam Melahirkan Generasi Cemerlang
Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan.
Sistem pendidikan Islam mempunyai tujuan mencetak generasi bersyaksiyah islam, dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Syaksiyah Islam maksudnya adalah pelajar senantiasa melakukan perbuatan dengan dasar halal haram. Ketika perbuatan tersebut haram maka dia dengan tegas tidak akan melakukannya namun jika perbuatan itu halal dia akan melakukannya. Dengan syaksiyah Islam ini maka pelajar akan minim berbuat maksiat atau melanggar hukum. Karena dia merasa perbuatannya selalu diawasi oleh Allah.
Selain membentuk syaksiyah Islam pada pelajar negara juga memberlakukan sistem sanksi yang tegas bagi yang melanggar. Bagi pelaku yang belum baligh maka Islam tidak menjatuhkan sanksi. Namun jika tindakan tersebut karena kelalaian orang tua dalam mengontrol anak. Maka sanksi akan dijatuhkan kepada orang tua pelaku sebagai pihak yang bertanggung jawab. Namun jika pelaku kenakalan pelajar sudah baligh maka negara akan menjatuhkan sanksi kepada pelaku tersebut. Sanksi dalam Islam bersifat jawazir (pencegah) dan jawabir (penebus).
Tidak hanya negara, orang tua punya kewajiban untuk mendidik anaknya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT; "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras" (QS. At tahrim Ayat 6)
Ayat diatas mengajarkan kepada kita orang tua agar menjaga anak-anaknya dari api neraka. Salah satu penjagaannya adalah dengan penanaman agama yang kuat. Orang tua mempunyai peran dan tanggung jawab mengajarkan pendidikan agama Islam kepada anak-anaknya. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Ditangan orang tua lah masa depan anak terukir. Orang tua harus menanamkan aqidah kepada anaknya. Aqidah adalah pondasi keimanan kepada Allah bagi seseorang anak. Selain aqidah orang tua juga harus mengajarkan syariat atau aturan Allah kepada anak-anaknya. Pengajaran syariat ini secara bertahap dan pembiasaan.
Selain orang tua atau keluarga masyarakat juga berperan dalam pendidikan anak. Anak tidak mungkin dikurung di rumah. Mereka butuh bersosialisasi di masyarakat. Mereka tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kontrol Masyarakat dibutuhkan dalam pendidikan dan perkembangan anak. Ketika anak memiliki sikap atau perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan Islam maka masyarakat yang akan menegur anak-anak. Contoh kecil ketika remaja yang sudah baligh tidak sholat Jum'at tapi nongkrong di warung. Maka disini peran masyarakat dibutuhkan untuk menegur agar anak-anak tersebut sholat Jum'at.
Demikianlah cara dalam sistem Islam mencetak generasi dengan cara;
1. Menerapkan sistem pendidikan yang membentuk pelajar untuk bersyaksiyah Islam.
2. Menerapkan sistem sanksi.
3. Keluarga dan masyarakat juga mendidik dengan baik pelajar.
Dengan tiga hal ini maka akan melahirkan generasi yang cemerlang,bersyaksiyah Islam dan minim melanggar aturan.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar