Oleh : Ummu Hanan
Beberapa waktu lalu pemerintah telah melemparkan wacana ke publik terkait rencana penghapusan jurusan perkuliahan yang dipandang tidak relevan lagi dengan kekinian. Penutupan prodi ini dilatari oleh pandangan ketidaksesuaian prodi tersebut dengan kebutuhan industrI. Polemik pun terjadi dimana tidak sedikit dari para kalangan akademisi maupun legislatif yang memandang wacana ini masih butuh pengkajian lebih lanjut secara menyeluruh. Diantara faktor yang menjadi acuan kurangnya potensi prodi terkait permintaan pasar industri adalah menurunnya jumlah peminat, meningkatnya jumlah lulusan yang menganggur, lapangan kerja yang sudah tidak muncul di tengah bursa lowongan kerja serta fenomena lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya (mediaindonesia, 27/4/2026). Di sisi lain ada yang masih meyakini bahwa sejumlah displin ilmu yang diajarkan pada prodi tertentu mungkin saja tidak mendatangkan keuntungan secara materi akan tetapi tetap berkontribusi besar dalam membangun peradaban.
Wacana penghapusan prodi akibat minimnya permintaan dunia industri merupakan dampak sistem kehidupan yang sekuleristik. Dalam sistem ini setiap turunan sistem kehidupan yang diatur di dalamnya berorientasi pada materi. Termasuk dalam urusan pendidikan. Seperti halnya pemdidikan tinggi yang akhirnya dituntut untuk menyesuaikan dengan tuntutan pihak korporat. Dunia industri menjadi rujukan relevansi sektor pendidikan dengan harapan output yang dihasilkan mampu diserap oleh dunia kerja sebagai tenaga buruh mereka. Negara menjadi berlepas tangan terhadap kebutuhan untuk melayani urusan rakyatnya. Kebijakan yang diambil pun tampak sebagai sikap terhadap kepentingan persaingan korporasi untuk membesarkan bisnis mereka. Sistem kapitallisme membuka ruang yang sangat luas bagi keberadaan pemilik modal untuk mengendalikan urusan rakyat dan negara hanya sebatas hadir sebagai fasilitator.
Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam mengurus rakyat. Dalam salah satu hadits Nabi saw. dijelaskan bahwa “Imam (khalifah) adalah raa’in, ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya” (HR Bukhari). Melalui hadits ini sangat jelas kita dapati bahwa kedudukan negara yang direpresentasikan oleh penguasa adalah sebagai pengurus rakyat. Negara tidak boleh abai ketika menjalankan fungsinya sebagai raa’in. Negara sangat butuh dalam mencetak para ahli di bidang apa saja yang nantinya akan berguna bagi peradaban umat manusia. Maka disinilah para sumber daya manusia (SDM) handal mutlak dibutuhkan. Mereka dibutuhkan bukan untuk menghidupkan bisnis korporasi melainkan dalam rangka mengurusi rakyat. Hal ini tidak lain karena diantara tugas pokok negara dalam Islam adalah melayani rakyat.
Dunia pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Termasuk dalam hal ini adalah penm didikan tinggi. Negara dalam tugasnya berkepentingan untuk menentukan visi dan misi pendidikan, kemudian kurikulum, pembiayaan serta sarana dan prasarana. Dalam sejarah Islam sistem pendidikannya terbukti mampu mencetak generasi unggul. Output pendidikan dalam sistem Islam tidak hanya menguasai tsaqafah atau pengetahuan Islam melainkan juga dalam hal ilmu sains dan teknologi. Para ilmuwan dan cendekiawan muslim dikenal dengan keluasan ilmu dan kerap disebut sebagai polymath atau seseorang yang menguasai banyak disiplin ilmu. Sebut saja seperti Ibnu Sina yang ahil dalam bidang kedokteran dan filsafat, Al Biruni yang merupakan pakar antropologi, matematika, astronomi, kedokteran, sejarah dan filsafat serta Al Khawarizmi yang dikenal sebagai bapak aljabar, ahli astronomi dan geografi. Sekiranya negara Islam pada waktu itu hanya berorientasi pada keuntungan materi mungkin mereka semua hanya menjadi pedagang dan tak dikenal di peradaban hingga kini.
Inilah urgensitas negara dalam mengadopsi sistem kehidupan yang membangun peradaban luhur. Jika sistem kapitalisme telah tampak kegagalannya mencetak generasi kecuali berorientasi kepentingan korporasi. Maka kita jelas membutuhkan adanya sistem alternatif yang berfokus pada keunggulan SDM. Bukan sekadar menguasai ilmu dunia tetapi juga mumpuni dalam hal agama karena hakikatnya antara agama dan kehidupan saling terkait satu dengan lainnya. Sistem Islam menjadi harapan besar bagi perbaikan kualitas SDM negeri ini dan juga seluruh negeri lain tentunya, karena syariat Islam akan mengembalikan fitrah manusia menuju pada peradaban mulia sesuai titah Pencipta, Allah swt. Allahu’alam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar