KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْن ٥٠ (اَلْمَائِدَةُ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu alaihi wasallam;
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi).
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sering kali manusia merasa sudah berada di jalan yang benar karena memiliki kekuasaan, dukungan, dan program yang terlihat berpihak kepada rakyat. Namun kebenaran sejati bukan diukur dari pidato dan klaim semata, melainkan dari apakah aturan dan kebijakan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan hukum Allah Subhanahu wata’ala serta membawa keadilan bagi masyarakat. Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya berada di jalan yang benar, membela keadilan, memberantas kemiskinan, dan diridhai Tuhan. Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa negeri ini masih dikelola dengan sistem kapitalisme-sekuler, termasuk dalam praktik utang ribawi yang terus membesar.
Per akhir Maret 2026, utang Indonesia mencapai Rp.9.920,42 triliun atau sekitar 40,75% dari PDB. Pemerintah bahkan menganggarkan Rp.599,4 triliun hanya untuk membayar bunga utang. Laporan Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menyebut utang jatuh tempo tahun 2026 mencapai Rp.833,96 triliun, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, yang disebut sebagai tembok utang (debt wall). Ironisnya, besarnya utang tersebut belum mampu menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. Menurut catatan World Bank, jumlah warga miskin Indonesia diperkirakan mencapai 57,2% dari total penduduk, sehingga Indonesia berada di urutan kedua tingkat kemiskinan tertinggi di Asia Tenggara.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kadang sebuah negara terlihat kuat dan berdaulat di hadapan dunia, tetapi dari arah kebijakannya tampak semakin bergantung pada kekuatan asing. Hal itu pula yang kini banyak disorot dari kedekatan Indonesia dengan kepentingan Amerika Serikat melalui perjanjian dagang ART, kerja sama militer MDCP, dan keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP). Dalam ART, Indonesia harus membebaskan bea masuk 99% produk AS, membeli produk Amerika sekitar Rp.190 triliun, serta membeli pesawat Boeing hingga Rp.557 triliun. Perjanjian ini dinilai lebih menguntungkan AS dan berpotensi mengganggu kedaulatan Indonesia.
Sikap Indonesia terhadap Palestina juga makin dipertanyakan. Presiden Prabowo menyatakan pengakuan Palestina harus disertai jaminan keamanan bagi Israel, padahal Israel terus melakukan penjajahan dan serangan ke Gaza. Indonesia juga bergabung dalam Board of Peace bentukan Donald Trump yang tidak melibatkan Palestina, serta tidak mengecam serangan AS dan Israel ke Iran maupun tewasnya empat prajurit TNI akibat serangan Israel di Lebanon. Karena itu, banyak pihak menilai kebijakan tersebut tidak menunjukkan keberpihakan yang tegas kepada umat dan rakyat tertindas.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Tidak semua yang dianggap baik oleh manusia otomatis benar di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Jabatan, kekuasaan, dukungan rakyat, bahkan pujian para ahli bukan ukuran utama kebenaran. Dalam Islam, ukuran benar dan salah tetap harus dikembalikan kepada dua syarat utama.
Pertama: seorang hamba dikatakan berada di atas kebenaran ketika mengimani Allah Subhanahu wata’ala secara haq dan menjadikan-Nya satu-satunya Pembuat hukum kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala mengecam Ahlul Kitab karena menjadikan rahib dan pendeta mereka sebagai pembuat hukum selain Allah:
اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ
”Mereka menjadikan para rahib dan para pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah” (QS. at-Taubah [9]: 31).
Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan bahwa bentuk “menyembah” itu adalah ketika manusia mengikuti aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh meninggalkan hukum Allah lalu memakai hukum buatan manusia, termasuk dalam perkara riba yang jelas diharamkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ (278) فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ...
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkan sisa-sia riba (yang belum dipungut) jika kalian adalah kaum Mukmin. Jika kalian tidak meninggalkan sisa-sisa riba itu maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian... (QS. al-Baqarah [2]: 278-279).
Kedua: tanda seorang hamba mendapat ridha Allah Subhanahu wata’ala adalah menerima dan menjalankan seluruh aturan-Nya. Seorang penguasa dikatakan berada dalam kebenaran ketika menerapkan syariah Islam dalam mengatur negara. Allah Subhanahu wata’ala bahkan menyebut orang yang tidak berhukum dengan hukum-Nya sebagai kafir, zalim, atau fasik. (QS. al-Mâidah: 44,45,47).
Termasuk kewajiban itu adalah tidak memberi jalan bagi negara kafir untuk menguasai kaum Muslim, baik melalui utang, penguasaan sumber daya alam, maupun perjanjian yang merugikan umat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا
“Allah tidak akan memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
Karena itu, seorang penguasa Muslim wajib meyakini bahwa hanya syariah Islam yang mampu menghadirkan keberkahan dan keadilan bagi rakyat. Tidak ada aturan yang lebih baik daripada hukum Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya:
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
”Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? “ (QS. al-Mâidah [5]: 50). Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar