RUPIAH MELEMAH, BEBAN MASYARAKAT MENENGAH KE BAWAH MAKIN BERAT


Oleh : Aqiila Shofie

Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi pukulan berat bagi masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah. Depresiasi rupiah menyebabkan harga bahan baku, pangan, hingga energi mengalami kenaikan. Dampaknya dirasakan langsung oleh rakyat kecil yang daya belinya semakin tertekan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Bagi masyarakat kelas atas, pelemahan rupiah mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam grafik ekonomi. Namun bagi rakyat kecil, kondisi ini berarti harga kebutuhan pokok makin mahal, ongkos transportasi naik, biaya produksi meningkat, dan penghasilan semakin tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika banyak masyarakat akhirnya bergantung pada pinjaman online (pinjol) demi bertahan hidup. Data pinjaman online yang terus meningkat menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi meminjam untuk kebutuhan sekunder, tetapi demi memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ini menjadi tanda nyata bahwa tekanan ekonomi telah mencapai level yang serius.

Di berbagai daerah, dampak krisis juga mulai terlihat jelas. Nelayan di Pantura misalnya, mengeluhkan hasil tangkapan yang menurun disertai kelangkaan solar subsidi dan kenaikan harga BBM yang membuat biaya melaut melonjak drastis. Situasi ini membuat mereka terancam tidak dapat bekerja dan kehilangan sumber penghasilan. Sementara itu, rakyat kecil di sektor informal juga semakin kesulitan bertahan akibat harga barang yang terus naik.

Ironisnya, di tengah kondisi masyarakat yang semakin terhimpit, pemerintah justru menilai situasi masih dalam kondisi aman. Pernyataan bahwa masyarakat desa “tidak memakai dolar” memperlihatkan ketidakpekaan terhadap realitas ekonomi yang dihadapi rakyat. Padahal, pelemahan rupiah terhadap dolar berdampak langsung pada harga barang impor, bahan baku industri, hingga biaya energi yang akhirnya memengaruhi harga kebutuhan masyarakat secara luas.

Secara global, pelemahan rupiah tidak dapat dilepaskan dari konstelasi politik internasional, termasuk meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi aktivitas pasar dunia. Ketidakstabilan geopolitik global membuat investor menarik modal mereka ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan.

Namun, persoalan utama bukan sekadar faktor global. Yang lebih mendasar adalah lemahnya sistem ekonomi dalam negeri serta kebijakan pemerintah yang tidak menyentuh akar masalah. Alih-alih memberikan solusi nyata, berbagai kebijakan justru semakin menambah beban rakyat, termasuk meningkatnya utang negara yang pada akhirnya juga dibebankan kepada masyarakat melalui pajak maupun kenaikan harga berbagai layanan dan kebutuhan hidup.

Akibatnya, masyarakat dipaksa menanggung sendiri kesulitan ekonomi. Negara tampak lebih sibuk menjaga stabilitas angka makroekonomi dibanding memastikan rakyat benar-benar mampu hidup sejahtera.

Dalam perspektif Islam, sistem ekonomi dibangun di atas prinsip perlindungan terhadap masyarakat, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi semata. Islam menetapkan sistem mata uang yang lebih stabil berbasis emas dan perak, sehingga nilai uang tidak mudah dipermainkan oleh fluktuasi pasar maupun dominasi mata uang asing.

Selain itu, Islam memiliki mekanisme syariat untuk menjaga stabilitas harga dan keseimbangan ekonomi. Praktik riba diharamkan karena menjadi salah satu sumber ketimpangan dan krisis ekonomi. Negara juga wajib menjamin distribusi kekayaan agar tidak hanya berputar di kalangan tertentu. Kepemilikan umum atas sumber daya strategis seperti energi dan tambang dikelola negara untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta atau korporasi.

Islam juga menempatkan pemimpin sebagai ra’in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (pelindung). Artinya, kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab langsung negara. Pemimpin tidak boleh abai terhadap penderitaan rakyat, apalagi menganggap kesulitan ekonomi sebagai sesuatu yang biasa.

Dengan demikian, persoalan pelemahan rupiah bukan hanya soal kurs mata uang, tetapi cerminan rapuhnya sistem ekonomi yang diterapkan hari ini. Selama kebijakan ekonomi masih tunduk pada sistem kapitalisme dan kepentingan pasar global, rakyat kecil akan terus menjadi pihak yang paling menderita.

Karena itu, dibutuhkan perubahan mendasar menuju sistem ekonomi yang benar-benar menjamin kesejahteraan rakyat dan melindungi mereka dari kesengsaraan hidup. Islam menawarkan mekanisme yang tidak hanya berfokus pada angka pertumbuhan, tetapi memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara adil dan menyeluruh.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar