Penderitaan Di Gaza, Urgensi Perisai Umat


Oleh : Rohmah.SE,Sy

Pada akhir April 2026, pasukan angkatan laut Zionis melakukan penyerbuan dan penyitaan terhadap lebih dari 20 kapal yang merupakan bagian dari misi kemanusiaan bernama Global Sumud Flotilla II. Kapal-kapal ini sedang berlayar membawa bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan perlengkapan dasar lainnya dari sejumlah pelabuhan di Eropa menuju Jalur Gaza. Namun, mereka dicegat di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, yaitu jarak lebih dari 900 kilometer dari wilayah Gaza, jauh di luar batas perairan yang diklaim oleh Zionis. Lebih dari 170 aktivis dari berbagai negara yang berada di dalamnya ditangkap, dan komunikasi antar kapal serta dengan pusat misi juga diganggu hingga terputus. Sebelumnya, misi serupa juga telah dihalangi pada tahun lalu, namun misi kali ini dianggap sebagai upaya terbesar sejauh ini dengan melibatkan lebih dari 70 kapal dan sekitar 1.000 peserta.

Menurut laporan resmi dari koalisi Global Sumud Flotilla, dalam serangan yang terjadi pada 30 April lalu di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, militer Zionis tidak hanya menyita kapal-kapal bantuan, tetapi juga menangkap 211 aktivis dari berbagai negara dan menyebabkan 31 orang di antaranya terluka akibat tindakan kekerasan yang dilakukan saat penangkapan berlangsung. Beberapa di antaranya mengalami luka fisik, sementara yang lain menderita gangguan kesehatan akibat perlakuan kasar, penyiksaan psikologis, atau kondisi penahanan yang buruk. Para aktivis ini sebenarnya hanya membawa makanan, obat-obatan, dan perlengkapan sekolah untuk penduduk Gaza yang sudah lama menderita akibat serangan dan pemblokade, serta tidak membawa senjata sama sekali.

Sudah bertahun-tahun, Jalur Gaza menjadi saksi penderitaan yang tak berkesudahan. Penduduknya terus menghadapi serangan militer yang membabi buta, kehancuran infrastruktur hingga ke akar-akarnya, serta pemblokade ketat yang membatasi akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, dan air bersih. Sampai saat ini, penderitaan mereka belum berakhir—bahkan terus memburuk, sementara dunia tampak banyak diam atau hanya mengeluarkan pernyataan tanpa tindakan nyata. Kondisi ini menjadi bukti nyata betapa mendesaknya kebutuhan akan tegaknya perisai yang kokoh bagi umat Islam, untuk melindungi saudara seiman dan menegakkan keadilan.


Penderitaan di Gaza

Selama berjalannya waktu, serangan terhadap Gaza tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap kali gencatan senjata disepakati, ia sering kali dilanggar dengan cepat, menimbulkan korban jiwa yang terus bertambah—baik anak-anak, wanita, maupun orang tua. Lebih dari itu, hampir seluruh bangunan, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum telah hancur lebur, membuat penduduknya hidup dalam kondisi yang sangat sulit dan tidak layak. Pemblokade yang berlangsung terus-menerus membuat hidup mereka semakin menderita: obat-obatan langka, makanan sulit didapat, dan bahkan pasokan listrik serta air bersih sering kali terhenti. Semua ini dilakukan dengan sengaja, seolah-olah penduduk Gaza dibiarkan menderita dan terasing dari dunia luar, tanpa ada kekuatan yang mampu atau mau melindungi mereka.

Mengapa Peristiwa Ini Sangat Menyakitkan dan Tidak Adil? Melanggar Hukum Internasional: Perairan internasional adalah wilayah yang terbuka dan bebas untuk dilalui oleh kapal dari negara mana pun, dan tidak ada pihak yang berhak mengganggu, menyita, atau menangkap orang-orang yang berada di sana tanpa alasan yang sahBerita ini sungguh memilukan dan semakin membuktikan betapa kejam serta tidak berperikemanusiaannya tindakan yang dilakukan.

Pihak Zionis mengaku memiliki bukti yang menunjukkan bahwa misi armada bantuan ini tidak murni bersifat kemanusiaan, melainkan beroperasi di bawah arahan atau dukungan langsung dari kelompok Hamas, yang mereka sebut sebagai organisasi teroris. Mereka menegaskan bahwa tindakan penangkapan dan penyitaan kapal adalah langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan mencegah masuknya barang-barang yang berbahaya atau dukungan yang tidak sah ke wilayah Gaza.


Tuduhan Zionis hanya Tipu Muslihat
 
Tidak ada bukti yang kuat dan dapat dipercaya. Sampai saat ini, semua bukti yang disampaikan oleh pihak Zionis hanya berupa dokumen yang tidak jelas asal-usulnya, keterangan yang tidak dapat diverifikasi secara mandiri, atau dugaan-dugaan belaka. Tidak ada satu pun bukti yang meyakinkan dan diakui oleh pihak ketiga yang tidak memihak. Sebaliknya, pihak penyelenggara misi telah berulang kali menegaskan bahwa mereka adalah kelompok sipil yang sepenuhnya mandiri, bekerja secara transparan, dan hanya bertujuan untuk mengirimkan bantuan kepada penduduk yang menderita, tanpa terikat pada kelompok politik atau militer mana pun.Cara Angka-angka ini sungguh mengerikan dan menyayat hati, membuktikan betapa dahsyatnya penderitaan yang dialami rakyat Gaza selama dua tahun terakhir. Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, hingga 5 Mei 2026, jumlah korban tewas telah mencapai 72.615 orang, 172.468 lainnya terluka, dan sekitar 90% infrastruktur sipil hancur lebur—mulai dari rumah sakit, sekolah, jalan raya, hingga jaringan air dan listrik. Biaya rekonstruksi yang diperkirakan oleh PBB mencapai sekitar 70 miliar dolar AS, jumlah yang sangat besar dan sulit dipenuhi oleh wilayah yang sudah lama diblokade dan miskin sumber daya ini.
Kenyataan ini menunjukkan beberapa hal yang sangat menyakitkan, Ini adalah pembunuhan massal yang terencana: Sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak, wanita, dan orang tua. Angka korban yang terus bertambah sepanjang waktu membuktikan bahwa serangan ini tidak bertujuan melawan kelompok tertentu saja, melainkan bertujuan menghancurkan seluruh kehidupan di Gaza dan memusnahkan penduduknya.

Segala penderitaan, penindasan, dan kesulitan yang dialami oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia—mulai dari Palestina, Gaza, hingga negara-negara Muslim lainnya—tidak terjadi secara kebetulan. Semua ini berakar dari satu hal yang paling mendasar: hilangnya negara yang berdiri di atas landasan akidah Islam dan menjalankan syariat-Nya secara utuh di seluruh aspek kehidupan. Ketika umat Islam tidak memiliki negara yang berfungsi sebagai pelindung, pengatur, dan penegak kebenaran, maka terbukalah jalan lebar bagi kekuatan asing untuk masuk, menguasai, dan menindas kita.


Urgensi Perisai Umat

Hilangnya Kekuatan Penyatuan: Negara berlandaskan akidah Islam memiliki kekuatan untuk menyatukan seluruh umat tanpa memandang suku, bangsa, atau wilayah. Ia mengubah jutaan individu yang terpisah menjadi satu kekuatan besar yang kokoh dan tangguh. Tanpa adanya wadah ini, umat Islam terpecah belah menjadi banyak negara kecil yang lemah, saling berjauhan, dan bahkan saling bermusuhan. Dalam kondisi terpecah seperti ini, sangat mudah bagi kekuatan asing untuk menguasai kita—baik dengan cara memecah belah lebih jauh, menyuap pemimpin, maupun menekan dengan kekuatan militer.

Sistem yang Diadopsi Menguntungkan Penjajah: Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sistem negara-bangsa, sistem politik demokrasi, dan sistem ekonomi kapitalis yang dianut saat ini adalah sistem buatan Barat. Sistem ini dirancang dengan tujuan melayani kepentingan mereka dan menjaga keuntungan kelompok pemilik modal. Ketika negara-negara Muslim mengadopsi sistem ini, secara otomatis kebijakan yang diambil pun akan berpihak pada kepentingan Barat dan penguasa dunia, bukan pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Akibatnya, kekayaan alam negara-negara Muslim dikuasai, kebijakan politik dikendalikan, dan kedaulatan dirampas oleh kekuatan asing.

Tidak Ada Kekuatan yang Melawan: Negara berlandaskan akidah Islam memiliki prinsip untuk menolak segala bentuk pengaruh asing yang bertentangan dengan syariat dan merugikan umat. Ia berdiri tegak dengan kemandirian penuh, tidak tunduk pada tekanan atau perintah kekuatan manapun kecuali kepada Allah SWT. Tanpa adanya negara seperti ini, maka tidak ada kekuatan yang berani atau mampu menentang keinginan Barat. Mereka bebas melakukan apa saja: mendukung entitas Zionis, menyerang negeri-negeri Muslim, mencampuri urusan dalam negeri, hingga menghalangi bantuan kemanusiaan, tanpa ada rasa takut akan balasan atau perlawanan yang berarti.

Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai wewenang dan peran Khilafah, hampir seluruh ulama dan umat Islam sepakat bahwa melindungi kaum Muslimin yang ditindas dan menghentikan kezaliman adalah kewajiban agama yang sangat besar. Perdebatan lebih banyak berkisar pada siapa yang berwenang melaksanakannya dan bentuk institusi apa yang paling tepat untuk menjalankannya secara efektif. Namun, hal yang pasti adalah bahwa kondisi saat ini di mana umat Islam tidak memiliki kekuatan yang bersatu dan terorganisir, membuat kita sulit untuk menghentikan penderitaan saudara kita dan menegakkan keadilan di dunia. Oleh karena itu, perjuangan untuk membangun kekuatan yang mampu melindungi umat dan menegakkan hukum Allah tetap menjadi tugas utama yang harus diupayakan oleh seluruh umat Islam, sesuai dengan pemahaman dan kemampuan masing-masing.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar