Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyatakan bahwa Jalur Gaza kini menjadi wilayah paling mematikan bagi jurnalis di dunia. Dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia, OHCHR meminta komunitas internasional tidak hanya menyampaikan kecaman dan solidaritas, tetapi juga mengambil langkah nyata untuk melindungi jurnalis serta memastikan akses media internasional yang independen ke Gaza. Kepala HAM PBB Volker Türk juga menyebut perang yang berlangsung di Gaza telah berubah menjadi jebakan maut bagi pekerja media. OHCHR mencatat hampir 300 jurnalis tewas sejak agresi Zionis Israel dimulai pada Oktober 2023. Selain korban meninggal, banyak jurnalis mengalami luka saat melakukan peliputan di wilayah tersebut. Jumlah korban di Gaza terus bertambah. Puluhan ribu warga meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka, termasuk anak-anak yang harus kehilangan anggota tubuh akibat serangan perang. Bahkan, tidak sedikit jenazah warga Palestina yang dipindahkan dan dibongkar dari tempat pemakaman mereka. Zionis Israel juga terus memperluas wilayah pendudukan dan menyiapkan serangan baru di Gaza. Sumber: Antara, Senin, 4 Mei 2026.
Fakta-fakta tersebut memperlihatkan kejahatan yang terjadi di Palestina bukan lagi sekadar konflik biasa, melainkan tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan. Ketika jurnalis dijadikan sasaran, dunia seharusnya memahami ada upaya besar untuk menutup informasi agar kebiadaban yang terjadi tidak diketahui publik internasional. Jurnalis adalah saksi mata yang menyampaikan kenyataan di lapangan. Ketika mereka dibunuh satu per satu, yang ingin dihabisi sebenarnya bukan hanya manusia saja, tetapi juga kebenaran.
Dehumanisasi terhadap Muslim Palestina kini mencapai tingkat yang sangat mengerikan. Orang hidup dibunuh tanpa belas kasihan, sedangkan yang sudah meninggal pun tidak mendapatkan penghormatan sebagai manusia. Kuburan dibongkar, jenazah dipindahkan, dan tanah Palestina dirampas sedikit demi sedikit. Semua itu menunjukkan bahwa penjajahan Zionis tidak lagi memandang rakyat Palestina sebagai manusia yang memiliki hak hidup. Anak-anak menjadi korban amputasi, perempuan kehilangan keluarga, dan rakyat sipil hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, dunia internasional hanya sibuk mengeluarkan pernyataan tanpa tindakan nyata yang mampu menghentikan tragedi tersebut.
Yang lebih menyakitkan, agresi itu terus berlangsung karena adanya dukungan politik, militer, dan keuangan dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat. Dukungan tersebut membuat Zionis Israel semakin percaya diri memperluas pendudukan dan melanjutkan serangan. Gencatan senjata yang pernah disepakati pun tidak dihormati. Akibatnya, korban terus bertambah dari waktu ke waktu. Gaza berubah menjadi wilayah yang dipenuhi darah, reruntuhan, tangisan anak-anak, dan kematian.
Pembunuhan terhadap jurnalis juga menunjukkan bahwa Zionis sangat takut pada penyebaran fakta. Mereka memahami bahwa gambar, video, dan laporan dari lapangan dapat membuka mata dunia tentang luar biasanya kejahatan yang sedang terjadi. Karena itu, jurnalis dijadikan target agar suara rakyat Palestina hilang dari pemberitaan internasional. Ini bukan sekadar serangan terhadap media, tetapi serangan terhadap kebebasan menyampaikan kebenaran.
Sikap diam dunia Islam dalam menghadapi tragedi Palestina juga menjadi persoalan besar. Negeri-negeri Muslim yang jumlahnya lebih dari 50, seolah tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan penjajahan tersebut. Padahal, umat Islam memiliki jumlah penduduk yang besar, sumber daya melimpah, dan kekuatan militer yang seharusnya mampu memberikan perlindungan bagi Palestina. Namun, nasionalisme telah memecah belah kaum Muslim menjadi negara-negara kecil yang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Akibatnya, ukhuwah Islamiah hanya tersisa dalam pidato dan slogan, sementara rakyat Palestina terus menjadi korban pembantaian.
Keadaan ini memberikan dampak yang sangat luas. Generasi Palestina tumbuh dalam trauma perang berkepanjangan. Anak-anak yang seharusnya bermain dan belajar justru hidup di tengah suara bom dan kehilangan keluarga. Dunia juga semakin terbiasa melihat kekerasan terhadap Muslim Palestina sehingga rasa kemanusiaan perlahan memudar. Dan, jika penjajahan terus dibiarkan, kezaliman akan dianggap sebagai sesuatu yang normal dalam politik internasional. Ini sangat berbahaya bagi masa depan dunia.
Selain itu, pembungkaman terhadap media juga berdampak besar pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga internasional. Ketika PBB hanya mampu mengecam tanpa tindakan nyata, banyak orang mempertanyakan fungsi lembaga tersebut dalam menjaga hak asasi manusia. Dunia menjadi lemah ketika berhadapan dengan zionis Israel, tetapi keras jika dengan negara yang dianggap lemah. Standar ganda inilah yang akhirnya membuat rakyat kehilangan kepercayaan terhadap sistem internasional hari ini.
Karena itu, umat Islam tidak boleh terus berada dalam kondisi terpecah dan lemah. Palestina bukan hanya urusan satu bangsa, melainkan urusan seluruh kaum Muslim. Kesadaran tentang pentingnya persatuan umat harus segera dibangun kembali. Umat Islam membutuhkan ukhuwah Islamiah yang hakiki, bukan sekadar hubungan emosional tanpa kekuatan nyata. Persatuan itu harus diwujudkan dalam satu kepemimpinan, satu negara, dan satu bendera, yaitu bendera Lailahaillallah Muhammad Rasulullah.
Sungguh, hanya persatuan umat di bawah syariah dan khilafahlah jalan untuk mengakhiri penjajahan Palestina. Dengan persatuan tersebut, kekuatan kaum Muslim tidak lagi tercerai-berai oleh batas nasionalisme. Militer negeri-negeri Muslim dapat disatukan untuk melindungi rakyat Palestina dan menghentikan genosida yang terus berlangsung. Khilafah juga akan menjaga tanah Palestina sebagai tanah kaum Muslim serta memastikan rakyatnya hidup dengan aman dan mulia tanpa penjajahan.
Umat Islam harus segera memahami perjuangan Palestina bukan sekadar isu politik, tetapi persoalan penting yang menentukan masa depan umat. Jika umat terus diam dan terpecah, maka penderitaan Palestina akan terus berulang. Namun, jika kesadaran persatuan segera dibangun kembali dalam naungan syariah dan khilafah, harapan pembebasan Palestina akan semakin nyata. Sejarah sudah membuktikan umat Islam pernah menjadi kekuatan besar ketika bersatu dalam satu kepemimpinan dan satu tujuan. Wallahualam bissawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar