Dehumanisasi Palestina: Tragedi Kemanusiaan dan Urgensi Pembebasan Hakiki


Oleh: Yanti Fariidah (Founder Rumah Pintar ZR Magelang)

Dunia hari ini menyaksikan sebuah drama penderitaan yang melampaui batas nalar kemanusiaan. Palestina bukan sekadar wilayah yang sedang berkonflik. Palestina adalah cermin dari matinya hati nurani peradaban modern. Zionis tidak lagi hanya mengincar tanah dan kedaulatan. Mereka telah bergerak menuju tahap dehumanisasi sistematis yang sangat mengerikan. Manusia di sana tidak lagi dianggap sebagai manusia. Bahkan, kehormatan mereka tetap dirampas meski raga sudah tidak bernyawa.


Fakta Dehumanisasi yang Mengerikan

Kekejaman di tanah Palestina menyasar setiap sendi kehidupan. Berdasarkan laporan dari Metrotvnews, serangan udara dan darat terus menghancurkan bangunan warga. Anak-anak menjadi korban yang paling menderita dalam agresi ini. Data terbaru yang dilansir oleh Antara News per Mei 2026 menunjukkan angka yang sangat menyayat hati. Jumlah korban tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang. Sementara itu, korban luka-luka menembus angka 172.535 orang.

Penderitaan fisik ini diikuti oleh perlakuan yang tidak manusiawi terhadap jenazah. Zionis dilaporkan melarang penguburan jenazah di tanah milik mereka sendiri. Dalam banyak kasus, makam yang sudah ada justru dibongkar secara paksa. Jenazah dipindahkan tanpa rasa hormat. Fakta ini diperkuat oleh laporan Republika yang memuat kesaksian tentara Zionis. Mereka mengaku mendapat instruksi untuk membunuh pria di Gaza tanpa memandang usia. Hal ini menjelaskan mengapa genosida terus berlangsung tanpa henti.

Aspek informasi juga tidak luput dari serangan. Menurut Bali Antaranews, Jalur Gaza kini menjadi tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis telah gugur saat menjalankan tugas. Pembunuhan ini adalah upaya sengaja untuk mematikan mata dunia. Zionis ingin kejahatan mereka tidak tersiar keluar. Di sisi lain, Tempo melaporkan realitas memilukan tentang kesehatan anak-anak. Satu dari lima warga Gaza yang menjalani amputasi adalah anak-anak. Mereka harus kehilangan anggota tubuh di usia yang sangat dini.


Akar Masalah: Eksistensi Entitas Penjajah

Melihat fakta-fakta di atas, gencatan senjata terbukti tidak pernah menjadi solusi efektif. Zionis terus mengabaikan setiap kesepakatan internasional. Mereka tetap memperluas pendudukan di Jalur Gaza. Antara News menyebutkan bahwa Zionis sedang menyiapkan penyerbuan berikutnya untuk memperlebar wilayah kekuasaan. Hal ini menunjukkan bahwa ambisi mereka adalah penghapusan total bangsa Palestina.

Dukungan militer dan keuangan dari Amerika Serikat memperkuat posisi penjajah. Tanpa dukungan tersebut, entitas ini sebenarnya rapuh. Namun, masalah terbesar justru datang dari keheningan dunia Islam. Saat ini, terdapat lebih dari 50 negeri Muslim di seluruh dunia. Namun, para penguasa di sana seolah kehilangan taji. Mereka terbelenggu oleh kepentingan sempit dan batas-batas nasionalisme. Ukhuah Islamiah yang seharusnya menjadi penggerak aksi nyata telah terkikis habis. Nasionalisme membuat penderitaan di Gaza dianggap sebagai urusan domestik bangsa lain.

Padahal, akar masalah Gaza adalah keberadaan entitas Zionis di tanah milik umat Islam. Selama entitas ini masih berdiri, genosida akan terus berulang. Keberadaan mereka adalah duri yang terus menusuk jantung dunia Islam. Maka, pandangan yang hanya fokus pada bantuan kemanusiaan tidaklah cukup. Masalah Palestina adalah masalah kedaulatan dan kehormatan agama yang dirampas.


Solusi Islam Kaffah: Persatuan dan Jihad

Penyelesaian tragedi Palestina memerlukan langkah yang nyata dan sistematis. Islam memberikan jalan keluar melalui penerapan syariat secara menyeluruh (kaffah). Solusi ini tidak dimulai dari meja perundingan yang didominasi oleh negara-negara pendukung penjajah. Solusi hakiki dimulai dari persatuan umat Islam sedunia. Umat memerlukan satu kepemimpinan politik tunggal, yaitu Khilafah.

Institusi Khilafah akan berfungsi sebagai perisai bagi seluruh Muslim. Khilafah tidak akan membiarkan jurnalis dibunuh atau anak-anak diamputasi. Khilafah akan mengarahkan kekuatan militer dari seluruh negeri Muslim. Tujuannya adalah melakukan jihad untuk membebaskan tanah Palestina secara total. Tanah tersebut adalah tanah kharaji yang menjadi milik umat Islam hingga hari kiamat. Tidak boleh ada satu jengkal pun yang diserahkan kepada penjajah.

Allah SWT telah memberikan peringatan dan panduan dalam Al-Qur'an terkait perjuangan ini. Allah SWT berfirman: "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman." (QS At-Taubah [9]: 14).

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan umat hanya akan kembali melalui perjuangan yang nyata. Mengharap belas kasihan internasional adalah sebuah kesia-siaan. Hanya dengan kekuatan militer yang terorganisir, penjajahan bisa dihentikan. Khilafah akan memastikan warga Palestina hidup dengan mulia. Kedaulatan mereka akan dikembalikan sepenuhnya.

Agenda utama umat hari ini adalah menegakkan kembali institusi tersebut. Tanpa Khilafah, umat Islam akan terus terpecah-pecah dalam kotak nasionalisme. Tanpa Khilafah, militer negeri-negeri Muslim hanya akan berdiam di barak saat saudara mereka dibantai. Membebaskan Palestina adalah kewajiban ideologis, bukan sekadar isu kemanusiaan biasa. Sudah saatnya umat bergerak menuju solusi yang dijanjikan oleh Allah SWT. Hanya dengan Islam kaffah, keadilan sejati akan tegak di atas bumi Palestina




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar