Oleh : Vera Carolina, S.P
Pendidikan merupakan hal penting dalam membentuk generasi suatu bangsa. Kewajiban suatu negara memberikan pendidikan sebagai bekal membangun peradapan suatu bangsa. Dengan pendidikan akan mencetak generasi yang berkualitas, yaitu generasi yang mampu berkontribusi bagi negara yang maju dan beradab.
Di Indonesia muncul wacana penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco selaku Dosen Unair, menegaskan keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan seperti kebutuhan industri. Pendapat berbeda disampaikan oleh Rektor UMM dan Unisma, para Rektor menolak Penutupan Prodi Tak Sesuai Pasar dengan alasan kampus bukan pabrik pekerja. Selain itu, pendapat Wakil Rektor UMY lebih memilih melakukan penyesuaian kurikulum dibanding menutup Prodi. Sedangkan Rektor UGM mengaku kampusnya rutin mengevaluasi Prodi dan terbuka untuk menutup atau membuka atau merger Prodi.
Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran, Profesor Arief Anshory Yusuf, menilai bahwa rencana pemerintah untuk "menata program studi" sebetulnya berasal dari kekhawatiran banyak lulusan perguruan tinggi tidak memperoleh pekerjaan, jika diteliti sejak pemerintah pusat memberikan otonomi terhadap perguruan tinggi dalam mengurus perguruqn tinggi tersebut, ditambah pemberlakuan kebijakan efisiensi anggaran, kampus-kampus di Indonesia harus bersiasat mencari pendapatan atau pemasukan demi memenuhi kebutuhannya. Sehingga perguruan tinggi membuka kelas berdaya tampung besar yang menargetkan lulusan perguruan tinggi yang siap bekerja melayani induatri.Neoliberalisme pendidikan menjadikan fungsi perguruan tinggi sebagai sesuatu yang dikomersilkan sehingga bersifat transaksional.
Orientasi Pendidikan Sekuler
Pendidikan yang berlandaskan sekuler akan berorientasi pada nilai materi. Pendidilkan sekuler menyebabkan perguruan tinggi harus menyesuaikan dengan tuntutan dunia hari ini adanya industri-industri. Orientasi pendidikan sekuler akan memenuhi lulusan yang siap bekerja pada industri sehingga prodi-prodi yang ada sejalan dengan kepentingan industri. sedangkan yang tidak sejalan akan dihapuskan.
Pendidikan sekuler menjadikan negara berlepas tangan terhadap kebutuhan sumber daya manusia untuk melayani urusan rakyat. Sejati nya perguruan tinggi mampu mencetak SDM yang siap berkontribusi bagi masyarakat dan kemajuan negara. Para lulusan yang ada seharusnya ilmu yang dipelajari menjadi berguna dalam kehidupan rakyat. Sebaliknya output pendidikan sekuler tidak dirancang mewujudkan SDM yang seluruh lulusannya dapat berkontribusi bagi rakyat. Alhasil kebijakan yang diambil pemerintah merupakan reaksi dan respon terhadap berbagai macam kepentingan yang saling bersaing.
Pendidikan dalam Sistem Islam
Pendidikan dalam Islam berbeda dengan pendidikan sekuler. Pendidikan Islam berlandaskan akidah Islam. Pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam yang berlandaskan akidah dan syariat, sekaligus membekali peserta didik dengan ilmu kehidupan (iptek dan tsaqafah). Pendekatan ini bertujuan mencetak generasi berakhlak mulia yang ahli di berbagai bidang tanpa dikotomi ilmu. Output pendidikam Islam mampu mewujudkan SDM unggul dan cemerlang. SDM yang ada mampu berkontribusi dalam melayani urusan rakyatnya. Karena penting pendidika baagi rakyat maka, Islam mewajibkan Negara memenuhi kebutuhan pendidikan setiap individu rakyat. Sebagimana sabda Nabi SAW, "Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Dalam sistem Islam, Pendidikan tinggi atau perguruan tinggi adalah tanggung jawab negara. Negara yang menentukan Visi-Misi pendidikan, kurikulum, dan pembiayaan. Perguruan tinggi yang ada dapat mewujudkan SDM yang berkualitas dan bertakwa. Seluruh pembiayaan sarana dan prasarana disediakan langsung oleh negara.Kemudian negara secara mandiri akan mengelola Pendidikan Tinggi agar tidak tergantung pada tekanan baik dalam negeri maupun luar negeri karena bersandar kepada Syariat. Melalui peguruaan tinggi, dapat mencetak lulusan yang mampu berkontribusi bagi rakyat serta tidak berorientasi pada kepentingan Industri.
Pada masa Khilafah lahir banyak ulama di bidang tsaqâfah Islam. Filosofi Islam, mazjul-mâddah bir-rûh, yang mengintegrasikan belajar dan kesadaran akan perintah Allah Swt. menjadikan tsaqâfah Islam sebagai inspirasi, motivasi, dan orientasi pengembangan matematika, sains, teknologi, dan rekayasa hingga melahirkan banyak ilmuwan dan teknolog founding father.
Tsaqâfah Islam, ilmu pengetahuan yang kita pelajari, juga produk-produk industri yang kita nikmati saat ini tidak lain adalah sumbangan para ulama dan ilmuwan muslim. Mereka adalah para perintisnya. Sebut saja Ibnu Sina (pakar kedokteran), al-Khawarizmi (pakar matematika), Al-Idrisi (pakar geografi), Az-Zarqali (pakar astronomi), Ibnu al-Haitsam (pakar fisika), Jabir Ibnu Hayyan (pakar kimia), dll. Demikianlah sistem Islam mampu mewujudkan lulusan yang berilmu dan bertakwa.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar