Freestyle Ekstrem, Peringatan Bagi Dunia Pendidikan Anak


Oleh : Nikmatus Sa’adah 
 
Tren freestyle ekstrem merupakan fenomena konten digital yang dianggap berbahaya. Tren ini terinspirasi dari konten freestyle atau salto di media sosial dan dari game online. Tren ini ternyata sudah memakan korban yaitu terjadi pada siswa TK yang meninggal dunia setelah mengalami cedara fatal pada tulang leher karena melakukan aksi freestyle. Selain itu, peristiwa serupa juga terjadi pada pelajar SD di Lombok Timur, yang meninggal usai melakukan freestyle karena patah leher. 

Peristiwa ini harus menjadi peringatan serius bagi orang tua, sekolah dan negara dalam mengontrol tayangan yang bisa diakses oleh anak-anak. Pakar lembaga perlindungan anak, menghimbau beberapa hal penting terkait tren ini. Pertama karena pengaruh konten digital, anak-anak meniru gerakan berbahaya ini tanpa pengawasan karena terinspirasi dari konten viral dan game online. Kedua, kurangnya pengawasan dari orang tua atau sekolah dalam memantau tontonan dan aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak. Ketiga, resiko fisik yang fatal terjadi karena freestyle ini dilakukan tanpa teknik yang benar sehingga menyebabkan patah leher, cedera saraf tulang belakang. 


Akar Masalah 

Anak-anak usia TK sampai SD sejatinya belum memiliki pemikiran yang matang untuk membedakan mana yang berbahaya dan tidak. Pada usia ini, anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga dia sangat mudah meniru hal-hal baru dan viral. 
Kurangnya pendampingan dan kontrol dari orang tua menjadi salah satu sebab dari kejadian fatal ini. Ketika anak dengan mudahnya mendapatkan gadget dari orang tua yang tidak melakukan kontrol secara ketat, yang terjadi adalah anak mudah sekali mengakses konten-konten yang berbahaya atau informasi yang tidak sesuai dengan usia mereka. Padahal di usia dini anak sangat butuh bimbingan dari orang tua agar anak mampu membedakan baik dan buruk. 

Minimnya kontrol dari lingkungan juga menjadi faktor penyebab aksi ini. Anak yang bermain dirumah atau dilingkungan sekitar tanpa pengawasan orang dewasa juga berbahaya. Selain itu di lingkungan sekolah juga masih kecolongan anak yang melakukan aksi freestyle ini. 

Selain kedua faktor tersebut, ternyata faktor negara juga sangat berpengaruh. Pembatasan akses terhadap konten berbahaya terhadap fisik maupun psikis ternyata belum maksimal dilakukan oleh negara. Konten-konten seperti ini sangat mudah di akses oleh anak-anak di dalam media sosial atau game online. Kurangnya perhatian negara terkait hal ini mengakibatkan generasi rentan melakukan hal-hal buruk dan berbahaya.


Solusi Islam 

Dalam Islam, tugas dari orang tua adalah wajib membimbing anaknya yang belum baligh. Anak wajib diarahkan agar mengetahui hal-hal yang baik dan buruk. Anak tidak boleh dibiarkan belajar sendiri tanpa pendampingan orang tua karena pada fase ini akal anak belum sempurna. Sehingga peran orang tua sangat penting untuk membentuk karakter, akhlak, tumbuh kembang dan keselamatan anak. 

Lingkungan dalam negara Islam adalah lingkungan yang kondusif. Masyarakat didalamnya wajib melakukan amar ma’ruf nahyi munkar. Ketika ada perilaku dari anak yang tidak baik, menyimpang atau melakukan tindakan berbahaya, masyarakat sangat peka untuk saling mengingatkan dan mencegah hal-hal buruk. Dalam pendidikan Islam, anak dicetak memiliki kepribadian Islam, sehingga aktivitas yang mereka lakukan tidak jauh dari aktivitas yang Islami. 

Negara Islam juga memiliki tanggung jawab penuh terhadap tumbuhnya generasi. Negara akan menjaga ruang informasi publik, negara tidak akan membiarkan adanya konten yang berbahaya atau konten yang tidak mendidik generasi. Negara akan memberikan lebih banyak konten edukatif yang mendukung tumbuh kembang generasi dan melakukan pengawasan ketat terhadap platform digital dan game online. Sehingga dengan upaya yang dilakukan oleh negara ini akan mempermudah orang tua dan lingkungan untuk mendidik anak menjadi generasi yang terlindungi, berkualitas dan memiliki kepribadian Islam. 

Wallahu’alam




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar