Oleh : Fatimah Asti Awaliah (Aktivis Mahasiswa)
Momen wisuda dan mendapat gelar sarjana disebut sebagai puncak akademik. Namun, sering kali sorak keramaian di gedung wisuda berganti sunyi di pagi hari. Realita pahit di mana pasar kerja tidak mampu menampung para lulusan menjadi sebuah ironi nyata. Dilansir dari CNBC Indonesia (5/5/2026), Angka pengangguran Indonesia mengalami penurunan pada periode Februari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 7,24 juta orang atau 4,68%.
Meskipun secara statistik turun, namun angka tersebut masih tergolong sangat besar. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat termasuk lulusan sarjana akan masa depan yang belum pasti. Mengapa ini bisa terjadi?
Banyak faktor yang menjadi penyebab masalah ini, di antaranya adalah kurangnya keterampilan dan pendidikan, lapangan pekerjaan yang terbatas, persaingan individu, kriteria pekerja yang bermacam-macam, bahkan konsep ordal. Padahal jika di lihat secara teliti Indonesia memiliki kekayaan yang sangat luas hal ini bisa di manfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja tetapi malah di kuasai oleh segelintir orang yang memiliki modal dan kekuasaan.
Pembangunan infrastruktur yang di lakukan saat ini kebanyakan hanya untuk melancarkan usaha pemilik modal besar, bukan untuk kemaslahatan rakyat melainkan berpihak pada kapitalis.
Bagaimana dalam pandangan Islam? Di dalam Islam, Sistem Pendidikan disiapkan untuk menciptakan karakter dan visi misi hidup bukan hanya sekedar pencetak tenaga kerja. Negara sebagai fasilitator untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Selain itu, swasta tidak boleh menguasai sumber daya yang seharusnya milik umum, seperti tambang, air, api, dan sebagainya. Justru negara yang berkewajiban untuk mengelola lalu di kembalikan kepada rakyat.
Sudah berapa lama kita bertahan dalam sistem gagal buatan manusia? Dan sampai kapan kita biarkan rakyat yang setia pada negeri, justru dihukum oleh sistem yang tak peduli? Islam adalah jawaban. Bukan sekadar harapan. Tapi sistem nyata yang siap mengganti ketidakadilan menjadi kebaikan.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar