Urgensi Dakwah Lewat Tulisan


Oleh : Hanum Hanindita, S.Si (Penulis Artikel Islami)

Dakwah lewat tulisan (dakwah bil qalam) memiliki urgensi yang sangat krusial dalam Islam. Ini bisa menjadi sarana abadi untuk menjaga kemurnian syariat, menyebarkan kebaikan, dan melawan derasnya arus misinformasi di era digital. 

Islam menempatkan aktivitas menulis di kedudukan yang sangat mulia. Ketika dakwah lisan dibatasi oleh ruang dan waktu, tulisan hadir melintasi sekat geografis dan generasi. Melalui literasi, pesan-pesan suci agama dapat terdokumentasi dengan akurat dan menjadi rujukan peradaban yang tidak lekang oleh zaman.


Perintah Mengikat Ilmu dalam Karya

Dalam pandangan Islam, pena dan tulisan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen ilahi yang pertama kali Allah sebutkan dalam wahyu. Allah Swt. berfirman yang artinya:
"Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 4-5)
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan." (QS. Al-Qalam: 1)

Ketegasan dalil ini diperkuat oleh perintah langsung dari Rasulullah saw.. Dalam sebuah hadis sahih dari Anas bin Malik RA, Beliau bersabda: "Ikatlah ilmu dengan tulisan." (HR. Al-Hakim, disahihkan oleh Al-Albani).

Perintah ini menjadi alasan utama bahwa dakwah lisan saja tidak cukup. Menulis adalah cara paling efektif untuk mengunci kebenaran agar tidak terlupakan oleh waktu atau terdistorsi oleh ingatan manusia yang terbatas. Apalagi dalam era digital saat ini dimana akses informasi begitu mudah tersebar dan didapat.

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya karena para ulama terdahulu melahirkan karya lewat tulisan dengan serius. Imam al-Ghazali, yang wafat pada tahun 1111 M, masih terus menuntun umat hari ini melalui kitab legendarisnya, Ihya Ulumuddin. Dakwah lisan seorang mubalig akan selesai saat ia turun dari mimbar, namun coretan tinta seorang dai akan terus abadi melintasi abad.


Opini Kuat yang Lahir dari Media

Urgensi dakwah lewat tulisan semakin nyata jika kita melihat lanskap arus informasi saat ini. Berdasarkan analisis komunikasi media, ruang digital kini dibanjiri oleh ribuan konten tulisan setiap detiknya, mulai dari artikel opini, utas di media sosial, hingga berita daring. Sayangnya, kebebasan ini kerap disalahgunakan untuk menyebarkan narasi keliru, islamofobia, dan hoaks.

Menurut laporan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), maraknya konten keagamaan yang dangkal dan provokatif di media sosial menjadi salah satu pemicu utama polarisasi umat. Di sinilah urgensi jurnalisme dan literasi Islam diperlukan. Mengutip ulasan opini dari laman resmi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), umat Islam memerlukan penguatan opini di ruang publik melalui tulisan yang mencerahkan, mencerdaskan, dan mampu meluruskan pemahaman yang keliru secara utuh. Jika para cendekiawan muslim memilih diam dan enggan menulis, maka ruang kosong tersebut akan diisi oleh tulisan-tulisan yang merusak moral generasi muda.


Menulis Sebagai Media Dakwah

Dakwah melalui tulisan memiliki keunggulan strategis yang unik sekaligus menjanjikan investasi pahala yang tidak terbatas. Rasulullah saw. bersabda: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh." (HR. Muslim).

Para ulama sepakat bahwa salah satu bentuk "ilmu yang dimanfaatkan" paling nyata dan abadi adalah karya tulis. Artikel, buku, atau tulisan dakwah di media digital akan terus mengalirkan pahala jariyah kepada penulisnya selama tulisan tersebut dibaca, dibagikan, dan diamalkan oleh orang lain, bahkan setelah penulisnya wafat.

Selain sebagai tabungan pahala pribadi, menulis juga menjadi perantara hidayah yang sangat luas. Dalam hadis sahih lainnya, Rasulullah saw. menegaskan keutamaan menjadi pelopor kebaikan: "Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." (HR. Muslim).

Ketika seorang muslim menulis artikel dakwah, panduan ibadah, atau motivasi islami, lalu ada pembaca yang tergerak untuk memperbaiki diri, sang penulis akan mendapatkan aliran pahala yang sama tanpa mengurangi pahala pembacanya sedikit pun. Tulisan memiliki daya jangkau yang luas dan fleksibilitas waktu yang tinggi, sehingga mampu menyusup ke ruang-ruang privat pembaca yang tidak terjangkau oleh majelis taklim konvensional.


Khatimah

Dakwah melalui tulisan adalah sarana perjuangan yang sangat mendesak dalam sudut pandang Islam. Ia adalah senjata intelektual untuk menyebarkan cahaya Islam sebagai rahmatan lil 'alamin sekaligus benteng untuk meluruskan penyimpangan pemikiran. Dengan menulis, seorang muslim tidak hanya sedang berbagi ilmu, tetapi juga sedang mengukir sejarah dan memastikan bahwa estafet risalah Nabi akan terus hidup menghiasi lembaran peradaban manusia. Wallahua'lam bishowab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar