KHUTBAH JUM'AT : HIJRAH: MOMENTUM UNTUK MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN ISLAM


KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْن  ۝٥٠ (اَلْمَائِدَةُ) 
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi Allah Swt. yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita kembali memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Setiap datangnya tahun baru Hijriah, umat Islam selalu mengenang peristiwa Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi merupakan titik balik besar dalam sejarah Islam dan umat manusia. Karena pentingnya peristiwa ini, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. menjadikannya sebagai awal Kalender Islam. Beliau berkata;
الْهِجْرَةُ فَرَّقَتْ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ فَأَرِّخُوا بِهَا
"Hijrah telah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Karena itu jadikanlah hijrah sebagai dasar penanggalan" (Ibnu Hajar, Fath al-Baari, 7/268).
Sebelum hijrah, kaum Muslim sudah memiliki akidah yang kuat, memahami halal dan haram, serta berkepribadian Islam. Namun, mereka belum memiliki kekuatan politik yang mampu melindungi agama dan umat sehingga masih mengalami penindasan di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah, keadaan berubah secara besar-besaran. Islam tidak lagi hanya menjadi keyakinan spiritual, tetapi juga tampil sebagai sistem yang mengatur kehidupan masyarakat. Dari Madinah lahir masyarakat baru, negara baru, dan peradaban Islam yang kemudian berkembang menjadi kekuatan besar dunia selama berabad-abad.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Jika kita melihat sejarah Islam, hijrah Rasulullah saw. ke Madinah membawa perubahan yang sangat besar bagi umat Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi awal terbentuknya masyarakat, negara, dan peradaban Islam yang kuat. Secara syar'i, hijrah bermakna meninggalkan segala yang dilarang Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
”Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang" (HR. al-Bukhari). Adapun dalam makna khusus, para ulama menjelaskan bahwa hijrah adalah perpindahan dari negeri kufur menuju negeri yang memungkinkan Islam ditegakkan, sebagaimana dicontohkan oleh Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah.
Pasca Hijrah Rasulullah saw. ke Madinah, setidaknya ada lima perubahan yang tampak dibandingkan dengan saat beliau di Makkah.
Pertama, terbentuknya ukhuwah Islamiyah yang mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar sehingga ikatan akidah mengalahkan ikatan suku dan kabilah. Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
"Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara" (QS. al-Hujurât [49]: 10). 
Kedua, terbentuknya kekuatan ekonomi umat melalui penghapusan riba, monopoli, dan praktik ekonomi yang zalim, serta penerapan distribusi harta yang adil. Allah Swt. berfirman:
كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ
"Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian" (QS. al-Hasyr [59]: 7). 
Hasilnya, Madinah tumbuh menjadi pusat ekonomi yang kuat dan mandiri. 
Ketiga, diterapkannya syariah Islam secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, perdagangan, peradilan hingga pemerintahan. Allah Swt. berfirman:
ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
”Kemudian Kami menjadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariah dalam urusan itu. Karena itu ikutilah syariah tersebut dan jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu” (QS. al-Jâtsiyah [45]: 18).
Keempat, terbentuknya kekuatan militer yang disegani sehingga kaum Muslim yang sebelumnya tertindas mampu mempertahankan diri, memenangkan berbagai peperangan, dan akhirnya menaklukkan Makkah. Setelah itu, kekuasaan Islam terus berkembang hingga menjangkau berbagai wilayah dunia. 
Kelima, tersebarnya dakwah Islam secara massif ke seluruh penjuru dunia. Dari Madinah, Rasulullah saw. mengirimkan surat kepada para raja dan penguasa untuk mengajak mereka kepada Islam. Allah Swt. berfirman: 
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا
"Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan" (QS. Saba' [34]: 28). Dengan demikian, hijrah menjadi titik awal lahirnya persatuan umat, kekuatan ekonomi, penerapan syariah, kekuatan negara, dan penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebagai penutup, mari kita ambil pelajaran dari peristiwa hijrah dan mengaitkannya dengan kondisi umat Islam saat ini. Meskipun jumlah kaum Muslim mencapai lebih dari dua miliar jiwa, pengaruh dan kekuatannya belum sebanding dengan jumlah tersebut. Di berbagai belahan dunia, masih ada umat Islam yang mengalami penindasan, ketergantungan dalam bidang ekonomi, teknologi, keamanan, dan pangan, serta terpecah ke dalam banyak negara yang sering tidak bersatu dalam menghadapi persoalan umat. 
Di sisi lain, banyak negeri Muslim menerapkan sistem kehidupan yang berasal dari luar Islam, seperti kapitalisme, sekularisme, dan demokrasi, sementara syariah Islam tidak diterapkan secara menyeluruh. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan: 
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ
"Apakah sistem hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Sistem hukum siapakah yang lebih baik daripada sistem hukum Allah bagi kaum yang meyakini?" (QS. al-Mâidah [5]: 50).
Karena itu, pelajaran terbesar dari hijrah adalah bahwa kebangkitan umat tidak cukup dengan mengenang sejarah, tetapi harus diwujudkan melalui persatuan umat, penerapan ajaran Islam secara kaffah, dan upaya menghadirkan kembali kehidupan Islam yang mampu menjaga kemuliaan dan kesejahteraan umat.
Di tengah berbagai krisis yang melanda dunia saat inibaik krisis ekonomi, moral, lingkungan maupun kemanusiaanIslam menawarkan solusi yang menyatukan nilai ruhani dan materi, dunia dan akhirat, keadilan dan kemajuan. Hijrah Rasulullah saw. telah membuktikan bahwa ketika Islam diterapkan secara nyata, lahirlah peradaban besar yang membawa perubahan bagi dunia. 
Karena itu, momentum Tahun Baru Hijriah hendaknya tidak berhenti pada seremoni tahunan semata, tetapi menjadi dorongan untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik: dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelemahan menuju kekuatan, dan dari perpecahan menuju persatuan. Dengan semangat hijrah inilah umat Islam diharapkan kembali menjadi umat terbaik yang menghadirkan rahmat bagi seluruh manusia. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ




KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.





Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar