Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka


Oleh: Winda Raya, S.Pd., Gr

Di tengah puing-puing bangunan yang runtuh dan suara ledakan yang tak kunjung reda, seorang anak Gaza duduk memeluk lututnya. Tatapannya kosong menembus langit yang dipenuhi asap, seolah mencari jawaban atas kehilangan yang belum mampu ia pahami. Tidak ada lagi tawa teman bermain, tidak ada pelukan hangat yang menenangkan. Yang tersisa hanyalah kesunyian panjang yang mengiringi hari-harinya. Di balik hiruk-pikuk konflik yang menyita perhatian dunia, terdapat derita sunyi yang dialami ribuan anak Gaza yang kehilangan keluarga, rumah, rasa aman, dan masa kecil yang seharusnya mereka nikmati.

Kekerasan, kehancuran, dan kematian yang terjadi di Gaza telah membuat sebagian anak merespon penderitaan berat tersebut dengan cara yang tidak biasa, yaitu diam. Salah satunya adalah Adam. Sebelum konflik terjadi, ia dikenal sebagai anak yang ceria dan banyak berbicara. Namun, ketika memasuki usia lima tahun, ia tiba-tiba berhenti berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, kepada BBC Mundo menyampaikan bahwa hampir tidak ada anak di Gaza yang tidak mengalami trauma. Ia memperkirakan lebih dari satu juta anak telah mengalami trauma berat akibat konflik yang berkepanjangan.

Katrin sendiri telah dua kali menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza pada tahun 2024 dan 2025 bersama Medecins Sans Frontières (MSF) untuk membantu anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat situasi perang. Meskipun ia tidak memiliki data pasti jumlah kasus anak yang mengalami gangguan bicara, ia mengaku menemukan puluhan kasus serupa selama bertugas. Hal ini juga diperkuat oleh tenaga medis setempat yang melaporkan bahwa jumlah kasus terus meningkat, seperti diberitakan Al Jazeera.

Anak-anak di Gaza hidup dalam tekanan trauma berat yang berlangsung lama dan penuh ketidakpastian. Mereka terus diliputi rasa takut terhadap keselamatan diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat. Kondisi ini memberikan beban besar pada sistem saraf anak. Reaksi trauma pada setiap anak berbeda-beda. Sebagian menunjukkan kegelisahan, sulit tidur, ledakan emosi, atau menangis dan berteriak. Namun ada juga yang justru memilih untuk tidak berbicara sama sekali, seolah sistem saraf mereka “menyerah” karena tidak mampu menanggung tekanan. Diam pada anak-anak tersebut bukanlah keputusan sadar, melainkan bentuk mekanisme perlindungan diri. Dengan menarik diri dari komunikasi, mereka mencoba menghindari dunia yang terus memberi pengalaman menyakitkan. Dalam kondisi ini, berhenti berbicara menjadi respons alami tubuh terhadap stres dan trauma yang sangat ekstrem. (BBC Newa Mundo, 29/5/2026)

Krisis kemanusiaan di Gaza telah berkembang menjadi tragedi yang tidak hanya merenggut banyak nyawa, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang sangat dalam, terutama pada anak-anak. Dalam situasi yang dipenuhi kekerasan, kehilangan, dan ketidakpastian, sebagian anak menunjukkan respons traumatis yang ekstrem, termasuk kehilangan kemampuan berbicara. Kondisi ini mencerminkan betapa beratnya tekanan mental yang mereka alami hingga sistem psikologis mereka menutup diri sebagai bentuk perlindungan.

Di sisi lain, konflik yang berkepanjangan tersebut tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan militer, tetapi juga sebagai krisis kemanusiaan yang melibatkan runtuhnya perlindungan terhadap warga sipil. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena mereka tidak memiliki daya untuk menghindar dari situasi yang terus berlangsung. Akibatnya, dampak yang muncul bukan hanya luka fisik, tetapi juga trauma jangka panjang yang berpotensi memengaruhi masa depan generasi tersebut. Sistem Sekuler Liberal dunia tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, sementara penguasa muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina. Hilangnya perisai bagi umat Islam untuk melindungi mereka, yaitu Khilafah Islam. 

Penderitaan yang dialami anak-anak di Palestina dipandang perlu segera dihentikan secara menyeluruh, bukan hanya melalui pendekatan psikologis atau bantuan kemanusiaan semata, tetapi juga dengan adanya perubahan kondisi politik yang memungkinkan mereka hidup dalam situasi yang lebih aman dan bebas dari konflik berkepanjangan. Dalam pandangan ini, akar masalah dianggap harus diselesaikan agar generasi yang terdampak tidak terus-menerus hidup dalam tekanan dan trauma.

Sebagian pandangan juga menyebut bahwa berbagai bentuk kekerasan yang terjadi perlu dilawan melalui perjuangan yang dipahami sebagai upaya pembelaan terhadap umat yang tertindas. Diperlukan suatu sistem kepemimpinan politik umat Islam yang kuat dan terorganisir agar mampu mengambil peran lebih besar dalam upaya penyelesaian konflik dan perlindungan terhadap masyarakat Muslim di berbagai wilayah.

Para pemimpin negara-negara Muslim bersama masyarakatnya perlu bekerja sama untuk mewujudkan kembali institusi Khilafah sebagai pelindung umat Islam serta sebagai sarana dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Kesadaran perjuangan menegakkan sistem negara islam sangat penting bagi pembebasan Palestina dan persatuan kaum muslimin seluruh dunia. 

Pada masa kepemimpian Nabi Muhammad saw, masyarakat Arab berhasil disatukan dalam sebuah tatanan sosial politik yang baru di Madinah melalui Piagam Madinah, yang menekankan keadilan, perlindungan kelompok lemah, dan hidup berdampingan secara damai. Oleh karena itu, kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah. Untuk itu dibutuhkan sistem Islam yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Wallahua’lam Bisshowab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar