Oleh: Wulan Safariyah (Aktivis Dakwah)
 
Belum kering tinta pemberitaan soal pembongkaran sindikat narkoba di Gang Langgar yang menetapkan 13 tersangka, Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Timur kembali menyuarakan peringatan keras: generasi muda kini menjadi sasaran empuk penyalahgunaan Obat-Obatan Terlarang (OOT).

Pelajar, kelompok usia produktif, dan calon penerus bangsa justru menjadi pihak yang paling rentan terjerat. Penyebab utamanya tak lain adalah pengaruh lingkungan pergaulan yang buruk serta minimnya pemahaman mendalam mengenai bahaya dan dampak mengerikan obat-obatan terlarang. 

Data ini membongkar satu fakta pahit, selama akar masalah tidak dibenahi, maka sarang atau kampung narkoba akan terus tumbuh subur di tengah masyarakat kita.
 

Kegagalan Sistemik
 
Dalam sistem kapitalisme sekuler yang dianut hari ini, remaja senantiasa dicekoki budaya hedonisme dan kebebasan tanpa batas. Nilai hidup diukur dari seberapa banyak kesenangan materi yang didapat. Ekonomi yang sulit atau tekanan hidup bukan lagi penghalang untuk mengejar kenikmatan sesaat. Obat-obatan, minuman keras, atau zat adiktif lain pun disalahgunakan demi mencari sensasi atau sekadar pelarian masalah, walau harus melanggar hukum.

Lebih parah lagi, sistem pendidikan sekuler yang diterapkan hari ini menjadi salah satu akar persoalan. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan pendidikan hanya berfokus pada aspek akademik dan keterampilan kerja, sementara pembinaan akidah dan akhlak sering kali terpinggirkan. Akibatnya, pelajar mungkin cerdas secara intelektual, tetapi mengalami kedangkalan berfikir, kehilangan arah hidup, sehingga pelajar tidak mampu menentukan baik dan buruk atau halal dan haram sebagai landasan berprilaku. 

Penegakan hukum pun terasa tumpul dan belum memberi efek jera nyata. Akibatnya, pengguna dan pengedar masih bebas berkeliaran, masyarakat cenderung cuek, dan lokasi-lokasi gelap atau "kampung narkoba" dibiarkan tumbuh. Nilai amar makruf nahi munkar di masyarakat pun perlahan lumpuh.
 
Logikanya sederhana: kalau obatnya salah, penyakitnya tak akan pernah sembuh. Masalah narkoba tidak akan selesai hanya dengan razia dadakan atau menangkap belasan pengedar. Selama sistem terus memisahkan agama dari kehidupan, selama sanksi hukum tidak tegas, tidak membuat efek jera, dan selama masyarakat memilih diam, maka akan terus lahir pecandu dan pengedar baru yang menggantikan yang lama.
 

Islam Kaffah: Solusi Menyeluruh
 
Berbeda dengan pendekatan tambal sulam yang dilakukan saat ini, Islam memiliki paket solusi utuh yang saling menguatkan, bekerja dari akar hingga ke permukaan masalah. Islam Kaffah berarti Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya urusan ibadah pribadi saja. Berikut tiga pilar utama penjagaan di dalam Islam:
 
Pertama, ketakwaan individu. Generasi muda dijaga sejak dini mulai dari lingkungan keluarga. Peran orang tua sangat krusial dalam mengontrol pergaulan dan menanamkan pemahaman teguh tentang halal dan haram. Iman yang kuat menjadi benteng paling kokoh agar seseorang tidak mudah tergoda kenikmatan semu.
Kedua, kontrol masyarakat. Nilai amar makruf nahi munkar harus dihidupkan kembali. Masyarakat tidak boleh bersikap acuh tak acuh melihat kemaksiatan tumbuh di sekitarnya. Keberadaan kampung narkoba harus diberantas hingga ke akarnya, bukan dipindah lokasi atau dibiarkan ada. Lingkungan yang bersih dari maksiat akan melahirkan generasi yang sehat.
Ketiga, peran negara dengan hukum yang tegas dan membuat efek jera. Negara berkewajiban menjamin kebutuhan hidup warganya agar tidak terjerumus ke jalan salah karena kemiskinan atau kebodohan. Di sisi lain, negara wajib menerapkan hukuman yang tegas dan memberi efek jera nyata bagi pembuat, pengedar, hingga pengguna narkoba, sesuai dengan hukum Islam yang adil dan melindungi masyarakat luas.
 
Ketiga pilar ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus bergerak serentak dalam satu sistem kehidupan Islam yang utuh. Generasi yang cerdas, berakhlak, dan unggul tidak akan pernah lahir dari rahim sekulerisme yang memisahkan manusia dari nilai Ilahiahnya.
 
Pilihan kini ada di tangan kita: apakah kita akan terus menambal kerusakan dengan cara yang sama dan berulang kali gagal? Atau kita berani beralih ke sistem Islam yang terbukti mampu menjaga generasi dari akar masalahnya? Jika kita benar-benar peduli pada masa depan anak bangsa, maka memperjuangkan tegaknya Islam Kaffah bukan lagi sekadar pilihan – melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera diwujudkan.

Wallau'alam bishowab

Sumber:
1. RRI Samarinda, Penyalahgunaan OOT Ancam Generasi Produktif di Kaltim
​2. Data Polda Kaltim, Pembongkaran Sindikat Narkoba Gang Langgar




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.