Oleh : Nurhayati, S.H
Tepat 14 abad yang lalu seorang Rasul diutus untuk menyempurnakan sistem kehidupan manusia. Ia diutus untuk memperbaiki kerusakan dan mengajak manusia menuju peradaban cemerlang. Sebuah perjuangan panjang yang tak mudah, hingga akhirnya manusia berhasil keluar dari masa jahiliyah. Kini 14 abad berlalu, tepatnya 1448 hijriyah sejak Rasul diutus, namun hari ini manusia kembali menemui peradaban yang rusak.
Rasul pernah bersabda: “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).
Kondisi umat islam hari ini persis seperti yang dikabarkan Rasul dalam hadist diatas. Banyak namun ibarat buih dilautan, terombang ambing tanpa kepemimpinan. Umat islam diseluruh dunia hidup dalam penjajahan dan kedzaliman. Ditingkat internasional, genosida masih terus berlangsung di Palestina. Umat islam di Gaza dibuat mati kelaparan, akses bantuan dunia diblokade oleh Zionis laknatullah, sementara penguasa muslim tidak bergerak mengirim pasukan, dibuat buta oleh kecintaan terhadap dunia.
Didalam negeri, berbagai masalah membelit rakyat sepanjang tahun. Kemiskinan struktural, judol, prostitusi anak, bullying, eksploitasi seksual, dan kekerasan kian merajalela. Sementara pemimpinnya sibuk mencari aman dan menjaga kepentingan. Tidak ada persatuan ibarat satu tubuh yang saling membela dan melindungi. Umat islam hidup dalam kedzoliman dan keterpurukan, jauh dari predikat khairu ummah seperti yang pernah melekat dimasa lalu.
Demikian kondisi ini ketika umat jauh dari islam. Nestapa yang berasal dari buah penerapan sistem Sekulerisme-Kapitalisme. Halal-haram diabaikan, diganti dengan standar manfaat materi semata. Alhasil, kerusakan merata diseluruh lini kehidupan. Tidak ada satupun negeri muslim yang aman dari penjajahan. Umat islam lemah dipanggung internasional, tidak mampu membela Palestina. Ketiadaan institusi khilafah yang menerapkan islam kaffah menyebabkan umat tercerai berai. Umat Islam terpecah belah oleh nasionalisme dan tunduk pada kekuatan kafir.
Memasuki tahun baru hijriyah, hendaknya dibulan muharram ini menjadi momentum sebuah perubahan. Refleksi terhadap kenestapaan akibat jauhnya umat dari aturan Allah, bukan takdir yang harus diterima. Rasulullah mengajarkan bahwa Hijrah hakiki adalah berjuang untuk hijrah dari sistem kufur Sekularisme-Kapitalisme menuju sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Dimulai dari perjalanan hijrah hingga membentuk kepemimpinan islam di Madinah, disanalah berdirinya khilafah pertama dimuka bumi.
Rasullah juga mengajarkan bahwa perubahan hakiki membutuhkan perjuangan panjang dan terorganisir sebagaimana yang beliau dan para sahabat lakukan. Bukan perubahan instan dibawah sistem kafir penjajah, tapi sebuah upaya perubahan menyeluruh untuk keluar dari dekti asing, lepas dari segala bentuk penjajahan. Karenanya untuk mewujudkan perubahan tersebut, umat islam harus bersatu, berjuang bersama jamaah dakwah Islam ideologis yang mengambil metode dakwah Rasulullah untuk menegakkan kembali Khilafah. Dengan demikian umat islam akan kembali mulia, menjadi generasi khairu ummah yang disegani diseluruh dunia. Insyaallah. Wallahu'alam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar