Rupiah Terus Melemah, Bukti Rapuhnya Sistem Mata Uang Kertas


Oleh : Lisa Ariani (Aktivis Dakwah)

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan selasa (26/05/2026) menjelang libur panjang Idul Adha. Rupiah ditutup di level Rp17.775 per dolar AS atau turun 0,25 persen dan kembali mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah (suara.com 26/05/2026). Pelemahan (depresiasi) rupiah terhadap dolar AS membuat kondisi perekonomian Indonesia semakin mengkhawatirkan. Terlebih lagi bahan baku industri dalam negeri sebagian besar di topang oleh komoditas impor. Dan hal ini tentunya akan berdampak pada kenaikan harga pangan, ongkos transportasi dan distribusi. Rakyat pun semakin terhimpit, semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi kenaikan harga pangan dan energi tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan bahkan mengalami penurunan pendapatan (omset) karena daya beli masyarakat semakin melemah. Alhasil, pelemahan daya beli masyarakat ini akan berdampak pula pada perlambatan perputaran ekonomi masyarakat karena banyak masyarakat yang akan memilih menahan konsumsinya. 

Sejumlah analis pasar keuangan menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS dipicu oleh beberapa faktor di antaranya yaitu konstelasi politik Internasional (Perang AS- Iran) mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dinamika geopolitik dan perlambatan ekonomi global turut mendorong penguatan indeks dolar AS secara menyeluruh terhadap mata uang utama dunia, termasuk rupiah. 

Rupiah yang terus tertekan menjadi sorotan tajam di tengah gencarnya agenda diplomasi Internasional pemerintah. Disaat pasar keuangan domestik sedang bergejolak, Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah bertolak menuju Prancis sejak senin (25/05/2026). Presiden Prabowo menjadi presiden yang mempunyai intensitas perjalanan dinas luar negeri yang paling tinggi dibanding dengan para pendahulunya. Dalam kurun waktu 18 bulan menjabat ia telah melakukan 50 kali kunjungan, atau rata-rata 32-33 kali per tahun. (suara.com 26/05/2026)

Alih-alih merespon dengan penuh empati. Presiden Prabowo beberapa waktu lalu sempat melontarkan pernyataan yang membuat publik heboh. Menurutnya pelemahan rupiah tidak berpengaruh terhadap masyarakat di desa karena masyarakat di desa tidak menggunakan dolar dalam bertransaksi. Justru yang berpengaruh terhadap pelemahan rupiah adalah mereka (pihak-pihak dan para pejabat) sering berpergian keluar negeri. Sontak pernyataan Presiden Prabowo ini mendapatkan beragam tanggapan dari masyarakat dengan beragam konten, meme dan tulisan yang mereka buat yang sebagian besar tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Pemerintah menganggap bahwa apa yang dialami masyarakat masih dalam kondisi aman. Padahal pelemahan rupiah sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat bukan hanya mereka yang ada di kota melainkan juga yang ada di desa. Masyarakat di desa mayoritas bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Bahan pertanian maupun perkebunan di desa seperti pupuk, plastik, bibit, dan lain-lain sebagian dipenuhi oleh komoditas impor. Kenaikan harga dolar tentunya akan berpengaruh juga terhadap masyarakat di desa meskipun tidak menggunakan dolar secara langsung. Pernyataan tersebut tentunya sangat keliru dan sekaligus menunjukkan ketidakpekaan pemerintah realitas kondisi masyarakat yang pada akhirnya akan berujung pada kekeliruan dalam penyelesaian masalah ekonomi ini. Alhasil masyarakat dibiarkan berjuang sendirian ditengah beratnya beban dan himpitan ekonomi yang melanda. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah jusrtu semakin memperburuk keadaan yaitu dengan menambah utang negara yang pada akhirnya juga akan semakin menambah beban masyarakat melalui aneka pajak yang dibebankan kepada mereka.

Hal ini juga menunjukkan bahwa rakyat tidak lagi dianggap sebagai objek yang harus di riayah (dilayani) dengan sepenuh hati melainkan rakyat hanya dijadikan objek kepentingan pada saat kampanye saja untuk mendulang suara dengan diiming-imingi janji-janji politik namun ketika telah terpilih tidak jarang bahkan sering rakyat dilupakan. Suara kritis rakyat sering tidak didengar bahkan dibungkam. 

Inilah hasil penerapan sistem sekuler demokrasi. Ketika agama tidak lagi memandu kehidupan bernegara. Yang terjadi adalah masalah demi masalah yang tidak ada ujungnya. Kebijakan yang diambil hanya kebijakan tambal sulam, tidak menyentuh akar persoalan karena berasal dari akal manusia yang lemah tidak berlandaskan pada aturan Ilahi. Ditambah lagi dengan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan dengan liberalisasi ekonomi dan pasar bebas nya membuat negara semakin bergantung pada asing. Fiat money (uang kertas) yang digunakan sebagai mata uang diseluruh dunia saat ini rentan mengalami deprisiasi karena hanya mempunyai nilai nominal saja, tidak mempunyai nilai instrinsik alias tidak ada backup dengan emas dan perak yang mempunyai nilai yang stabil. Dolar AS yang menjadi sumber utama alat tukar di dunia saat ini rentan dipermainkan oleh AS sesuai kepentingan, utamanya untuk kepentingan imperialisme. Karena AS dapat menambah atau mengurangi percetakan dolar tanpa pengawasan. 

Berbeda halnya dengan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam berlandaskan pada aqidah Islam. Islam bukan sekedar agama yang mengatur aspek ritual melainkan Islam adalah sistem hidup. Aturannya komprehensif, mengatur seluruh aspek kehidupan. Tidak terkecuali dengan sistem mata uang. Islam telah menetapkan emas dan perak sebagai satuan mata uang. Sistem mata uang emas dan perak telah terbukti dalam sejarah lebih stabil dari sistem mata uang kertas. 

Dulu sistem berbasis emas dan perak menjamin nilai tukar (kurs) tetap. Mata uang setiap negara berupa emas atau uang kertas mewakili nilai sepenuhnya berupa emas dan dapat dikonversi kapan saja. Oleh karena itu nilai tukar antar mata uang tetap karena dinisbatkan pada standar emas yang diakui. Sistem ini merealisasikan stabilitas dan menetapkan nilai satuan moneter baik di dalam dan di luar negeri. Hal ini terbukti dengan fakta indeks harga emas pada tahun 1910 hhampir berada pada level yang sama seperti pada tahun 1890. (Al-Waie hal. 31 Edisi April 2026)

Selain itu, negara yang menerapkan Islam (daulah Islam) dengan khalifah sebagai kepala negara akan memposisikan dirinya sebagai rain (pelayan umat) karena Islam telah menetapkan tugas seorang khalifah adalah sebagai junnah (perisai) dan rain (pelayan) umat. Khalifah akan membuat kebijakan berlandaskan pada aqidah atau hukum Islam. Mengerahkan setiap daya upaya yang maksimal dalam melayani rakyat. Menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme yang telah ditetapkan oleh syariat. Membangun kemandirian (swasembada) pangan, energi, bahkan industri dalam negeri guna melepas ketergantungan pada pihak asing. Apalagi negeri-negeri Islam mempunyai potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang luar biasa. Negeri-negeri muslim dianugerahi tanah yang subur sehingga cocok untuk mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan sehingga tidak perlu lagi mengimpor pangan dari luar. Karena kebutuhan pangan dalam negeri sudah bisa terpenuhi dengan produksi yang dilakukan didalam negeri.  

Negeri-negeri muslim juga mempunyai kekayaan alam berupa aneka bahan tambang yang sepenuhnya harus dikelola oleh negara, haram dikuasai oleh swasta apalagi pihak asing. Salah satunya adalah minyak yang diperlukan oleh semua negara di dunia dan dapat mencegah penjualannya kepada pihak asing kecuali mereka membayar dengan mengggunakan sistem mata uang dan perak. Hal ini tentunya akan membuat Daulah Islam mampu mengontrol pasar global secara moneter dan tidak seorang pun mampu mengontrol mata uang daulah. Dan pada akhirnya segala potensi tersebut hanya bisa dimaksimalkan dan melahirkan sebuah negara adidaya ketika negeri-negeri kaum muslim kembali bersatu menjadi satu tubuh dalam satu institusi yaitu khilafah Islamiyah yang akan menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Wallohualam





Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar