Oleh: Desi Ummu Idris
Air mata belum kering di Gaza, buldoser sudah meraung di Tepi Barat. Sementara tangisan anak-anak Gaza belum berhenti, Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam, kini dikepung simbol-simbol penguasaan penjajah.
Kepresidenan Palestina pada Rabu, 3 Juni 2026 mengecam keras persetujuan Israel membangun 2.162 unit rumah baru di Tepi Barat. Melalui kantor berita resmi WAFA seperti diberitakan ANTARA News 5 Juni 2026, Palestina menyebut langkah itu pelanggaran nyata hukum internasional dan Resolusi DK PBB 2334 yang menyatakan semua permukiman di wilayah terjajah termasuk Yerusalem Timur adalah ilegal.
Israel dinilai bertanggung jawab atas dampak provokasi yang berpotensi memicu kekerasan baru, sementara Palestina mendesak AS segera intervensi jika benar menginginkan stabilitas kawasan. Semua itu adalah skenario sistematis demi mewujudkan satu ambisi besar: Israel Raya. Ambisi yang membuktikan penjajahan tidak pernah berhenti, dan gencatan senjata hanyalah jeda sebelum serangan berikutnya dimulai.
Genosida Gaza: Tahap Pertama Ambisi Israel Raya
Entitas zionis tidak pernah berhenti memerangi Gaza meskipun perjanjian gencatan senjata telah disepakati. Serangan udara dan darat terus diluncurkan tanpa jeda. Laporan media internasional menunjukkan citra satelit entitas zionis membangun pos-pos militer baru di Gaza. Genosida ini bukan insiden sporadis, melainkan kebijakan sistematis untuk mengosongkan wilayah. Ini adalah tahap pertama mewujudkan ambisi Israel Raya: melenyapkan Gaza dari peta.
Targetnya jelas bukan keamanan, melainkan pendudukan permanen. Data lembaga kemanusiaan mencatat ribuan warga Palestina hilang akibat genosida di Gaza. Angka itu terus bertambah setiap hari, sementara dunia hanya menonton. Media lain melaporkan serangan ke Lebanon diluncurkan tak lama setelah gencatan senjata, dengan korban berjatuhan. Pola yang sama berulang: janji damai dilanggar, darah kembali tertumpah. Gencatan senjata bagi penjajah hanyalah jeda untuk mengatur napas sebelum membantai lagi.
Kolonisasi Tepi Barat: Tahap Kedua Ambisi Israel Raya
Perluasan pemukiman di Tepi Barat adalah tahap kedua ambisi Israel Raya. detik.com (3/6/2026) memberitakan Dewan Perencanaan Tinggi entitas zionis menyetujui pembangunan 2.162 rumah permukiman baru di Tepi Barat. Kepresidenan Palestina menegaskan persetujuan itu batil, tidak punya legitimasi, dan zionis harus menanggung buntut provokasi yang menyeret kawasan ke jurang kekerasan baru.
Tujuannya merampas sebagian besar tanah Palestina. Tanah yang dirampas tidak akan kembali. Rumah dihancurkan, kebun zaitun dicabut, warga dipaksa mengungsi. Semua dilakukan untuk mengokohkan peta Israel Raya dari Sungai Yordan hingga Laut Tengah.
Ratusan ribu pemukim zionis kini tinggal di permukiman ilegal Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, sementara 3,3 juta warga Palestina terhimpit di area yang sama menurut laporan PBB 2025. Setiap batu yang ditanam penjajah adalah satu langkah menghapus nama Palestina dari peta dunia.
Simbol paling menyakitkan adalah upaya mencabut status Yordania sebagai wali penjaga Masjid Al-Aqsa. Dilansir dari CNN Indonesia (5/6/2026), AS dan Israel "secara aktif berupaya" merebut hak urus Masjid Al-Aqsa dari otoritas Waqf Islam yang didukung Yordania. Rencana ini dipelopori Jared Kushner dan Duta Besar AS Mike Huckabee. Mereka ingin mengganti wewenang Waqf dengan badan bentukan Israel dan mendeklarasikan Al-Aqsa sebagai "pusat multiagama". Pengaturan baru ini akan resmi mengizinkan ibadah Yahudi kelompok besar di kompleks masjid yang selama ini dilarang. Itu bukan sekadar provokasi. Itu deklarasi kemenangan palsu atas umat Islam. Kesucian Baitul Maqdis diinjak di depan mata dunia.
Apa yang dilakukan entitas zionis adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi. Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (Q.S. Al-A'raf: 56)
Namun kerusakan terus terjadi. Pembantaian, penggusuran, penghinaan terhadap agama dilakukan terang-terangan. Semua itu mustahil tanpa dukungan kekuatan besar. Amerika Serikat menjadi aktor utama penyokong ambisi Israel Raya. Dukungan politik, militer, ekonomi mengalir tanpa henti. Bahkan AS mengajak penguasa negeri muslim bersekongkol dukung solusi dua negara. Solusi itu sejatinya legitimasi penjajahan karena mengakui entitas zionis di atas tanah Palestina.
Penderitaan Palestina tak kunjung selesai karena dua luka besar di tubuh umat. Pertama, pengkhianatan penguasa muslim yang lebih mengamankan kursi kekuasaan daripada membela saudara seakidah. Allah mengancam:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang zalim." (Q.S. Al-Maidah: 45)
Kedua, tidak adanya persatuan umat Islam yang nyata. Sekat nasionalisme membuat tiap negeri sibuk urusannya sendiri. Palestina dibiarkan berjuang sendirian melawan mesin perang zionis yang disokong Barat.
Khilafah Jalan Pembebasan Palestina
Ambisi Israel Raya harus dilawan. Perlawanan itu butuh kekuatan dan persatuan umat Islam dalam wujud nyata: Khilafah. Khilafah mempersatukan seluruh negeri muslim di bawah satu kepemimpinan, satu hukum, satu komando. Dengan Khilafah, sekat nasionalisme buatan penjajah runtuh. Tidak ada lagi "urusan dalam negeri Palestina" karena setiap jengkal tanah kaum muslimin adalah tanggung jawab seluruh umat.
Tegaknya Khilafah harus jadi prioritas perjuangan umat Islam sedunia. Khilafah adalah persatuan hakiki, bukan seremonial. Allah memerintahkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Berpeganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan bercerai berai." (Q.S. Ali Imran: 103)
Ketika Khilafah tegak, pengkhianatan penguasa muslim berhenti karena kedaulatan ada di tangan syariat, bukan kepentingan pribadi atau tekanan asing. Penguasa boneka tak punya ruang berkhianat karena sistemnya menutup celah.
Khalifah wajib melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin. Tugas utama Khalifah adalah mengirim tentara membebaskan Palestina dan memerangi zionis hingga tuntas. Tidak ada negosiasi dengan penjajah, tidak ada kompromi atas tanah wakaf umat. Sejarah mencatat, saat Sultan Abdul Hamid II memimpin Khilafah Utsmaniyah, Theodore Herzl gagal membeli sejengkal pun tanah Palestina. Itulah wibawa Khilafah yang ditakuti musuh.
Penjajah tidak mundur karena permohonan. Penjajah mundur ketika berhadapan dengan kekuatan lebih besar. Kekuatan itu hanya lahir dari persatuan di bawah naungan Khilafah. Maka setiap muslim wajib jadikan penegakan Khilafah sebagai prioritas. Selama Khilafah belum tegak, Al-Aqsa terus dinodai, Gaza terus dibom, tanah Palestina terus dirampas.
Wahai umat Islam, saatnya bangkit. Tinggalkan perpecahan. Satukan tekad menegakkan kembali institusi yang menjaga Baitul Maqdis berabad-abad. Hanya dengan itu, tangisan anak-anak Gaza berubah menjadi takbir kemenangan.
Wallahu a'lam bishshawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar