Rupiah Melemah, Butuh Solusi Fundamental


Oleh : Rakhmalini, S.Kep

Fakta Empiris: Kerentanan yang Terus Berulang
           
Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik. Bagi sebagian kalangan, perubahan kurs mungkin hanya dipandang sebagai persoalan angka dalam laporan ekonomi. Namun bagi masyarakat, pelemahan rupiah berarti meningkatnya biaya hidup. Harga kebutuhan pokok berpotensi naik, biaya produksi membengkak, harga barang impor meningkat, dan daya beli masyarakat semakin tergerus.

Fenomena ini bukanlah kejadian baru. Dalam beberapa dekade terakhir, rupiah berulang kali mengalami tekanan akibat berbagai gejolak global. Setiap kali terjadi penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, atau perubahan kebijakan moneter negara-negara maju, nilai tukar rupiah ikut terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap faktor eksternal.
             
Ketergantungan terhadap utang menyebabkan perekonomian semakin sensitif terhadap perubahan nilai tukar. Ketika dolar menguat, beban pembayaran utang dan bunga juga meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap anggaran negara maupun sektor swasta menjadi semakin besar. Di sisi lain, dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global masih sangat kuat. Dolar tetap menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional, transaksi energi, cadangan devisa, dan pembayaran utang dunia. Kondisi ini menempatkan banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam posisi yang rentan terhadap kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

Ketika Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga, modal asing cenderung kembali ke AS. Arus keluar modal dari negara berkembang menyebabkan tekanan terhadap mata uang domestik. Akibatnya, negara-negara seperti Indonesia harus bekerja keras mempertahankan stabilitas nilai tukarnya. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan rupiah bukan sekadar masalah teknis moneter, melainkan cerminan dari kerentanan sistemik yang telah lama melekat dalam tata ekonomi kapitalistik.


Solusi Parsial Selalu Gagal

Sering kali pemerintah maupun para ekonom arus utama menawarkan berbagai solusi ketika rupiah melemah antaralain mengusulkan penguatan cadangan devisa, peningkatan ekspor, pengetatan kebijakan moneter, efisiensi anggaran, diversifikasi mitra dagang, hingga pengurangan ketergantungan terhadap dolar. Meskipun berbagai langkah tersebut mungkin memberikan dampak positif dalam jangka pendek, faktanya persoalan yang sama terus berulang. Krisis demi krisis datang silih berganti. Hal ini menunjukkan bahwa yang selama ini dilakukan lebih banyak menyentuh gejala, bukan akar masalah. Adapun penyakit yang mendasarinya adalah sistem ekonomi yang dibangun di atas pondasi kapitalisme.

Kapitalisme menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama. Negara didorong untuk menarik investasi sebesar-besarnya, membuka pasar seluas-luasnya, dan memberikan ruang yang luas bagi pergerakan modal. Dalam praktiknya, kebijakan semacam ini sering kali menciptakan ketergantungan terhadap investor asing, utang luar negeri, dan mekanisme pasar global. Akibatnya, kedaulatan ekonomi menjadi lemah. Negara tidak lagi memiliki kendali penuh atas arah perekonomiannya karena harus terus mempertimbangkan kepentingan pasar dan pemilik modal.

Dalam perspektif Islam, kegagalan tersebut terjadi karena solusi yang ditawarkan masih berada dalam kerangka sistem yang sama, yaitu kapitalisme. Ibarat seseorang yang berulang kali mengobati demam tanpa menghilangkan sumber infeksinya, penyakit tidak akan pernah benar-benar sembuh. Kapitalisme memiliki sejumlah fondasi yang justru menjadi sumber masalah ekonomi, antara lain sistem riba, mata uang fiat, liberalisasi perdagangan, privatisasi kepemilikan umum, serta dominasi sektor finansial atas sektor riil. Selama pondasi-pondasi ini tetap dipertahankan, maka berbagai kebijakan yang lahir hanya akan menjadi koreksi teknis yang tidak mampu menghilangkan akar kerusakan.

Karena itu, persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti pejabat, mengubah regulasi tertentu, atau meluncurkan program baru. Yang diperlukan adalah perubahan mendasar pada sistem yang mengatur kehidupan. 

Dalam sistem kapitalisme ukuran yang digunakan bukan halal dan haram, melainkan keuntungan dan manfaat material. Akibatnya, lahirlah berbagai instrumen ekonomi yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti riba, spekulasi, pasar uang, perdagangan valuta asing yang bersifat spekulatif, serta privatisasi sumber daya alam. Padahal manusia adalah makhluk yang terbatas. Pengetahuannya terbatas, penglihatannya terbatas, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu serta kepentingan
Solusi fundamental
              
Kapitalisme adalah buah dari ideologi sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sekularisme menempatkan manusia sebagai pembuat hukum dan penentu aturan kehidupan. Dalam bidang ekonomi, ukuran yang digunakan bukan halal dan haram, melainkan keuntungan dan manfaat material. Akibatnya, lahirlah berbagai instrumen ekonomi yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti riba, spekulasi, pasar uang, perdagangan valuta asing yang bersifat spekulatif, serta privatisasi sumber daya alam. Padahal manusia adalah makhluk yang terbatas. Pengetahuannya terbatas, penglihatannya terbatas, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu serta kepentingan.
Allah SWT berfirman: "Dan sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya." (QS. Al-Mu'minun: 71)

Kerusakan ekonomi yang terjadi saat ini sesungguhnya merupakan bukti nyata dari peringatan Allah SWT tersebut. Krisis moneter, inflasi, ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, dan dominasi korporasi global bukanlah penyimpangan dari kapitalisme, melainkan konsekuensi logis dari sistem itu sendiri.

Berbeda dengan kapitalisme, Islam bukan sekadar agama spiritual. Islam adalah sistem kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia. Karena itu Islam memiliki seperangkat aturan ekonomi yang lengkap dan terintegrasi. Allah SWT berfirman: "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Islam mengenal penggunaan emas dan perak sebagai standar moneter. Berbeda dengan uang fiat yang nilainya bergantung pada kepercayaan dan kebijakan negara, emas dan perak memiliki nilai intrinsik. Karena itu, keduanya relatif lebih stabil dan tidak mudah mengalami depresiasi akibat pencetakan uang secara berlebihan. Rasulullah SAW bersabda: "Emas dengan emas dan perak dengan perak..." (HR. Muslim). Sistem moneter berbasis emas dan perak mampu mengurangi gejolak nilai tukar serta mencegah manipulasi moneter yang merugikan masyarakat.

Riba merupakan fondasi utama sistem keuangan kapitalisme. Melalui mekanisme utang berbunga, kekayaan terus mengalir kepada para pemilik modal sementara beban ekonomi ditanggung oleh masyarakat dan negara. Karena itu Islam mengharamkan riba secara tegas. Allah SWT berfirman: "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS. Al-Baqarah: 275)

Dan firman-Nya: "Jika kamu tidak meninggalkan riba, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu." (QS. Al-Baqarah: 279). Ancaman yang sangat keras ini menunjukkan bahwa riba merupakan sumber kerusakan ekonomi yang serius.

Islam menetapkan bahwa sumber daya alam yang menjadi kebutuhan publik merupakan kepemilikan umum. Rasulullah SAW bersabda: "Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api." (HR. Abu Dawud)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini mencakup berbagai sumber daya strategis yang dibutuhkan masyarakat luas. Karena itu negara tidak boleh menyerahkan pengelolaannya kepada korporasi swasta atau pihak asing. Negara wajib mengelolanya dan mengembalikan manfaatnya kepada seluruh rakyat. Dengan mekanisme ini, negara memiliki sumber pemasukan yang besar sehingga tidak perlu bergantung pada utang luar negeri maupun pajak yang memberatkan masyarakat.

Islam tidak hanya mengatur produksi kekayaan, tetapi juga distribusinya. Melalui zakat, fai', kharaj, usyur, pengelolaan kepemilikan umum, dan berbagai mekanisme Baitul Mal, Islam memastikan bahwa kebutuhan dasar rakyat dapat terpenuhi dan kekayaan tidak menumpuk pada segelintir orang. Alhasil solusi fundamental masalah nilai mata uang yang melemah adalah menjadikan Islam sebagai solusi fundamental persoalam ekonomi denganpenerapam sistem Islam kaffah dalam bingkai Negara.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar