Oleh: Essy Rosaline Suhendi (Aktivis Muslimah Karawang)
Persaksian dari seorang psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk sangat mengiris hati siapapun orang yang membacanya. Ia mengatakan, bahwa terdapat lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah, hingga beberapa anak diantaranya kehilangan kemampuan berbicara. Dokter-dokter setempat menyatakan kepada jaringan Al Jazeera, bahwa kasus seperti itu jumlahnya terus meningkat (www.detiknews.com, 30/05/26).
Entah sampai kapan, hati terasa tersayat, melihat kabar anak-anak Gaza di sana dipaksa menyaksikan potongan tubuh keluarganya hancur berkeping-keping. Mereka setiap hari bertaruh nyawa, apakah bisa selamat dari dentuman bom yg selalu menghantui setiap saat.
Kolonialisme Mengorbankan Anak-anak
Jangan bicara tentang tempat tinggal, mainan, atau sekolah. Karena semua ingatan indah itu sejak lama hancur lebur oleh perilaku brutal para penjajah zionis Israel yang dengan lihai membuat skenario genosida yang terus menyerang fisik dan psikis anak-anak Gaza. Hingga akhirnya trauma melanda, menghilangkan kemampuannya berbicara.
Tragis bukan? Di tengah derita Gaza, ternyata ada yang sedang tertawa. Mereka berperan dibalik layar zionis yaitu Donald Trump. Dengan riang gembira mereka menonton keadaan umat Islam yang masih tercerai-berai, sedangkan penguasa muslimnya sibuk masing-masing mengamankan posisi dan terlihat tenang menjalin kerjasama dengan kawan politik yang selama ini menjajah saudaranya seiman.
Lantas sampai kapan, umat hanya menyaksikan, berdoa dan sekadar memberi bantuan kemanusiaan? Apakah penderitaan Gaza tidak pantas dihentikan? Adakah manusia yang mampu mengakhiri penderitaan anak-anak Gaza? Bagaimana cara menyelamatkannya?
Selamatkan Palestina dengan Khilafah
Tentunya, semua pertanyaan di atas, begitu menusuk hati setiap manusia yang masih memiliki hati nurani dan membenci kolonialisme. Namun lagi-lagi, orang-orang yang terlihat peduli seakan tak mampu memberi solusi atas masalah yang dihadapi Palestina. Bahkan bantuan obat-obatan dan makanan yang dikirim oleh kapal sumud flotila kabarnya juga dicegat dan aktivisnya juga ditahan oleh tentara Israel, sehingga semua bantuannya itu tidak sampai pada Palestina.
Andai saja umat Islam mampu terbangun dalam tidur lelap, tersadar akan problematika yang saat ini dihadapi oleh umat muslim tidaklah muncul secara tiba-tiba. Sebab semua kemalangan, kesengsaraan, penindasan, dan penghinaan pada syariat Islam dan umatnya dikarenakan umat kehilangan seorang perisai yang melindungi dan memuliakan Islam, yakni Khilafah.
Oleh karenanya, derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri, tak sekadar memberi bantuan kemanusiaan atau memberikan terapi untuk mengobati trauma yang dialami. Anak-anak Gaza mesti dibebaskan selamanya dari cengkraman penjajahan dan berhak mendapatkan perlindungan secara totalitas.
Khalifah Perisai Umat
Untuk itulah, dibutuhkan institusi Khilafah yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Kejahatan entitas zionis hanya biasa dilawan dengan jihad fii Sabilillah. Sebagaimana dulu yang terjadi di masa kekhalifahan Islam, saat Shalehuddin Al Ayyubi berhasilkan membebaskan kembali Baitul maqdis dari pasukan salib.
Dengan demikian, sudah saatnya umat Islam bersatu dan berjuang mengembalikan perisai umat melalui penegakan Khilafah. Dakwah Khilafah harus terus diopinikan supaya umat tersadar akan kewajiban penegakannya. Mayoritas ulama dari empat mazhab (seperti Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali) sepakat bahwa menegakkan kepemimpinan umat (Imamah/Khilafah) adalah wajib berdasarkan syariat. Kewajiban ini didasarkan pada kaidah fardhu kifayah agar hukum-hukum Islam dan kemaslahatan umat dapat terwujud.
Khilafah adalah ajaran Islam, tanpanya syari'at Islam tidak bisa diterapkan secara sempurna, termasuk dalam hal pengiriman tentara muslim untuk melaksanakan jihad fisabilillah membebaskan Palestina, hanya bisa dilakukan di bawah satu komando yaitu Khalifah. Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai (junnah), di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Muslim)
Wallahu a'lam bishshawab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar