Oleh: Ai Dewi Mulyawati
Indonesia adalah tanah subur yang mewarisi kekayaan budaya dan nilai luhur dari generasi ke generasi. Rasa hormat, tanggung jawab, kejujuran, dan kasih sayang telah menjadi jati diri bangsa kita selama berabad-abad lamanya. Namun, di tengah arus zaman yang bergerak begitu cepat, muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan, perhatian terhadap pendidikan adab perlahan memudar, terutama di lingkungan rumah dan sekolah. Hal ini terlihat jelas dari maraknya kasus kenakalan bahkan tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja, padahal mereka sedang berada di masa emas pembentukan karakter.
Berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini membuktikan betapa seriusnya kondisi ini. Kita disuguhi berita memilukan, perkelahian yang berujung luka parah, pencurian, hingga kekerasan yang merugikan sesama. Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka tidak sadar bahwa perbuatannya salah dan berbahaya. Mereka belum memahami arti menghargai orang lain, cara mengendalikan amarah, maupun beratnya akibat yang akan ditanggung. Semua ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan adab sebagai pondasi utama pembentukan kepribadian tidak lagi mendapatkan tempat yang layak.
Dalam ajaran agama, adab dan akhlak memiliki kedudukan yang sangat tinggi bahkan menjadi tujuan utama dari seluruh ajaran yang disampaikan. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan yang banyak mengingat Allah" (QS. Al-Ahzab: 21).
Rasulullah Saw. sendiri diutus ke dunia ini bukan hanya untuk menyampaikan wahyu, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Beliau bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR. Ahmad).
Begitu pentingnya kedudukan adab, sehingga para ulama salaf pernah menegaskan bahwa "menuntut ilmu tanpa adab sama halnya seperti pohon yang tidak berbuah, atau seperti lampu yang tidak menerangi, sedangkan adab dengan ilmu akan menjaga seseorang dari kejatuhan kejahatan". Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Imam Malik:
تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ العِلْمَ
"Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu"
Pendidikan adab seharusnya tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di rumah dan lingkungan masyarakat.
Dalam lingkup keluarga, orang tua seringkali terlalu fokus pada aspek akademik anak, sehingga mengabaikan pentingnya mengajarkan nilai-nilai kepribadian yang baik. Mereka berharap anak-anak bisa mendapatkan nilai yang tinggi di sekolah, tetapi lupa mengajarkan bagaimana bersikap baik kepada orang tua, guru, dan sesama. Sebagaimana dinasihatkan dalam Surah Luqman ayat 13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar'" (QS. Luqman: 13).
Dalam ayat yang sama, Luqman juga menasihati anaknya untuk bersikap santun dan rendah hati:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS. Luqman: 18).
Di sekolah, meskipun ada mata pelajaran yang membahas tentang nilai-nilai agama dan budaya, pelaksanaannya seringkali hanya bersifat formal dan tidak diterapkan dalam kehidupan nyata. Akibatnya, anak-anak mendapatkan pengetahuan secara teoritis, tetapi tidak memahami makna dan penerapannya dalam keseharian. Padahal, dalam ajaran Islam, setiap tindakan dan perilaku harus disertai dengan kesadaran akan tanggung jawab, sebagaimana tertulis dalam Surah Luqman ayat 16:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
"Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan yang seberat biji sawi, maka perbuatan itu pasti ada (pula) di dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui" (QS. Luqman: 16).
Selain itu, pengaruh lingkungan dan perkembangan teknologi juga turut berperan dalam menurunnya pendidikan adab. Anak-anak saat ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan perangkat elektronik dan media sosial, yang seringkali menampilkan konten yang tidak sesuai dan tidak mengajarkan nilai-nilai yang baik. Akibatnya banyak dari mereka yang terpapar perilaku yang kasar, tidak bertanggung jawab, dan bahkan berani melakukan penindasan, yang kemudian mereka tirukan tanpa memahami dampaknya.
Tanpa adanya pengawasan dan bimbingan yang tepat, hal ini akan membentuk pola pikir dan perilaku yang buruk pada diri mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis, menjaga diri dari hal-hal yang merusak akhlak adalah kewajiban setiap orang, karena akhlak yang baik adalah cerminan dari keimanan yang kuat. Rasulullah Saw. bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang-orang beriman yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya" (HR. Tirmidzi).
Tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak-anak bukanlah tanggung jawab satu pihak semata, melainkan buah dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Namun, di balik semuanya tersimpan akar utama yaitu lemahnya pendidikan adab sebagai pondasi kokoh pembentukan karakter.
Ketika seorang anak tidak dibekali dengan nilai-nilai luhur, ia akan kesulitan memilah mana yang benar dan mana yang salah, serta sulit menahan diri saat diuji oleh masalah maupun godaan. Akibatnya, mereka pun mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya.
Untuk memecahkan tantangan ini, dibutuhkan kerja sama dari seluruh elemen. Keluarga adalah sekolah pertama dan utama tempat menanamkan akhlak mulia. Orang tua perlu meluangkan waktu untuk berkomunikasi, menjadi teladan nyata, serta menetapkan batasan dan aturan yang tegas namun penuh kasih sayang.
Sementara itu, sekolah harus memperkuat perannya dalam mencetak generasi berkarakter, tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga melalui kegiatan yang melatih sikap dan perilaku terpuji. Begitu pula masyarakat, harus turut aktif menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung, serta senantiasa memberikan bimbingan dan pengawasan yang dibutuhkan anak-anak.
Pendidikan adab adalah investasi paling berharga untuk masa depan yang panjang. Ketika kita kembali menempatkannya sebagai prioritas, kita tidak hanya mampu mencegah kenakalan remaja, tetapi juga melahirkan generasi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan siap membawa kejayaan bagi bangsa.
Kita tidak boleh hanya berharap perubahan datang dengan sendirinya. Kita harus segera bertindak mulai saat ini. Sebab masa depan bangsa berada di tangan generasi muda, dan mereka membutuhkan pondasi yang kokoh, pendidikan adab yang selaras dengan ajaran suci Al-Qur'an dan teladan mulia Rasulullah Muhammad SAW.
Saatnya kembali kepada sistem Islam sebab hanya sistem Islam yang dapat sejalan dengan hal demikian. Tugas kita adalah mengkaji Islam kaffah bersama kelompok dakwah Islam ideologis dan mendakwahkannya di tengah-tengah masyarakat agar semakin banyak yang tercerahkan.
Waallahu'alam bishshawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar