Oleh : Zulfi Nindyatami, S.Pd.
Suara untuk Palestina tidak akan pernah pudar dan tenggelam atas segala berita-berita yang lainnya. Walaupun, akhir-akhir ini berita Palestina tidak banyak tersebar tertutup isu-isu belaka. Namun, tetap suara untuk mereka akan selalu ada. Tidak terkecuali perlawanan ambisi-ambisi para zionis Yahudi pun masih terus digencarkan. Hingga saat ini zioinis Yahudi masih menginginkan tanah Palestina dengan kerakusan dan kekuasaan semu yang dimilikinya.
Faktanya entitas zionis terus perangi Gaza, mereka tidak peduli gencatan senjata. Beberapa kali kesepakatan gencatan senjata, tetapi mereka melanggarnya dengan sebelah pihak. Hingga laporan-laporan tindak pelanggaran sudah dilayangkan kepada PBB untuk diusut tuntas dan dihukum atas pelanggaran. Namun, laporan tersebut dibungkam, bahkan tidak dihiraukan sedikit pun. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025, Israel telah melakukan lebih dari 3.000 pelanggaran. Akibatnya, lebih dari 933 warga Palestina tewas dan 2.868 lainnya terluka. Angka ini menempatkan Mei 2026 sebagai bulan dengan korban jiwa tertinggi sepanjang tahun ini (www.gazanet.com, 11/06/2026).
Di samping itu, ribuan pemukiman di Tepi Barat terus diperluas demi merampas tanah Palestina hingga 70℅. Hal ini, berdasarkan peta perluasan zionis Yahudi yang menginginkan berdirinya Israel Raya. Perdana menteri Israel, Netanyahu sebelumnya menjelaskan visi Israel Raya mencakup seluruh wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, serta sebagian wilayah Suriah, Arab Saudi, Irak, Turki, dan Mesir. Pernyataan tersebut sudah direncanakan sejak tahun 2024. Sehingga, negara-negara tersebut merasa geram. Namun, tidak ada tindak nyata memberikan penegasan ataupun perlawanan terhadap zionis Yahudi tersebut. Agenda Board of Peace pun digadang-gadang sebagai rencana mencaplok wilayah Tepi Barat di bawah kekuasaan Israel-Amerika untuk terploklamasikannya Israel Raya (https://aceh.tribunews.com, 11/06/2026).
Di Wilayah Yerussalem bagain komplek Masjidil Aqsa terjadi tindakan yang membuat warga Palestina semakin terancam. Tentara zionis Yahudi melakukan pengibaran bendera Israel di Masjid Al Aqsa. Hal ini, sebagai simbol penguasaan entitas zionis mengalahkan umat Islam. Tindakan tersebut merupakan provokatif dan telah melanggar hukum Internasional, serta dapat mengubah status historis sebagai langkah yang sistematis.
Segala tindakan yang dilakukan oleh zionis Yahudi merupakan bentuk perwujudan ambisi membangun Israel Raya. Mereka menghancurkan Gaza, memperluas pemukiman di Tepi Barat dan melakukan genosida. Ambisi yang kuat tersebut disebut-sebut dorongan dari Al-Kitab yang mereka miliki. Wilayah perluasan tersebut adalah tanah yang dijanjikan oleh kepercayaan mereka. Bentuk tindakan kejahatan tersebut adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi. Atas bantuan negara adidaya yakni Amerika mereka dapat melakukan apa yang mereka rencanakan demi memenuhi ambisi keserakahan. Zionis Yahudi merasa aman di bawah AS untuk tetap melakukan genosida. Kepercayaan pada AS menjadi bukti bagi dunia, bahwa negara adidaya tetap berdiri di belakang zionis Yahudi Israel apapun kondisinya.
AS menyokong terwujudnya ambisi Israel Raya, bahkan mengajak penguasa negeri-negeri muslim bersekongkol mendukung solusi dua negara. Hingga ambisi mewujudkan Board of Peace, dengan anggotanya hampir seluruhnya negeri muslim termasuk Indonesia. Di sisi lain, bergabung ke dalam anggota tersebut tidak gratis, bahkan biaya yang dikeluarkan tidak sedikit yakni sekitar 7 triliun rupiah. Inilah salah satu agenda penjajahan model baru yang akan diterapkan di Palestina. Hal tersebut memberikan statemen pejabat zionis Yahudi akan terus menggagalkan pembentukan negara Palestina. Di antaranya langkah kebijakan baru pemerintah Yahudi untuk memperluas kendali atas Tepi Barat.
Selama hidup di sistem kapitalisme dengan paham sekuler kondisi negeri muslim akan terus dijajah. Begitupun kepercayaan negeri muslim terhadap negara adidaya akan terus dipermainkan demi kepentingan belaka. Sehingga, penderitaan Palestina tidak kunjung selesai, karena pengkhianatan penguasa muslim dan tidak adanya persatuan umat Islam.
Ambisi Israel Raya harus dilawan, dan ini membutuhkan kekuatan dan persatuan umat Islam dalam wujud nyata, yaitu Khilafah. Tanpa perjuangan masyarakat muslim untuk terbebas dari imperialisme tidak akan terwujud persatuan umat. Umat harus didorong agar dapat menuntut kepada pihak-pihak yang memiliki kekuatan dan perlindungan (ahlul quwwah wal man’ah). Tujuannya untuk membebaskan diri dari penguasa asing yang menjadi agen kepentingan asing.
Penegakan Khilafah merupakan agenda utama kaum Muslim dan menjadi prioritas perjuangan umat Islam seluruh dunia, karena Khilafah adalah wujud persatuan umat Islam yang hakiki. Maka, sungguh kita harus yakin dengan pertolongan Allah, kembalinya Khilafah ar-Rasyidah untuk berjihad menghancurkan entitas Yahudi pada penguasaan Palestina. Pada hakikatnya syariah Islam telah mengharamkan menyerahkan tanah milik Kaum Muslim kepada kaum kafir. Maka, rencana penguasaan atas berdirinya Israel Raya harus dihancurkan dan dibubarkan secara permanen dan menyeluruh. Hingga dipastikan tidak ada lagi bentuk penjajahan terhadap kaum Muslim.
Melalui sistem Khilafah dapat menghilangkan sekat nasionalisme antar negeri muslim dan menghentikan pengkhianatan para penguasa muslim. Wilayah negeri-negeri Muslim menjadi terpecah belah atas kepentingan individu negaranya, akibat dari nasionalisme yang sudah melekat. Segala bentuk penjajahan memengaruhi kondisi masyarakat Muslim. Sehingga, terbuai dengan hasutan-hasutan imperialis yang membawa paham sekuler. Maka, umat harus kembali dengan sistem Islam yang kafah, membubarkan segala bentuk paham nasionalis agar tidak adanya rasa perbedaan atas ikatan akidah yang dapat terjalin dalam sistem Islam. Melalui pemahaman Islam dan perjuangan kaum Muslim akan mengeluarkan umat dari jeratan pengkhianatan para penguasa Muslim. Islam dapat bersatu dan menyelamatkan Palestina dari segala bentuk penjajahan, termasuk mengalahkan negara adidaya.
Ini saatnya kaum Muslim bersatu berjuang dalam satu naungan sistem Islam. Tidak boleh adanya pengkhianatan yang dilakukan negeri-negeri Muslim terhadap Palestina. Kesempatan ini menunjukkan kepedulian penguasa Muslim pada Palestina yang harus nyata diwujudkan. Bukan kepedulian yang semu seperti selama ini terjadi.
Pada sistem Islam, Khalifah bertanggung jawab mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina dan memerangi entitas zionis, karena terlaksananya jihad hanya dengan komando Khalifah. Jihad merupakan perang melawan orang-orang kafir dalam menegakkan agama Allah SWT. Maka dari itu, sudah semestinya penguasa Muslim mengirimkan angkatan militernya untuk berjihad bersama para mujahidin Palestina, untuk mengusir kaum penjajah dari wilayah Palestina. Melalui sistem Khilafah inilah yang akan menghentikan kolonialisasi, dominasi dan hegemoni barat dengan tata dunia saat ini. Khilafah akan membentuk konstelasi internasional baru, tata dunia baru yang adil makmur atas landasan Islam.
Wallahu a’lam bishshowwab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar