Oleh : Atik Maimunah
Belum dua tahun berjalan sejak dilantiknya Prabowo Gibran 2024 santer diberitakan PHK masal beberapa perusahaan Nasional. Sangat mengejutkan, karena sebelumnya perusahan - perusahaan ini jauh dari kata pailit jika menilik nama besarnya. Salah satunya satunya PT Xacti Indonesia yang terletak di Depok, Jawa Barat. PT Xacti resmi mengumumkan penutupan operasional perusahaannya. Imbas dari kebijakan ini setidaknya 350 karyawan dirumah kan. CNN Indonesia. Sabtu, 26/5/2026.
PHK ini sebuah angka efisiensi bagi perusahaan. Perusahaan yang dulu di kenal sebagai PT sanyo grup merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi berbagai peralatan digital elektronik. Said Iqbal, selaku presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, berargumen bahwa penyebab utama PHK adalah ketidak stabilan global dalam negeri.
PHK massal ini bukan sebatas angka statistik. tetapi merupakan problem sistematis, namun dibalik angka tadi ada keluarga yang tetap harus makan esok hari. Maka lebih bijak kita untuk menelusuri penyebab utamanya diantaranya:
Pertama, Tekanan ekonomi global, menyebabkan kenaikan barang , termasuk bahan baku, BBM dan biaya produksi yang menyebabkan perusahaan melakukan efisiensi. Terutama bahan bakar yang tidak menggunakan BBM non subsidi, akibatnya tidak mampu bersaing.
Kedua, Pelemahan rupiah, karena bahan baku impor di beli dengan memakai dolar sehingga meningkatkan ongkos produksi. Disisi lain produk luar negeri lebih murah dan berkualitas, sehingga konsumen lebh memilih produk impor dari pada lokal.
Ketiga, persaingan yang sangat ketat mendorong perusahaan menekan biaya produksi serendah- rendahnya, sehingga berdampak pada upah para pekerja yang minim pekerja di anggap penentu laba kondisi ini membuat pekerja tetap miskin karena upah yang sangat minim
Hal ini sebuah kewajaran karena Indonesia menerapkan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam ekonomi kapitalisme negara lepas tangan dalam masalah penyediaan lapangan pekerjaan. Negara mengalihkan tanggung jawab sebagai penyedia lapangan pekerjaan serta berorientasi pada profit dan keuntungan tanpa menjamin distribusi pekerja, sehingga pengangguran kronis dan kemiskinan struktural menjadi pemandangan yang lumrah di negri yang terkenal dengan slogan "Gemah Ripah loh jinawi"
Berbeda dengan sistem Islam, karena islam bukan hanya sebatas agama, namun juga sebuah ideologi yang memiliki aturan lengkap, termasuk di bidang ekonomi. Dalam ekonomi Islam laki-laki yang sudah baligh wajib bekerja dan negara menyediakan lapangan pekerjaan. Karena posisi negara adalah sebagai Rain atau pelayan umat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.
الامام راع مسؤولون عن راعيتة.
"Seorang Imam adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban". (H.R. Bukhori)
Negara Islam juga akan mengelola sumber daya alam Indonesia sesuai syari'at Islam. Seperti energi air dan hutan yang merupakan milik umum yang wajib di kelola negara. Pengelolaan mandiri oleh negara akan memutus ketergantungan modal para kapitalis oligarki dengan begitu janji 19 juta pekerjaan bukan hanya sekedar pemanis bibir tapi akan terealisasi nyata.
Sistem ekonomi Islam juga fokus mengembangkan sektor ekonomi riil dan menutup sektor non riil dan melarang riba, dengan landasan akidah islam. Sehingga krisis ekonomi dan PHK massal dapat di hindari. Dengan Sistem syariat kaffah, sistem ekonomi ini menciptakan lapangan pekerjaan berbasis distribusi, kepemilikan yang adil. Dan sistem ini hanya bisa di terapkan secara sempurna oleh negara islam.
Dengan begitu buruh dan pekerja tidak akan kehilangan pekerjaan dan kesejahteraan keluarga mereka akan terjamin. Oleh karena itu penting bagi masyarakat khususnya kaum muslim utk kembali mengambil syariat Islam sebagai panduan hidup dan bernegara sebagai wujud ketundukan kita kepada aturan Allah SWT dan RosulNya.
Allahu a'lam bishowab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar