Potret Buram Dunia Pendidikan, Islam Solusinya


Oleh: Dwi Oktaviani Tamara (Pegiat Literasi)

Setiap tahun hari pendidikan Nasional dirayakan sebagai momentum evaluasi menyeluruh atas pencapaian di dunia pendidikan. Namun, realitanya justru menunjukkan kondisi pendidikan saat ini semakin buram dan memperhatikan. Maraknya berbagai kasus kekerasan, kecurangan akademis, degradasi adab pelajar, hingga tindak pelecehan seksual di lembaga pendidikan, semakin mengkhawatirkan. Setidaknya ada 233 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan dalam 3 bulan terakhir ini.

Terbaru, Seorang siswa pelajar SMA, negeri 5 Bandung bernama Muhammad Fadly Arjassubrata (17), Menjadi korban pengeroyokan hingga tewas di kawasan Cihampelas, kota Bandung, Jawa Barat, pada 13 Maret 2026.

Kepala satuan reserse kriminal Polrestabes Bandung ajun komisaris besar Anton mengatakan bahwa pihak penetapan enam tersangka setelah melalui serangkaian penyidikan dari Maret lalu. “Enam pelajar ini diduga sebagai pelaku yang melakukan penganiayaan berujung korban meninggal,” ujarnya. Kompas.com. Selasa (21/04/2026).

Selain kasus diatas masih banyak kasus-kasus lainnya yang melibatkan generasi muda kita saat ini. Bahkan, generasi saat ini sudah masuk dalam rana penyalahgunaan narkoba yang di mana usia penggunanya pun masih sangat muda, bahkan ada yang masih berstatus pelajar aktif.

Hal ini diperparah dengan kemudahan akses terhadap narkoba, baik melalui pergaulan bebas maupun dari jaringan digital yang semakin sulit diawasi. Modus peredarannya pun semakin beragam mulai dari transaksi langsung hingga menggunakan media sosial atau aplikasi pesan sebagai alat transaksinya. Kondisi ini jelas membuktikan bahwa lingkungan pendidikan saat ini tidak lagi steril dari jaringan narkoba, bahkan sekarang menjadi sasaran empuk bagi para pengedar untuk memenuhi target pasarnya.

Sungguh miris tindakan-tindakan semacam ini harus marak terjadi di ruang lingkup pendidikan, yang menandakan bahwa adanya krisis dari aspek pengawasan, nilai moral, dan sistem yang menaunginya. Lingkup sekolah yang seharusnya bisa menjadi tempat aman bagi setiap pelajar dan mahasiswa perlahan terkikis, digantikan oleh ketidakpastian dan kekhawatiran yang mendalam.

Sejatinya, fenomena yang terjadi diatas, seharusnya bisa menjadi alarm keras bagi Hardiknas dan semua pihak baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekolah, untuk segera memperbaiki kembali kondisi buruk di dunia pendidikan saat ini. Namun, sayangnya kondisi ini akan terus seperti ini jika sistem yang digunakan adalah sistem kapitalis sekularisme. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. 

Sistem sekuler saat ini telah mengubah arah pandang dunia pendidikan yang seharusnya bisa membentuk generasi yang cerdas berkualitas tinggi dan membentuk ketahanan syahsiah (kepribadian) Islamiyah yang tangguh pada diri pelajar, terkhususnya generasi muda kita saat ini. Namun, sayangnya mereka justru lebih mudah terjerumus ke dalam perilaku yang jauh dari agama mereka tumbuh menjadi kepribadian yang tidak mempertimbangkan dampak buruk yang terjadi di kedepannya nanti. Jika hal ini terus dibiarkan, yang rusak bukan hanya masa depan individu pelajar saja, tetapi juga akan mengancam kualitas generasi dan masa depan bangsa secara menyeluruh.

Dalam sistem kapitalis sekularisme materi dan keuntungan dalam hal yang utama bagi mereka. Sedangkan pendidikan tidak dipandang sebagai sarana untuk membentuk kepribadian dan karakter yang baik bagi generasi. Bagaimana tidak, jika dari kurikulum pendidikannya, metode pendidikan, lingkungan belajarnya saja, hanya sebagai sarana transfer ilmu bukan bertujuan untuk masa depan generasinya. Pendidikan diadakan hanya untuk dijadikan alat pencetak manusia yang siap untuk memenuhi kebutuhan pasar mereka.

Alhasil, seringkali manusia menepikan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan adab, justru yang terjadi hanya praktek kecurangan, hasil yang instan, persaingan yang tidak sehat, dan menghalalkan segala cara, yang tumbuh subur di kalangan manusia saat ini. Maka, tak heran jika generasi kita saat ini tumbuh menjadi generasi nya agresif. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kasus-kasus yang beredar saat ini. 

Jika kita tetap mempertahankan sistem pendidikan yang mengacu pada sistem kapitalis sekularisme, maka tentu saja arah pendidikan akan kehilangan tujuan hakikinya. Pendidikan yang menganut sistem sekuler hanya terfokus pada pencapaian akademi dan kesuksesan materi saja. Sehingga yang dilihat dari keberhasilan hanya nilai, gelar, dan peluang kerja, bukan dari kualitas moral dan kepribadian. 

Disini lahirlah generasi yang cara berpikir, bersikap, dan bertindak, cenderung sekuler, generasi sekarang sangat jauh dari agama yang membuat mereka lebih fokus pada hasil yang cepat ketimbang usaha yang jujur. Mereka menghalalkan segala cara seperti menyontek, menggunakan jasa joki, demi meraih prestasi yang memuaskan.

Belum lagi diperparah dengan lemahnya sistem sanksi di negara ini, seringkali sanksi yang diberikan terlalu ringan, apalagi dengan alasan si pelaku “masih dibawah umur” hal ini tentu saja tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku kejahatan. Karena hukuman kurang maksimal yang dilakukan oleh negara, berbagai tindakan kejahatan seperti kekerasan, perundungan/bullying, pelecehan, hingga pembunuhan, masih terus terjadi hingga saat ini bahkan semakin parah. Karena dianggap sebagai kenangan biasa yang bisa dimaklumi.

Hasil dari generasi yang minim nilai agama di lingkup pendidikan menjadikan mereka tidak punya rasa tanggung jawab atas apa yang telah dibuatnya. Mereka tak segan untuk mengulangi kesalahan yang sama, karena tidak ada konsekuensi dan efek jera. Kurangnya pemahaman agama di dalam diri generasi membuat mereka tidak mampu membentengi diri sendiri dari berbagai pengaruh buruk. Masalah pendidikan hari ini akan terus berulang jika sistemnya tidak diganti dengan sistem Islam.


Islam Solusinya 

Berbanding terbalik dengan sistem pendidikan dalam Islam yang memandang pendidikan sebagai hal yang strategis untuk membangun peradaban di kedepannya nanti dalam Islam pendidikan bukan sekedar untuk mentransfer ilmu ataupun untuk alat mencari pekerjaan melainkan untuk mencerdaskan generasi dan mengenalkan kepada mereka nilai-nilai agama yang sesuai dengan syariat Islam. Rasulullah saw bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim” (HR Ibnu Majah).

Dari sini sudah jelas bahwa negara Islam mempunyai tujuan yang sangat mulia dalamnya menyelenggarakan pendidikan yakni untuk membangun generasi berkepribadian Islam dan paham tsaqofah Islam.

Negara Islam juga menyediakan pendidikan gratis, fasilitas sekolah yang memadai, dan pengajar yang terbaik, yang pastinya pendidikan di dalam Islam menyediakan kurikulum pendidikan yang berbasis aqidah Islam. Dengan begitu akan lahir generasi yang penuh optimisme dan kreatif dengan ide-ide brilliantnya. 

Hal itu telah dibuktikan dengan catatan sejarah, bahwa sistem pendidikan dalam Islam berhasil mencetak seorang ilmuwan-ilmuwan yang hebat, salah satunya ilmuwan al biruni, yang menguasai banyak bidang astronomi, matematika, geografi, fisik, farmasi, hingga sejarah.

Negara Islam pun akan menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar. Islam tidak memperdulikan status ataupun usia, karena ketika mereka bersalah mereka akan dihukum dengan sesuai syariat Islam. Dengan begitu, pelaku kejahatan akan memiliki efek jera untuk tidak melakukannya lagi, sehingga tindakan menyimpang seperti kekerasan, perundungan atau bullying, pelecehan, pembunuhan, dan tindak kejahatan lainnya tidak akan terjadi lagi.

Dengan adanya sistem sanksi yang tegas, generasi kita akan tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab atas apa yang dibuatnya, dan tidak akan mengulangi kejahatan yang sama karena sudah tahu konsekuensinya.

Demikianlah gambaran ketika sistem yang digunakan adalah sistem Islam yang mampu membawa arah pendidikan sesuai dengan fitrahnya, hingga mampu mengubah pola pikir dan pola sikap manusia sesuai dengan syariat Islam. 

Wallahu alam bisawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar