Oleh : Iky Damayanti, ST
Nilai tukar rupiah memang tengah mengalami tekanan berat dan sempat menyentuh kisaran level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada awal Juni 2026. Pelemahan ini dipicu oleh menguatnya dolar AS secara global, ketidakpastian geopolitik, serta sentimen pasar keuangan domestik. (Tempo.co, 4/6/26)
Pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan ini terjadi bukan sekadar angka mati di papan bursa efek. Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, setiap penurunan kurs adalah alarm bahaya yang langsung memukul wilayah paling sensitif: dompet dan isi piring di meja makan. Melalui pipa-pipa distribusi ekonomi, merosotnya rupiah memicu imported inflation (inflasi akibat kenaikan biaya impor). Harga bahan baku industri melejit, ongkos logistik membubung, dan harga barang pokok pelan tapi pasti mencekik daya beli rakyat yang kian sekarat.
Ironisnya, respons dari menara gading kekuasaan justru mempertontonkan kepasifan yang menggelisahkan. Klaim sepihak bahwa kondisi ekonomi masih aman atau anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak karena tidak bertransaksi dengan dolar, mencerminkan jurang pemisah yang lebar dengan realitas lapangan. Ketika pakan ternak impor mahal dan solar industri naik, harga beras, telur, dan minyak goreng di warung pelosok kampung ikut melesat. Akibat ketiadaan perisai pelindung dari negara, rakyat terpaksa memasuki mode bertahan hidup yang ekstrem hingga terjebak dalam lingkaran setan pinjaman online (pinjol) demi sekeranjang sembako. (CNBCIndonesia, 2/6/26)
Akar Masalah: Cacat Bawaan Sistem Moneter Kapitalisme
Jika dibedah secara sistemik melalui kacamata ekonomi Islam, sebagaimana dikonstruksikan dalam karya monumental Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, An-Nidzam al-Iqtishadi fil Islam, krisis moneter yang berulang ini adalah cacat bawaan dari sistem kapitalisme global. Sistem hari ini bertumpu pada sesuatu yang semu: uang fiat (fiat money).
Uang kertas yang tidak memiliki sandaran komoditas berharga (emas/perak) ini sangat rentan terhadap spekulasi pasar valuta asing dan manipulasi geopolitik internasional. Saat terjadi ketegangan di Timur Tengah, dolar AS sebagai mata uang hegemoni global akan ditarik oleh para pemilik modal besar, meninggalkan mata uang negara berkembang seperti rupiah dalam kondisi limbung dan tak berdaya. Uang fiat sejatinya adalah alat penjajahan gaya baru yang mentransfer kekayaan negeri-negeri Muslim ke pusat kapitalisme global.
Solusi Politik Islam: Restorasi Sistem Moneter dan Pasar yang Adil
Islam menawarkan rekonstruksi radikal dan menyeluruh terhadap kekacauan moneter ini melalui tiga pilar strategis.
Pilar pertama, Kembali ke Standar Emas dan Perak (Bimetallic Standard). Dalam Islam, uang wajib memiliki nilai intrinsik yang stabil. Emas dan perak secara alamiah kebal terhadap inflasi ekstrem karena jumlahnya terbatas di alam. Dengan standar ini, nilai tukar mata uang tidak akan bisa didepresiasi atau diombang-ambingkan oleh kebijakan bank sentral negara lain (seperti The Fed). Stabilitas inilah yang menjadi pondasi kokoh bagi sektor riil.
Pilar Kedua, Menghapus Sektor Non-Riil dan Mengelola Kepemilikan Umum. Ekonomi Islam secara tegas mengharamkan aktivitas spekulatif seperti pasar modal konvensional, transaksi derivatif, dan segala bentuk riba. Uang harus berputar langsung pada sektor produksi riil. Selain itu, sumber daya alam yang melimpah (minyak, gas, batu bara) wajib dikategorikan sebagai Kepemilikan Umum (Al-Milkiyyah Al-Ammah) yang dikelola mutlak oleh negara, di mana hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk energi murah dan fasilitas publik gratis, bukan dikomersialisasi atau dijual ke swasta/asing.
Pilar Ketiga, Perubahan Paradigma Kepemimpinan (Raa'in dan Junnah). Pemimpin dalam Islam bukanlah CEO perusahaan yang melihat rakyat sebagai konsumen. Pemimpin adalah pengurus (raa'in) dan perisai (junnah). Negara berkewajiban penuh menjamin terpenuhinya kebutuhan asasi per individu rakyatnya (pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan) sehingga tidak ada satupun warga yang terpaksa berhutang pada pinjol hanya untuk menyambung hidup.
Pelemahan rupiah adalah bukti nyata rapuhnya sistem keuangan sekuler. Kita tidak bisa terus menggunakan obat pencahar instan berupa utang luar negeri baru atau intervensi pasar yang membakar cadangan devisa. Selama struktur ekonomi masih berkiblat pada uang fiat dan paradigma penguasa bercorak korporat, rakyat akan selalu menjadi tumbal pertama roda inflasi. Sudah saatnya umat beralih pada alternatif Islam yang menawarkan stabilitas moneter mandiri dan kepemimpinan yang tulus menjadi perisai pelindung bagi kesejahteraan rakyat. Perisai ini disebut Daulah Khilafah Islamiyyah.
Wallahu'alam bish-shawwab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar