Oleh : Fitra Asril (Aktivis Muslimah Tamansari, Bogor)
Peringatan 1 Muharram 1448 H di Indonesia sungguh meriah dan istimewa. Betapa tidak, rombongan lapisan masyarakat beranjak dari rumahnya dengan penuh semangat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Momentum yang identik dengan perubahan dan kebangkitan ini, nyatanya berbanding terbalik dengan kondisi umat Islam hari ini.
Kemiskinan tetap menghantui rakyat menengah ke bawah, ancaman krisis juga mengintai semua kalangan, judol makin merajalela, porstitusi anak semakin liar, eksploitasi seksual kian dipertontonkan, hingga isu kekerasan dan kriminalitas tak luput dari sorotan media.
Belum lagi di tingkat global, genosida di Palestina masih terus berlangsung hingga detik ini. Mereka sengaja dibuat kelaparan, sementara penguasa negeri muslim tidak kunjung bergerak mengirimkan pasukan.
Potret cerah yang diharapkan oleh umat, berubah menjadi potret buram. Mirisnya, deretan kabar buruk yang menimpa negeri ini, tidak digubris oleh pemangku kebijakan. Seolah masalah ini hanya menimpa segelintir orang saja, tidak berdampak bagi bangsa dan generasi. Justru bahaya jika masalah sebesar ini tidak mendapat perhatian dari penguasa. Mereka sibuk memperkaya diri dan kelompoknya, sementara rakyat banting tulang hanya untuk mencari sesuap nasi. Ironi sekali bukan?
Pembangunan fisik terus dikebut, sementara rakyat di sekitarnya tinggal di kolong jembatan bahkan ada yang tidak memiliki tempat tinggal. Kasus stunting dan gizi buruk hari demi hari makin mengkhawatirkan.
Para pelaku menyimpang makin melenggang. Kasus LGBT sudah tidak terhitung lagi, mulai dari Sabang sampai Merauke. Para pelaku maksiat lainnya pun tidak kalah eksis. Mereka yang hamil di luar nikah, akhirnya terpaksa putus sekolah dan memilih jalan aborsi. Na'udzhubillah.
Institusi keluarga kian rapuh. Terbukti dengan banyaknya antrian di Pengadilan Agama yang didominasi oleh kaum hawa, guna mengajukan cerai gugat terhadap pasangannya. Alasannya beragam, mulai dari perselingkuhan hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Melihat kondisi hari ini, umat tidak pasrah begitu saja. Suara perubahan senantiasa dikumandangkan. Rakyat kian jengah dengan semua permasalahan yang mendera mereka, bukan hanya disebabkan oleh individu mereka sendiri, namun ulah penerapan sistem yang amburadul. Hanya saja, perubahan yang mereka tuntut masih belum mendasar, masih terfokus pada pergantian orang. Padahal jika ditelaah lebih dalam, semua persoalan yang terjadi adalah cabang dari satu akar persoalan, yakni diterapkannya sistem sekuler yang meniadakan Tuhan dalam kehidupan mereka. Dimana aturan tersebut lahir dari akal pikir manusia yang terbatas dan lemah.
Predikat "Umat Terbaik" yang dulu pernah dinobatkan kepada umat Islam kini tinggal kenangan. Peradaban Islam yang pernah menaungi umat selama 14 abad, kini dikubur dalam-dalam oleh para pembenci Islam. Umat dibuat tidak berdaya untuk meraih kembali kebangkitan yang Allah SWT dan Rasulullah Saw janjikan. Umat Islam didesain keropos dari dalam hingga terpecah menjadi 57 negara di seluruh belahan dunia. Alhasil, mereka tunduk pada kekuatan kafir dan pemimpin-pemimpin mereka pun disetir untuk mau mengikuti setiap kebijakannya.
Sejatinya, Muharram adalah momentum refleksi bahwa kenestapaan ini akibat jauhnya umat dari aturan Allah, bukan takdir yang harus diterima. Momentum hijrah bukan hanya berkaitan dengan diri kita saja, tapi juga berkaitan dengan umat dan masa depan peradaban. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw dan para sahabat, tegaknya masyarakat Islam pertama di Madinah.
Hijrahnya Rasul bukanlah hijrah biasa. Keselamatan risalah Islam beserta umat manusia menjadi tonggak utama. Pengorbanan, kesabaran, dan tekad yang kuat senantiasa terpatri dalam setiap langkah perjalanan hijrahnya.
Menyerah pada keadaan tidak pernah dicontohkan Rasul. Perubahan harus terus digelorakan, serta memperjuangkan nilai-nilai Islam di tengah rintangan yang ada.
Oleh karena itu, menjadi tugas kita untuk meluruskan kembali makna hijrah dan perubahan. Hijrah dan perubahan adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Berjuang mencampakkan sistem demokrasi sekuler termasuk didalamnya. Mewujudkan tegaknya syari'at Islam dalam seluruh aspek kehidupan adalah keniscayaan. Hijrah yang seperti inilah yang dipastikan akan mengembalikan predikat "Khairu Ummah" yang telah lama hilang itu. Bukan hanya romantisme sejarah yang termakan waktu, namun janji dan kabar gembira yang disampaikan Rasulullah saw kepada seluruh umatnya. Allah SWT berfirman : "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS.Ali Imran ayat 110)
Wallahu a'lam bisshowab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar