Oleh : Dwi March Trisnawaty S. EI
Rupiah dinilai semakin mengkhawatirkan, depresiasi rupiah terhadap dollar telah memporak-porandakan seluruh sektor perekonomian Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS meraih rekor baru terlemah sepanjang sejarah. Pada jumat (15/05) per satu dollar terjun di angka Rp17.600. Dampaknya, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari masyarakat ataupun biaya hidup semakin mahal. Seperti yang diketahui bahwasannya ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku dan energi melalui impor hampir mencapai 70% (bbc.com, 16/05/2026).
Di sisi lain, kondisi rakyat kian terhimpit serta semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semua kebutuhan pokok naik signifikan, sedangkan gaji pas-pasan dan phk menghantui akibat banyak perusahaan harus efisensi imbas rupiah melemah. Solusi cepat dan mudah mendapatkan uang terfasilitasiyaitu dengan pinjol. Tidak sedikit rakyat terjerat pinjol, OJK mencatat industri pinjaman online atau pinjol menembus angka Rp98,54 triliun per Januari 2026 (finansial.bisnis.com, 03/03/2026).
Krisis kian terlihat dengan kondisi rakyat yang serba sulit, namun pihak pemerintah membantah adanya krisis, collapse, atau chaos di masa akan datang. Karena pemerintah memandang bahwa apa yang dialami masyarakat dinilai masih tetap aman. Ditegaskan juga, kondisi pangan dan energi nasional masih tersedia di tengah gejolak global yang tidak menentu (Kompas.com, 16/05/2026).
Pelemahan rupiah terhadap dolar salah satunya dipicu oleh konstelasi politik internasional, yakni konflik antara AS dan Iran berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global. Konflik tersebut berdampak pada harga minyak dunia akibat ditutupnya Selat Hormuz, hal ini memperburuk beban ekonomi Indonesia yang masih bergantung bahan baku dari Impor. Sehingga biaya hidup semakin mencekik, daya beli masyarakat ikut menurun sementara pendapatan masyarakat cenderung stagnan. Ketidakpekaan pemerintah terhadap realitaskondisi masyarakat semakin memperparah kondisi tersebut. Kebijakan yang diambil tidak mampu menyelesaikan problematika ekonomi hari ini.
Pada akhirnya, masyarakat harus menanggung beban ekonomi secara mandiri akibat ketidakoptimalan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hidup dalam tatanan sistem sekuler kapitalisme akan melahirkan kebijakan yang tidak sesuai dengan persoalan riil rakyat. Karena paradigma negara dalam sekuler kapitalis bertindak sebagai regulator bukan sebagai pelindung dan pelayan bagi rakyat. Bagi negara, rakyat hanyalah alat bisnis untuk memperkokoh ekonomi melalui jeratan utang ribawi.
Sistem ekonomi Islam menawarkan konsep penggunaan emas dan perak sebqgai dasar sistem keuangan yang lebih stabil. Berbeda dengan mata uangkertas (fiat money) sangat dipengaruhi oleh kebijakan negara besar dan pasar global, emas dan perak dinilai mampu menjaga kestabilan nilai dan mengurangi risiko inflasi yang berlebihan. Selain itu, dalam sistem ekonomi Islam negara merupakan pihak yang wajib menjaga kestabilan harga dan melindungi kebutuhan masyarakat. Hal tersebut dilakukan melalui mekanisme yang diatur dalam syariat seperti larangan riba, pentingnya distribusi kekayaan agar tidak hanya berpusat pada kelompok tertentu, pengaturan kepemilikan dll.
Kesejahteraan masyarakat adalah tanggung jawab utama bagi pemimpin. Karena pemimpin dipandang sebagai ra’in (pengurus rakyat)sekaligus junnah (pelindung) yang memiliki kewajiban untuk menjaga dan melindungi masyarakat dari berbagai bentuk kesulitan hidup. Khalifah akan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan rakyat. Dengan begitu, negara tidak boleh membiarkan masyarakat menghadapi kesulitan hidup secara sendiri, melainkan harus aktif menciptakan sistem ekonomi yang adil, menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok, membuka lapangan pekerjaan, serta mengawasi distribusi kekayaan agar tidak terjadi ketimpangan sosial.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar