Oleh: Ummu Anjaly, S.K.M
Gelak tawa yang seharusnya menghiasi masa kanak-kanak di Gaza kini berganti dengan kesunyian yang memilukan. Bukan karena mereka memilih diam, melainkan karena penderitaan yang begitu berat telah merampas kemampuan mereka untuk berbicara. Di tengah reruntuhan rumah, kehilangan anggota keluarga, dan ancaman kematian yang terus mengintai, anak-anak Gaza menjalani kehidupan yang jauh dari makna masa kecil yang semestinya.
Ketika Trauma Membungkam Suara Anak
Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, yang menangani anak-anak di Gaza menyampaikan bahwa setiap anak di Gaza mengalami trauma. Ia menggambarkan kondisi psikologis mereka sebagai situasi yang sangat mengkhawatirkan akibat paparan kekerasan yang berlangsung terus-menerus. Lebih dari satu juta anak di Gaza menderita trauma psikologis berat akibat perang, kehilangan orang-orang yang dicintai, pengungsian, dan ketidakpastian hidup yang berkepanjangan. (BBC Indonesia, 31 Mei 2026)
Sumber berita: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c8d82vr7385o)
Salah satu dampak paling memilukan dari trauma tersebut adalah hilangnya kemampuan berbicara pada sebagian anak. Para psikolog menemukan semakin banyak kasus mutisme psikologis, yakni kondisi ketika anak mendadak tidak mampu berbicara setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat traumatis. Selain itu, anak-anak Gaza juga mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, kecemasan berat, ketakutan ekstrem terhadap suara ledakan, hingga gangguan fisik seperti kerontokan rambut, penurunan daya tahan tubuh, dan vitiligo akibat stres berkepanjangan. (BBC Indonesia, 31 Mei 2026)
Berbagai laporan organisasi internasional menunjukkan bahwa mayoritas anak Gaza hidup dalam kondisi trauma kompleks. Mereka tumbuh dalam ketakutan, kehilangan rasa aman, dan terus menghadapi ancaman kekerasan. Bahkan para ahli memperingatkan bahwa stres ekstrem yang berlangsung lama dapat memengaruhi perkembangan otak anak, terutama bagian yang mengatur emosi dan kemampuan merespons ancaman. Trauma yang mereka alami bukan hanya luka sesaat, tetapi berpotensi membentuk generasi yang harus menanggung dampaknya sepanjang hidup.
Buah Kejahatan Zionis dan Lemahnya Dunia
Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza bukanlah bencana alam yang terjadi tanpa sebab. Kondisi ini merupakan akibat langsung dari kejahatan entitas Zionis yang terus melakukan serangan, pembunuhan, pengepungan, dan penghancuran fasilitas kehidupan di Gaza. Anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara sesungguhnya sedang menunjukkan betapa dahsyatnya luka yang ditimbulkan oleh kekerasan sistematis yang mereka saksikan setiap hari.
Apa yang terjadi di Gaza tidak hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga berupaya menghancurkan masa depan generasi Palestina. Serangan yang berlangsung terus-menerus telah menciptakan penderitaan fisik sekaligus tekanan mental yang luar biasa. Karena itu, banyak pihak menilai bahwa skenario yang terjadi bukan sekadar perang, melainkan bagian dari upaya genosida yang bertujuan menghancurkan rakyat Palestina secara fisik maupun psikologis.
Yang lebih menyedihkan, dunia hingga kini belum mampu menghentikan kejahatan tersebut. Berbagai kecaman, resolusi, dan bantuan kemanusiaan yang diberikan belum cukup untuk mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Bantuan makanan dan layanan kesehatan memang penting, tetapi tidak mampu menghentikan bom yang terus berjatuhan. Anak-anak Gaza tidak hanya membutuhkan terapi trauma, melainkan juga membutuhkan keamanan dan kebebasan dari penjajahan.
Di sisi lain, banyak penguasa negeri-negeri Muslim dinilai gagal menjalankan peran strategis dalam membela Palestina. Sebagian hanya menyampaikan kecaman diplomatik, sementara sebagian lainnya tetap menjalin hubungan dengan pihak yang mendukung penjajahan Israel. Akibatnya, rakyat Palestina terus berjuang hampir sendirian menghadapi agresi yang berlangsung tanpa henti.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa umat Islam saat ini kehilangan institusi politik yang mampu menjadi perisai dan pelindung bagi kaum Muslim di berbagai wilayah. Ketika tidak ada kekuatan yang menyatukan dan melindungi umat, tragedi seperti yang terjadi di Palestina terus berulang tanpa mampu dihentikan secara tuntas.
Solusi Islam
Penderitaan anak-anak Palestina tidak boleh berhenti pada simpati dan terapi psikologis semata. Akar masalahnya adalah penjajahan yang masih berlangsung di tanah Palestina. Selama penjajahan itu tetap ada, maka trauma, kehilangan, dan penderitaan akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, solusi mendasar adalah membebaskan Palestina dari penjajahan sehingga rakyatnya dapat hidup aman dan merdeka.
Islam memerintahkan kaum Muslim untuk membela saudara-saudaranya yang tertindas. Allah Swt. berfirman: "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim...'." (QS An-Nisa [4]: 75).
Ayat ini menunjukkan bahwa membela kaum tertindas merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Ketika anak-anak, perempuan, dan masyarakat sipil menjadi korban kezaliman, umat Islam tidak diperintahkan untuk berpangku tangan, melainkan berusaha menghilangkan kezaliman tersebut.
Dalam pandangan Islam, kejahatan penjajahan harus dilawan dengan jihad fi sabilillah yang dipimpin oleh negara. Karena itu, dibutuhkan institusi Khilafah yang memiliki kekuatan politik dan militer untuk melindungi kaum Muslim serta membebaskan wilayah yang terjajah. Dengan persatuan umat di bawah satu kepemimpinan, potensi besar dunia Islam dapat diarahkan untuk menghentikan kezaliman dan mengakhiri penderitaan rakyat Palestina.
Oleh sebab itu, kesadaran perjuangan untuk menegakkan kembali institusi yang menyatukan kaum Muslim menjadi perkara penting. Bukan sekadar demi persatuan umat, tetapi juga sebagai jalan untuk menghadirkan perlindungan nyata bagi rakyat Palestina. Anak-anak Gaza tidak hanya membutuhkan dunia yang berempati pada tangis mereka, tetapi juga kekuatan yang mampu menghentikan sumber penderitaan mereka. Hanya dengan berakhirnya penjajahan, suara-suara yang kini dibungkam trauma dapat kembali terdengar, dan masa depan generasi Palestina dapat dibangun kembali dengan harapan. []
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar